Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan tentang empat perkara sisa-sisa kebiasaan jahiliyah yang masih melekat pada sebagian umat Nabi ﷺ, yaitu: membanggakan kemuliaan nenek moyang, mencela nasab orang lain, mengaitkan turunnya hujan kepada bintang-bintang, dan meratapi mayat. Khusus untuk peratap mayat (an-nā'ihah), ancamannya sangat berat jika tidak bertobat sebelum wafat, yaitu akan dipakaikan pakaian dari cairan tembaga (qathiran) dan baju dari penyakit kudis (jarab) pada hari kiamat. Ini menunjukkan betapa besarnya dosa meratap, karena ia mengandung sikap tidak ridha terhadap takdir Allah dan dusta dalam perkataan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits yang dimaksud:
Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan) adalah:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا أَبَانُ بْنُ يَزِيدَ، ح وَحَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ - وَاللَّفْظُ لَهُ - أَخْبَرَنَا حَبَّانُ بْنُ هِلاَلٍ، حَدَّثَنَا أَبَانٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، أَنَّ زَيْدًا، حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا سَلاَّمٍ حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا مَالِكٍ الأَشْعَرِيَّ حَدَّثَهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: "أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِي الأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الأَنْسَابِ وَالاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ" وَقَالَ: "النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ"
Makna ringkas: Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa di antara umatnya masih ada empat kebiasaan jahiliyah yang tidak mereka tinggalkan, lalu beliau menyebutkan ancaman khusus bagi wanita yang meratapi mayat.
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah ﷺ berfirman tentang larangan berkata dusta dan bersikap berlebihan dalam musibah:
وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ
"Dan orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, dan apabila mereka marah, mereka memberi maaf." (QS. Asy-Syura [42]: 37)
Juga firman Allah tentang larangan berputus asa dari rahmat Allah:
وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
"Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir." (QS. Yusuf [12]: 87)
Kaitan dengan ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan haramnya meratap (an-niyāhah) dan bahwa peratap mendapat ancaman berat jika tidak bertobat.
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari saat menjelaskan hadits-hadits tentang niyāhah menegaskan bahwa meratap termasuk dosa besar karena mengandung dusta, berlebihan, dan ketidakridhaan terhadap takdir.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa empat perkara ini adalah kebiasaan buruk yang harus ditinggalkan oleh umat Islam karena bertentangan dengan tauhid dan kesempurnaan iman.
Penjelasan Rinci
Empat Perkara Jahiliyah yang Disebutkan
1. Al-Fakhr fil-Ahsāb (membanggakan kedudukan/kehormatan)
Yaitu seseorang membanggakan kemuliaan nenek moyangnya, pangkatnya, atau kedudukannya di hadapan orang lain dengan tujuan merendahkan mereka. Ini adalah kesombongan yang dibenci Allah. Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa kesombongan adalah penyakit hati yang pertama kali muncul dari iblis ketika ia membanggakan asal-usulnya (dari api) dan merendahkan Adam (dari tanah).
2. Ath-Tha'n fil-Ansāb (mencela nasab orang lain)
Yaitu mencela, menghina, atau merendahkan garis keturunan seseorang. Ini termasuk perbuatan yang diharamkan karena nasab adalah kehormatan yang Allah tetapkan. Dalam hadits lain, Nabi ﷺ bersabda: "Dua golongan dari umatku yang tidak akan aku beri syafa'at: pemimpin yang zalim dan orang yang ghuluw (melampaui batas) dalam agama." Mencela nasab termasuk bentuk kezaliman terhadap kehormatan orang lain.
3. Al-Istisqā' bin-Nujūm (meminta hujan dengan bintang)
Yaitu mengaitkan turunnya hujan kepada bintang-bintang atau musim tertentu, seperti mengatakan: "Kita mendapat hujan karena bintang ini atau karena musim ini." Ini termasuk perbuatan syirik kecil karena menjadikan selain Allah sebagai sebab yang berdiri sendiri. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa orang-orang Arab jahiliyah memiliki kebiasaan mengaitkan hujan dengan munculnya bintang tertentu, dan Nabi ﷺ melarang hal ini karena hujan semata-mata karunia Allah.
