Kisah Masuk Islamnya ‘Amr bin ‘Abasah
Shahih
haddatsani ahmadu ibnu jafarin almaqiriyyu, haddatsana annadhru ibnu muhammadin, haddatsana ikrimahu ibnu ammarin, haddatsana syaddadu ibnu abdi allahi abu ammarin, wayahya ibnu abi katsirin, an abi umamaha, - qala ikrimahu walaqiya syaddadun aba umamaha wawatsilaha washahiba anasan ila assyami waatsna alayhi fadhlan wakhayran - an abi umamaha qala qala amru ibnu abasaha assulamiyyu kuntu waana fi aljahiliyyahi azhunnu anna annasa ala dhalalhin waannahum laysu ala syain wahum yabuduna alawtsana fasamitu birajulin bimakkaha yukhbiru akhbaran faqaadtu ala rahilati faqadimtu alayhi faidza rasulu allahi mustakhfiyan juraau alayhi qawmuhu fatalatthaftu hatta dakhaltu alayhi bimakkaha faqultu lahu ma anta qala " ana nabiyyun ". faqultu wama nabiyyun qala " arsalani allahu ". faqultu wabiai syain arsalaka qala " arsalani bishilahi alarhami wakasri alawtsani waan yuwahhada allahu la yusyraku bihi syaun ". qultu lahu faman maaka ala hadza qala " hurrun waabdun ". qala wamaahu yawmaidzin abu bakrin wabilalun mimman amana bihi. faqultu inni muttabiuka. qala " innaka la tastathiu dzalika yawmaka hadza ala tara hali wahala annasi walakini arji ila ahlika faidza samita bi qad zhahartu fatini ". qala fadzahabtu ila ahli waqadima rasulu allahi almadinaha wakuntu fi ahli fajaaltu atakhabbaru alakhbara waasalu annasa hina qadima almadinaha hatta qadima alaa nafarun min ahli yatsriba min ahli almadinahi faqultu ma faala hadza arrajulu adzi qadima almadinaha faqalu annasu ilayhi siraun waqad arada qawmuhu qatlahu falam yastathiu dzalika. faqadimtu almadinaha fadakhaltu alayhi faqultu ya rasula allahi atarifuni qala " naam anta adzi laqitani bimakkaha ". qala faqultu bala. faqultu ya nabiyya allahi akhbirni amma allamaka allahu waajhaluhu. akhbirni ani asshalahi qala " shalli shalaha asshubhi tsumma aqshir ani asshalahi hatta tathlua assyamsu hatta tartafia fainnaha tathluu hina tathluu bayna qarna syaythanin wahinaidzin yasjudu laha alkuffaru tsumma shalli fainna asshalaha masyhudahun mahdhurahun hatta yastaqilla azzhillu biarrumhi tsumma aqshir ani asshalahi fainna hinaidzin tusjaru jahannamu faidza aqbala alfau fashalli fainna asshalaha masyhudahun mahdhurahun hatta tushalliya alashra tsumma aqshir ani asshalahi hatta taghruba assyamsu fainnaha taghrubu bayna qarna syaythanin wahinaidzin yasjudu laha alkuffaru ". qala faqultu ya nabiyya allahi falwudhuu hadditsni anhu qala " ma minkum rajulun yuqarribu wadhuahu fayatamadhmadhu wayastansyiqu fayantatsiru ila kharrat khathaya wajhihi wafihi wakhayasyimihi tsumma idza ghasala wajhahu kama amarahu allahu ila kharrat khathaya wajhihi min athrafi lihyatihi maa almai tsumma yaghsilu yadayhi ila almirfaqayni ila kharrat khathaya yadayhi min anamilihi maa almai tsumma yamsahu rasahu ila kharrat khathaya rasihi min athrafi syarihi maa almai tsumma yaghsilu qadamayhi ila alkabayni ila kharrat khathaya rijlayhi min anamilihi maa almai fain huwa qama fashalla fahamida allaha waatsna alayhi wamajjadahu biadzi huwa lahu ahlun wafarragha qalbahu lillahi ila ansharafa min khathiatihi kahayatihi yawma waladathu ummuhu ". fahaddatsa amru ibnu abasaha bihadza alhaditsi aba umamaha shahiba rasuli allahi faqala lahu abu umamaha ya amraw ibna abasaha anzhur ma taqulu fi maqamin wahidin yutha hadza arrajulu faqala amrunw ya aba umamaha laqad kabirat sinni waraqqa azhmi waqtaraba ajali wama bi hajahun an akdziba ala allahi wala ala rasuli allahi law lam asmahu min rasuli allahi ila marrahan aw marratayni aw tsalatsan - hatta adda saba marratin - ma haddatstu bihi abadan walakinni samituhu aktsara min dzalika.
