Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kisah masuk Islamnya 'Amr bin 'Abasah radhiyallahu 'anhu yang sangat indah. Ia berisi tiga pelajaran besar: (1) Kisah perjalanan pencarian kebenaran seorang sahabat sebelum Islam, (2) Penjelasan Nabi ﷺ tentang waktu-waktu yang dilarang dan dianjurkan untuk shalat, dan (3) Keutamaan wudhu yang menghapus dosa-dosa kecil serta keutamaan shalat yang menjadi sebab pengampunan dosa. Hadits ini menunjukkan betapa agungnya Islam, mudahnya amalan yang diperintahkan, namun besar pahala yang dijanjikan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Shalat Musafir, Bab "Kisah Masuk Islamnya 'Amr bin 'Abasah", no. 832. Juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Ahmad.
Ayat Al-Qur'an yang terkait dengan keutamaan wudhu dan shalat:
QS. Al-Ma'idah [5]: 6
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ
"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan usaplah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai ke kedua mata kaki."
Ayat tentang shalat sebagai penghapus dosa:
QS. Hud [11]: 114
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
"Dan laksanakanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik menghapuskan perbuatan-perbuatan buruk."
Hadits terkait dari riwayat lain:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika seorang hamba muslim (atau mukmin) berwudhu lalu membasuh wajahnya, maka keluarlah dosa-dosa wajahnya bersama air (atau bersama tetesan air) dari ujung janggutnya..." (HR. Muslim, no. 244)
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan besar wudhu dan shalat dalam menghapus dosa-dosa kecil.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas tentang waktu-waktu terlarang shalat yang disebutkan dalam hadits ini.
- Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan hikmah larangan shalat pada waktu matahari terbit dan terbenam karena waktu-waktu tersebut adalah waktu sujudnya orang-orang kafir kepada matahari.
Penjelasan Rinci
1. Kisah Pencarian Kebenaran 'Amr bin 'Abasah
Hadits ini diawali dengan kisah yang sangat menyentuh. 'Amr bin 'Abasah radhiyallahu 'anhu berada dalam keadaan jahiliyah, namun Allah telah memberikan hidayah kepadanya berupa kesadaran bahwa manusia berada dalam kesesatan. Ia melihat manusia menyembah berhala dan merasa bahwa itu bukanlah kebenaran. Ini menunjukkan bahwa fitrah manusia yang bersih akan selalu mencari kebenaran.
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa fitrah manusia memang cenderung kepada tauhid, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Rum [30]: 30. Namun syaitan dan lingkungan yang rusak dapat memalingkannya.
Ketika 'Amr mendengar ada seorang laki-laki di Makkah yang memberitakan berita-berita (wahyu), ia segera menaiki tunggangannya dan pergi mencarinya. Ini menunjukkan kesungguhan dalam mencari kebenaran. Ia tidak menunda-nunda.
2. Jawaban Nabi ﷺ Tentang Misi Diutusnya Beliau
Ketika 'Amr bertanya, "Dengan apa engkau diutus?" Nabi ﷺ menjawab: "Aku diutus untuk menyambung silaturahmi, menghancurkan berhala, dan agar Allah disembah satu-satunya tanpa menyekutukan-Nya."
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa misi utama kenabian adalah:
- Tauhid: Mengesakan Allah dalam ibadah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.
- Menghancurkan berhala: Menghilangkan segala bentuk kesyirikan dan penghambaan kepada selain Allah.
- Menyambung silaturahmi: Ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan dengan Allah (hablum minallah) tetapi juga hubungan antar sesama manusia (hablum minannas).
3. Waktu-Waktu Shalat yang Dilarang dan Dianjurkan
Nabi ﷺ menjelaskan kepada 'Amr tentang waktu-waktu shalat:
Waktu yang dilarang shalat:
- Setelah shalat Subuh hingga matahari terbit dan meninggi - Karena matahari terbit di antara dua tanduk setan dan saat itu orang-orang kafir bersujud kepadanya.
- Saat matahari tepat di tengah langit (istiwa') hingga bayangan mulai condong - Karena saat itu neraka Jahannam sedang dipanaskan.
- Setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam - Karena matahari terbenam di antara dua tanduk setan dan saat itu orang-orang kafir bersujud kepadanya.
Waktu yang dianjurkan shalat:
- Setelah matahari meninggi hingga sebelum istiwa' - Shalat disaksikan dan dihadiri para malaikat.
- Setelah bayangan condong (waktu Dzuhur dan Ashar) - Shalat disaksikan dan dihadiri para malaikat.
Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan shalat pada waktu-waktu tersebut adalah untuk shalat yang tidak memiliki sebab. Adapun shalat yang memiliki sebab seperti shalat tahiyatul masjid, qadha, dan shalat jenazah, maka boleh dilakukan pada waktu-waktu tersebut menurut pendapat yang kuat di kalangan ulama Syafi'iyah.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "dua tanduk setan" adalah bahwa setan ikut serta dalam peristiwa terbit dan terbenamnya matahari, dan orang-orang kafir bersujud kepada matahari pada waktu-waktu tersebut. Maka umat Islam dilarang shalat pada waktu-waktu itu agar tidak menyerupai orang-orang kafir.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hikmah larangan ini adalah untuk membedakan umat Islam dari orang-orang kafir yang menyembah matahari, dan juga karena waktu-waktu tersebut adalah waktu-waktu yang dimuliakan oleh syaitan.