4. An-Niyāhah (meratap)
Yaitu meratapi mayat dengan suara tangisan yang keras, merobek-robek pakaian, menampar pipi, dan mengucapkan perkataan-perkataan yang mengandung dusta seperti: "Wahai pelindungku! Wahai penolongku!" dan semacamnya. Ini adalah perbuatan yang sangat dilarang karena:
- Mengandung ketidakridhaan terhadap takdir Allah
- Mengandung dusta dalam pujian kepada mayat
- Menimbulkan kegaduhan dan kesedihan yang berlebihan
Ancaman Khusus bagi Peratap
Sabda Nabi ﷺ: "Peratap jika tidak bertobat sebelum matinya, akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan mengenakan pakaian dari qathiran (cairan tembaga yang mendidih) dan baju dari jarab (penyakit kudis yang gatal)."
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah ancaman yang sangat berat. Qathiran adalah tembaga yang dilebur, dan jarab adalah penyakit kulit yang sangat gatal. Ini menunjukkan bahwa balasan bagi peratap adalah sesuatu yang menyakitkan dan menghinakan, karena ia telah menyakiti hati orang-orang yang ditinggalkan dengan ratapannya dan menampakkan ketidakridhaan kepada Allah.
Syaikh al-Utsaimin menambahkan bahwa ancaman ini khusus bagi peratap yang tidak bertobat. Adapun jika ia bertobat sebelum mati, maka Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ini menunjukkan pintu tobat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan.
Hikmah Larangan Meratap
Meratap dilarang karena beberapa alasan:
- Bertentangan dengan kesabaran yang diperintahkan Allah. Allah berfirman: "Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." (QS. Al-Baqarah [2]: 155-156)
- Mengandung dusta, karena peratap sering memuji mayat dengan hal-hal yang tidak benar.
- Menyakiti mayat, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya mayat akan disiksa karena tangisan keluarganya atasnya." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar)
- Menampakkan ketidakridhaan terhadap ketetapan Allah, padahal orang beriman harus menerima takdir dengan lapang dada.
Story Telling
Diriwayatkan dari Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa ketika putra Nabi ﷺ yaitu Ibrahim wafat, beliau menangis. Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, engkau menangis?" Beliau menjawab: "Mataku menangis, hatiku bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai Allah. Dan kami bersedih karena berpisah denganmu, wahai Ibrahim."
Dalam riwayat lain, ketika Nabi ﷺ menangis untuk putranya, beliau bersabda: "Sesungguhnya air mata mengalir dan hati bersedih, dan kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai Rabb kami." (HR. Al-Bukhari no. 1303)
Hikmah dari kisah ini: Nabi ﷺ mengajarkan kita bahwa menangis karena kehilangan orang yang dicintai adalah fitrah manusia yang tidak dilarang. Yang dilarang adalah meratap dengan suara keras, merobek pakaian, menampar pipi, dan mengucapkan perkataan yang mengandung ketidakridhaan. Kesedihan yang wajar dengan tetap bersabar dan ridha terhadap takdir Allah adalah sikap yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Tinggalkan membanggakan diri dengan kedudukan, harta, atau nasab. Semua itu adalah ujian, bukan kehormatan yang hakiki. Kehormatan sejati adalah ketakwaan.
- Jangan mencela nasab orang lain. Setiap orang memiliki kemuliaan di sisi Allah berdasarkan amalnya, bukan garis keturunannya.
- Jangan mengaitkan turunnya hujan atau rezeki kepada selain Allah. Semua terjadi dengan takdir dan karunia Allah semata.
- Jauhi meratapi mayat. Jika tertimpa musibah, ucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, bersabarlah, dan jangan berlebihan dalam menampakkan kesedihan.
- Segera bertobat jika pernah melakukan perbuatan-perbuatan tersebut, karena pintu tobat terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.