Dari ‘Amr bin ‘Abasah as-Sulami ra., ia berkata: Ketika aku berada pada masa jahiliyah, aku mengira bahwa manusia berada dalam kesesatan dan tidak berada di atas apa pun yang benar, karena mereka menyembah berhala. Aku mendengar tentang seorang laki-laki di Makkah yang memberitakan sesuatu (dengan dasar wahyu). Maka aku menaiki tungganganku dan datang kepadanya. Ternyata Rasulullah ﷺ saat itu bersembunyi karena kaumnya memperlakukannya dengan keras. Aku bersikap lembut sampai aku bisa masuk bertemu beliau di Makkah. Aku bertanya: “Siapa engkau?” Beliau menjawab: “Aku seorang Nabi.” Aku bertanya lagi: “Apa itu Nabi?” Beliau menjawab: “Aku adalah orang yang diutus oleh Allah.” Aku bertanya: “Dengan apa engkau diutus?” Beliau menjawab: “Aku diutus untuk menyambung silaturahmi, menghancurkan berhala, dan agar Allah disembah satu-satunya tanpa menyekutukan-Nya.” Aku bertanya: “Siapa yang bersamamu dalam hal ini?” Beliau menjawab: “Seorang yang merdeka dan seorang budak.” Saat itu Abu Bakar dan Bilal berada bersama beliau dari kalangan yang telah beriman. Aku berkata: “Aku ingin mengikutimu.” Beliau bersabda: “Pada hari ini engkau tidak akan dapat melakukannya. Tidakkah engkau melihat keadaan diriku dan keadaan manusia? Tetapi pulanglah kepada keluargamu. Jika engkau mendengar bahwa aku telah tampak (menang dan mendapat kekuatan), maka datangilah aku.” Aku pun kembali kepada keluargaku. Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, aku terus mencari kabar tentang beliau. Ketika datang sekelompok orang dari Yatsrib, aku bertanya kepada mereka tentang beliau. Mereka menjawab: “Manusia bersegera mendatanginya, sementara kaumnya berusaha membunuhnya namun tidak mampu.” Maka aku datang ke Madinah dan masuk menemui beliau. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah engkau mengenaliku?” Beliau menjawab: “Ya, engkau orang yang menemui aku di Makkah.” Aku berkata: “Benar.” Kemudian aku bertanya: “Wahai Nabi Allah, ajarkanlah kepadaku apa yang Allah ajarkan kepadamu dan tidak aku ketahui. Beritahukan kepadaku tentang shalat.” Beliau bersabda: “Laksanakanlah shalat Subuh, kemudian berhentilah shalat hingga matahari terbit dan meninggi, karena matahari terbit di antara dua tanduk setan dan pada saat itu orang-orang kafir bersujud kepadanya. Lalu shalatlah, karena shalat disaksikan dan dihadiri para malaikat hingga bayangan menjadi seperti tinggi tombak. Kemudian berhentilah shalat, karena saat itu neraka Jahannam sedang dipanaskan. Setelah bayangan mulai condong, shalatlah, karena shalat disaksikan dan dihadiri para malaikat hingga engkau melaksanakan shalat Ashar. Setelah itu berhentilah shalat hingga matahari terbenam, karena ia terbenam di antara dua tanduk setan dan pada saat itu orang-orang kafir bersujud kepadanya.” Aku berkata: “Wahai Nabi Allah, beritahukan kepadaku tentang wudhu.” Beliau bersabda: “Tidaklah salah seorang dari kalian mengambil air wudhu lalu berkumur dan menghirup air kemudian mengeluarkannya, kecuali gugurlah dosa-dosa mulut dan hidungnya. Ketika ia membasuh wajahnya sebagaimana Allah perintahkan, gugurlah dosa-dosa wajahnya bersama air dari ujung janggutnya. Ketika ia membasuh kedua tangannya hingga siku, gugurlah dosa-dosa tangannya dari ujung-ujung jarinya bersama air. Ketika ia mengusap kepalanya, gugurlah dosa-dosa kepalanya dari ujung-ujung rambutnya bersama air. Ketika ia membasuh kedua kakinya hingga mata kaki, gugurlah dosa-dosa kakinya dari ujung jarinya bersama air. Kemudian jika ia berdiri shalat, memuji Allah, menyanjung-Nya, mengagungkan-Nya sebagaimana layak bagi-Nya, dan menghadirkan hatinya hanya kepada Allah, niscaya ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.” ‘Amr bin ‘Abasah kemudian menceritakan hadis ini kepada Abu Umamah ra. Abu Umamah berkata kepadanya: “Wahai ‘Amr bin ‘Abasah, pikirkan apa yang engkau katakan, apakah sebesar ini keutamaan diberikan pada satu tempat (dengan wudhu dan shalat saja)?” ‘Amr menjawab: “Wahai Abu Umamah, aku telah tua, tulangku telah rapuh, dan ajalku telah dekat. Tidak ada alasan bagiku untuk berdusta atas Allah dan Rasul-Nya. Seandainya aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ satu, dua, atau tiga kali—bahkan sampai tujuh kali—niscaya aku tidak akan meriwayatkannya. Namun aku mendengarnya lebih dari itu.”