4. Keutamaan Wudhu dan Shalat
Nabi ﷺ kemudian menjelaskan keutamaan wudhu yang sangat agung:
- Berkumur dan istinsyaq (menghirup air ke hidung) - Menggugurkan dosa-dosa mulut dan hidung.
- Membasuh wajah - Menggugurkan dosa-dosa wajah dari ujung janggut bersama air.
- Membasuh kedua tangan hingga siku - Menggugurkan dosa-dosa tangan dari ujung jari.
- Mengusap kepala - Menggugurkan dosa-dosa kepala dari ujung rambut.
- Membasuh kedua kaki hingga mata kaki - Menggugurkan dosa-dosa kaki dari ujung jari.
Kemudian jika ia berdiri shalat, memuji Allah, menyanjung-Nya, mengagungkan-Nya, dan menghadirkan hatinya hanya kepada Allah, maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menjelaskan bahwa dosa-dosa yang dihapuskan oleh wudhu dan shalat adalah dosa-dosa kecil, adapun dosa-dosa besar membutuhkan taubat yang sungguh-sungguh.
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah menjelaskan bahwa hadits ini shahih dan menunjukkan keutamaan wudhu yang sangat besar. Namun perlu dipahami bahwa penghapusan dosa ini berlaku bagi dosa-dosa kecil, bukan dosa besar.
5. Sikap Abu Umamah dan Jawaban 'Amr
Ketika 'Amr menceritakan hadits ini kepada Abu Umamah, Abu Umamah merasa heran dan berkata: "Pikirkan apa yang engkau katakan, apakah sebesar ini keutamaan diberikan pada satu tempat (dengan wudhu dan shalat saja)?"
'Amr menjawab dengan tegas: "Aku telah tua, tulangku telah rapuh, dan ajalku telah dekat. Tidak ada alasan bagiku untuk berdusta atas Allah dan Rasul-Nya. Seandainya aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ satu, dua, atau tiga kali—bahkan sampai tujuh kali—niscaya aku tidak akan meriwayatkannya. Namun aku mendengarnya lebih dari itu."
Syaikh Shalih al-Fauzan dalam Syarah Kitab At-Tauhid menjelaskan bahwa sikap Abu Umamah ini menunjukkan kehati-hatian para sahabat dalam menerima hadits. Mereka sangat berhati-hati dan tidak mudah menerima berita tanpa memastikan kebenarannya. Namun ketika 'Amr menegaskan bahwa ia mendengarnya langsung dari Nabi ﷺ lebih dari tujuh kali, maka Abu Umamah menerimanya.
Story Telling
Kisah ini mengingatkan kita pada kisah Salman Al-Farisi radhiyallahu 'anhu yang juga mencari kebenaran dalam waktu yang sangat lama. Ia berpindah dari satu agama ke agama lain, dari satu pendeta ke pendeta lainnya, hingga akhirnya bertemu dengan Nabi ﷺ di Madinah.
Namun kisah 'Amr bin 'Abasah ini memiliki keistimewaan tersendiri. Ia adalah salah satu sahabat yang telah diberi hidayah oleh Allah untuk menyadari kesesatan manusia sebelum Islam datang. Ia tidak puas dengan keadaan jahiliyah yang penuh dengan penyembahan berhala. Ia mencari kebenaran dengan sungguh-sungguh.
Ketika ia bertemu dengan Nabi ﷺ di Makkah, beliau masih dalam keadaan bersembunyi dan kaumnya memperlakukannya dengan keras. Namun 'Amr tetap bersikeras untuk bertemu dan bertanya. Ini menunjukkan keberanian dan kejujuran dalam mencari kebenaran.
Nabi ﷺ menyarankan agar 'Amr pulang dahulu dan menunggu sampai Islam telah tersebar dan kuat. Ini menunjukkan kebijaksanaan Nabi ﷺ dalam menjaga keselamatan para sahabatnya yang baru masuk Islam. Beliau tidak memaksakan mereka untuk menghadapi bahaya di awal dakwah.
Setelah hijrah ke Madinah, 'Amr segera datang menemui Nabi ﷺ dan bertanya tentang ajaran-ajaran Islam. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar dari Nabi ﷺ. Ini adalah teladan bagi kita untuk selalu bersemangat dalam menuntut ilmu agama.
Kesimpulan Praktis
- Pencarian kebenaran adalah fitrah manusia - Setiap jiwa yang bersih akan merasa gelisah dengan kesesatan dan selalu mencari kebenaran. Kita harus bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu agama yang benar.
- Misi utama Islam adalah tauhid - Mengesakan Allah dalam ibadah, menghancurkan segala bentuk kesyirikan, dan menyambung silaturahmi.
- Menjauhi waktu-waktu terlarang shalat - Kita harus memperhatikan waktu-waktu yang dilarang untuk shalat (setelah Subuh hingga matahari meninggi, saat istiwa', dan setelah Ashar hingga maghrib) kecuali untuk shalat yang memiliki sebab.
- Menjaga wudhu dengan sempurna - Wudhu yang dilakukan dengan sempurna sesuai tuntunan Nabi ﷺ akan menghapus dosa-dosa kecil.
- Shalat dengan khusyuk - Shalat yang dilakukan dengan menghadirkan hati, memuji Allah, dan mengagungkan-Nya akan menjadi sebab pengampunan dosa.
- Kehati-hatian dalam meriwayatkan hadits - Kita harus berhati-hati dalam menyampaikan ilmu agama dan tidak mudah menyebarkan berita tanpa memastikan kebenarannya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.