Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1023 tentang Tata cara takbir dalam gerakan shalat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan dengan sangat jelas tata cara shalat Nabi ﷺ dalam hal takbir. Intinya, Nabi ﷺ bertakbir pada setiap perpindahan gerakan shalat: takbiratul ihram, takbir ketika hendak ruku', takbir ketika hendak sujud, takbir ketika bangun dari sujud, dan takbir ketika berdiri dari tasyahhud awal. Hadits ini juga menunjukkan bahwa para sahabat sangat perhatian dalam menjaga dan mencontohkan shalat Nabi ﷺ kepada generasi setelahnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 1023) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 803) dan Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 392) dengan redaksi yang semakna.

Dalil dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

"Dan dari mana saja engkau keluar (datang), maka hadapkanlah wajahmu kepada Masjidil Haram. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Ahli Kitab) benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-Baqarah [2]: 149)

Ayat ini menunjukkan perintah untuk mengikuti petunjuk Allah dalam ibadah, termasuk shalat. Meskipun ayat ini berbicara tentang kiblat, namun prinsipnya adalah bahwa setiap ibadah harus sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Hadits terkait:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku adalah orang yang paling mirip shalatnya dengan Rasulullah ﷺ di antara kalian." (HR. Al-Bukhari no. 803)

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu dalil utama dalam masalah takbir dalam shalat. Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjadikan hadits ini sebagai landasan bahwa setiap perpindahan gerakan dalam shalat disertai dengan takbir, kecuali ketika bangun dari ruku' yang diucapkan adalah "Sami' Allahu liman hamidah" dan ketika berdiri dari tasyahhud awal yang diucapkan adalah takbir.

Pendapat Ulama:

  1. Imam Asy-Syafi'i dalam Al-Umm menjelaskan bahwa sunnah dalam shalat adalah bertakbir pada setiap turun dan naik, kecuali bangun dari ruku' yang diganti dengan tahmid. Beliau berdalil dengan hadits Abu Hurairah ini dan hadits-hadits lain yang semakna.
  2. Imam Ahmad bin Hanbal juga berpendapat demikian. Beliau menyatakan bahwa takbir dilakukan pada setiap perpindahan gerakan, dan ini adalah pendapat yang dipegang oleh jumhur ulama.
  3. Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Shahih-nya pada bab "Takbir ketika Ruku'" dan bab-bab lain yang berkaitan dengan takbir dalam shalat, menunjukkan bahwa beliau menjadikan hadits ini sebagai hujjah dalam masalah tersebut.
  4. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin dan kitab-kitabnya yang lain menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan tata cara shalat Nabi ﷺ secara praktis. Beliau menegaskan bahwa para sahabat sangat teliti dalam menjaga sunnah Nabi ﷺ, bahkan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berani bersumpah bahwa shalatnya adalah yang paling mirip dengan shalat Nabi ﷺ.
  5. Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa-nya menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa takbir dilakukan pada setiap perpindahan gerakan shalat, dan ini adalah sunnah yang harus dijaga oleh setiap muslim.

Hikmah dari hadits ini:

  • Para sahabat sangat perhatian dalam menjaga sunnah Nabi ﷺ, bahkan mereka bersumpah untuk menegaskan kebenaran apa yang mereka sampaikan.
  • Shalat adalah ibadah yang telah dicontohkan secara detail oleh Nabi ﷺ, sehingga kita tidak boleh beribadah dengan cara yang tidak dicontohkan.
  • Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, meskipun beliau adalah gubernur Madinah saat itu, tetap menunjukkan ketawadhu'an dan keilmuan dengan mengajarkan tata cara shalat kepada masyarakat.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Beliau tinggal di Shuffah (serambi Masjid Nabawi) dan selalu dekat dengan Rasulullah ﷺ. Ketika beliau diangkat menjadi gubernur Madinah oleh Marwan bin Al-Hakam, beliau tidak serta-merta meninggalkan tugas dakwahnya.

Suatu hari, setelah selesai shalat, beliau menoleh kepada jamaah dan berkata dengan penuh keyakinan: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku adalah orang yang paling mirip shalatnya dengan Rasulullah ﷺ di antara kalian."

Ucapan ini bukanlah sombong, tetapi merupakan bentuk keilmuan dan kejujuran seorang sahabat yang telah menyaksikan langsung bagaimana Nabi ﷺ shalat. Beliau ingin mengajarkan kepada umat bahwa shalat harus sesuai dengan tuntunan Nabi ﷺ, bukan berdasarkan hawa nafsu atau kebiasaan yang tidak ada dalilnya.

Imam Az-Zuhri, yang meriwayatkan hadits ini dari Abu Salamah, adalah salah satu ulama tabi'in yang sangat dihormati. Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat teliti dalam meriwayatkan hadits dan menjadi rujukan utama dalam ilmu hadits di zamannya.

Kesimpulan Praktis

  1. Bertakbir pada setiap perpindahan gerakan shalat — takbiratul ihram, takbir ketika hendak ruku', takbir ketika hendak sujud, takbir ketika bangun dari sujud, dan takbir ketika berdiri dari tasyahhud awal.
  2. Mengucapkan "Sami' Allahu liman hamidah" ketika bangun dari ruku' dan "Rabbana wa lakal-hamd" setelahnya.
  3. Menjaga kekhusyukan dan ketertiban dalam shalat dengan mengikuti tata cara yang dicontohkan Nabi ﷺ.
  4. Bersemangat dalam mempelajari dan mengajarkan sunnah sebagaimana para sahabat dan ulama terdahulu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.