Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 940 tentang Kisah kafan Mus'ab bin Umair yang sederhana

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang keutamaan berhijrah dan berjuang di jalan Allah dengan ikhlas, serta bagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan tata cara mengkafani jenazah ketika kain kafan tidak mencukupi. Intinya, jika kain kafan terbatas, maka dahulukan menutup bagian kepala (aurat yang lebih utama), dan bagian tubuh lainnya dapat ditutup dengan sesuatu yang ada, seperti rumput (idzkhir). Hadits ini juga menunjukkan keutamaan Mus'ab bin 'Umair yang syahid dengan keadaan sangat sederhana, namun mulia di sisi Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Jenazah, Bab "Dalam Kafan Mayit", no. 940, dari sahabat Khabbab bin al-Aratt radhiyallahu 'anhu.

Teks Arab Hadits (bagian inti):

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «ضَعُوهَا مِمَّا يَلِي رَأْسَهُ وَاجْعَلُوا عَلَى رِجْلَيْهِ الإِذْخِرَ»

Terjemahan: Rasulullah ﷺ bersabda: "Letakkanlah kain itu di sisi kepalanya, dan tutuplah kedua kakinya dengan rumput idzkhir."

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

"Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki." (QS. Ali 'Imran [3]: 169)

Kaitan dengan Ulama:

Para ulama dari kalangan Salaf dan Khalaf menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa dalam mengkafani jenazah, jika kain tidak mencukupi, maka yang didahulukan adalah menutup bagian kepala, karena kepala adalah bagian tubuh yang paling mulia dan aurat yang paling utama untuk ditutup. Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya menggunakan selain kain untuk menutup bagian tubuh yang tidak tertutup kain kafan, seperti rumput atau daun.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Keutamaan Hijrah dan Ikhlas dalam Beramal

Khabbab bin al-Aratt radhiyallahu 'anhu memulai dengan menyebutkan bahwa mereka berhijrah bersama Rasulullah ﷺ di jalan Allah, mencari wajah Allah semata. Ini menunjukkan bahwa amal yang diterima adalah amal yang dilandasi keikhlasan. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa keikhlasan adalah ruh dari setiap amal, dan hijrahnya para sahabat adalah bukti nyata keikhlasan mereka, karena mereka meninggalkan harta, keluarga, dan kampung halaman hanya untuk mencari ridha Allah.

2. Keutamaan Syahid dan Kemuliaan Mus'ab bin 'Umair

Mus'ab bin 'Umair adalah salah satu sahabat yang mulia. Beliau adalah duta pertama Islam di Madinah sebelum hijrah. Beliau gugur dalam Perang Uhud dalam keadaan yang sangat sederhana. Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Riyadhush Shalihin menyebutkan bahwa keadaan syuhada yang sederhana di dunia justru menunjukkan tingginya kedudukan mereka di sisi Allah. Mereka tidak menikmati pahala di dunia, tetapi pahala mereka disimpan penuh di akhirat.

3. Tata Cara Mengkafani Jenazah Ketika Kain Tidak Mencukupi

Ini adalah inti dari bab ini. Para ulama menjelaskan bahwa jika kain kafan tidak mencukupi untuk menutup seluruh tubuh, maka yang didahulukan adalah menutup kepala, karena kepala adalah bagian yang paling mulia dan aurat yang paling utama. Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa jika kain hanya cukup untuk menutup sebagian tubuh, maka tutuplah kepala terlebih dahulu, kemudian bagian tubuh lainnya ditutup dengan sesuatu yang ada, seperti daun, rumput, atau kain lainnya.

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim (jilid 7, hlm. 12) menjelaskan bahwa perintah Nabi ﷺ untuk meletakkan kain di sisi kepala dan menutup kaki dengan idzkhir (sejenis rumput harum) menunjukkan bahwa dalam keadaan darurat, boleh menggunakan bahan selain kain untuk menutup aurat mayit. Ini adalah bentuk rukhsah (keringanan) dalam kondisi terpaksa.

4. Perbedaan Kondisi Manusia di Dunia

Di akhir hadits, Khabbab berkata: "Dan di antara kami ada yang buahnya sudah masak dan ia menikmatinya." Ini merujuk kepada para sahabat yang hidup lebih lama dan menikmati kehidupan di dunia setelah hijrah. Ini menunjukkan bahwa Allah memberikan rezeki dan kenikmatan dunia kepada siapa yang Dia kehendaki, namun yang terbaik adalah mereka yang tidak terlena dengan dunia dan tetap istiqamah di jalan Allah. Syeikh Abdurrahman as-Sa'di rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa kenikmatan dunia hanyalah sementara, sedangkan kenikmatan akhirat adalah yang kekal.

Story Telling

Ada kisah yang sangat menyentuh tentang Mus'ab bin 'Umair radhiyallahu 'anhu. Beliau adalah pemuda Quraisy yang kaya raya dan sangat dimanjakan oleh ibunya. Sebelum masuk Islam, beliau hidup dalam kemewahan, memakai pakaian terbaik dan wewangian termahal. Namun setelah masuk Islam, beliau rela meninggalkan semua itu demi Allah dan Rasul-Nya.

Ketika beliau gugur di Perang Uhud, kain kafan yang tersedia hanyalah selembar kain wol yang sangat pendek. Jika menutup kepala, kakinya terbuka; jika menutup kaki, kepalanya terbuka. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Tutuplah kepalanya dan letakkanlah idzkhir di atas kakinya."

Kisah ini mengajarkan kita bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak diukur dengan harta dan kemewahan dunia, tetapi dengan keimanan dan pengorbanannya di jalan Allah. Mus'ab bin 'Umair yang dulunya hidup mewah, wafat dalam keadaan hanya memiliki selembar kain untuk kafannya, namun beliau adalah salah satu penghuni surga yang mulia.

Kesimpulan Praktis

  1. Ikhlas dalam beramal adalah kunci diterimanya amal di sisi Allah, sebagaimana para sahabat berhijrah hanya mencari wajah Allah.
  2. Keutamaan syahid sangat besar, dan keadaan dunia yang sederhana tidak mengurangi kemuliaan seseorang di sisi Allah.
  3. Dalam mengkafani jenazah, jika kain tidak mencukupi, dahulukan menutup kepala, lalu tutup bagian lainnya dengan bahan yang tersedia.
  4. Jangan terlena dengan dunia, karena kenikmatan dunia hanyalah sementara, sedangkan akhirat adalah yang kekal.
  5. Bersyukurlah atas nikmat Allah, dan gunakan harta untuk kebaikan, bukan untuk bermegah-megahan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.