Penjelasan Hadits Muslim No. 870 tentang Larangan mengucapkan taat kepada Rasul secara terpisah dalam khutbah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab yang sangat penting bagi seorang khatib atau penceramah: menjaga keagungan nama Allah ﷻ dalam susunan kalimat. Rasulullah ﷺ melarang menggabungkan nama Allah dan nama Rasul-Nya dengan satu kata ganti ("keduanya") dalam konteks kemaksiatan, karena hal itu bisa menyiratkan kesetaraan derajat. Beliau memerintahkan untuk menyebut nama Allah secara terpisah dan sempurna, lalu menyebut Rasul-Nya setelahnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Al-Jumu'ah, Bab Takhfifish Shalati wal Khutbah (Bab Ringannya Shalat dan Khutbah), no. 870, dari sahabat 'Adi bin Hatim Ath-Tha'i radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits yang Anda sertakan sudah lengkap dengan sanad dan matannya. Berikut poin pentingnya:

Rasulullah ﷺ bersabda:

"بِئْسَ الْخَطِيبُ أَنْتَ"

"Betapa buruknya kamu sebagai khatib."

Lalu beliau memerintahkan:

"قُلْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ"

"Katakanlah: 'Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya.'"

Kaitan dengan ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (jilid 6, hlm. 153-154) menjelaskan makna larangan ini secara panjang lebar.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani juga membahasnya dalam Fathul Bari saat mengomentari riwayat serupa dari jalur lain.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan hikmah larangan Nabi ﷺ ini dengan sangat indah:

1. Penjelasan Imam An-Nawawi

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam Syarah Shahih Muslim: "Makna larangan ini adalah karena orang itu mengucapkan 'wa man ya'shihima' (barangsiapa mendurhakai keduanya), sehingga dia menggabungkan Allah dan Rasul-Nya dengan satu kata ganti. Ini menyiratkan kesetaraan dalam konteks kemaksiatan. Maka Nabi ﷺ memerintahkannya untuk memisahkan penyebutan, dengan mengucapkan 'wa man ya'shillaha wa rasulahu' (barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya), agar tidak ada kesan menyamakan kedudukan Allah dengan makhluk-Nya dalam lafazh."

2. Hikmah di balik larangan ini

  • Menjaga tauhid dan keagungan Allah ﷻ: Dalam masalah ketaatan, menggabungkan nama Allah dan Rasul-Nya dalam satu kata ganti ("keduanya") tidak masalah, karena ketaatan kepada Rasul adalah bagian dari ketaatan kepada Allah. Namun dalam konteks kemaksiatan, menggabungkan keduanya dengan satu kata ganti bisa menimbulkan kesan bahwa keduanya setara dalam derajat ketuhanan—padahal Allah Maha Suci dari itu.
  • Adab berbicara tentang Allah: Seorang muslim, terutama khatib dan penceramah, harus sangat berhati-hati dalam menyusun kalimat yang berkaitan dengan Allah ﷻ. Ini adalah bentuk ta'dhim (pengagungan) kepada Allah.
  • Pentingnya memilih lafazh dalam dakwah: Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa seorang khatib harus teliti dalam memilih kata-kata, karena kata-kata yang keluar dari lisannya didengar oleh jamaah dan bisa mempengaruhi pemahaman mereka.

3. Pandangan ulama tentang bolehnya menggabungkan dalam konteks ketaatan

Para ulama menjelaskan bahwa dalam konteks ketaatan, seperti firman Allah:

"وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ"

"Dan taatilah Allah dan taatilah Rasul." (QS. Al-Maidah [5]: 92)

Di sini Allah menyebutkan ketaatan kepada-Nya dan ketaatan kepada Rasul secara terpisah, namun dalam beberapa ayat lain Allah menggabungkan keduanya dalam satu perintah, seperti:

"أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ"

"Taatilah Allah dan Rasul-Nya." (QS. Al-Anfal [8]: 1)

Ini menunjukkan bahwa dalam konteks ketaatan, penggabungan itu dibenarkan karena ketaatan kepada Rasul adalah bagian dari ketaatan kepada Allah. Namun dalam konteks kemaksiatan, Nabi ﷺ mengajarkan agar kita menyebutnya secara terpisah untuk menjaga keagungan nama Allah.

4. Pelajaran tentang adab kepada Nabi ﷺ

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini juga mengajarkan adab yang tinggi kepada Nabi ﷺ. Meskipun seorang khatib bermaksud baik, namun karena lafazhnya kurang tepat, Nabi ﷺ langsung menegurnya dengan tegas. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga adab dalam berbicara tentang Allah dan Rasul-Nya.

Story Telling

Ada kisah indah tentang ketelitian para salaf dalam menjaga adab berbicara tentang Allah ﷻ.

Diriwayatkan bahwa Imam Sufyan bin 'Uyainah rahimahullah—salah satu perawi dalam sanad hadits ini—sangat berhati-hati dalam setiap lafazh yang berkaitan dengan Allah. Beliau sering berkata: "Barangsiapa yang mengenal Allah dengan benar, maka lisannya akan terjaga dari ucapan yang tidak layak tentang Allah."

Beliau juga pernah ditanya tentang makna firman Allah dalam hadits qudsi, lalu beliau menjawab dengan sangat hati-hati dan penuh adab, tidak berbicara tentang Allah kecuali dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya ajarkan.

Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat memahami bahwa adab kepada Allah adalah pangkal dari segala ilmu. Sebagaimana kata sebagian ulama: "Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang lahir dari hati yang penuh pengagungan kepada Allah."

Kesimpulan Praktis

Beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan:

  1. Berhati-hatilah dalam menyusun kalimat tentang Allah ﷻ, terutama saat berkhutbah, berceramah, atau menulis konten dakwah.
  2. Jangan menggabungkan nama Allah dan Rasul-Nya dengan satu kata ganti dalam konteks kemaksiatan atau hal-hal yang bisa menyiratkan kesetaraan derajat.
  3. Teladani Nabi ﷺ dalam ketelitian berbahasa—beliau sangat memperhatikan setiap kata yang keluar dari lisan umatnya.
  4. Bagi para khatib dan penceramah: persiapkan materi dengan baik, periksa kembali susunan kalimat, dan pastikan tidak ada lafazh yang kurang sopan terhadap Allah ﷻ.
  5. Ajarkan adab ini kepada keluarga dan jamaah, karena menjaga lisan dari ucapan yang tidak layak tentang Allah adalah bagian dari ketakwaan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?