Penjelasan Hadits Muslim No. 821 tentang Al-Qur'an diturunkan dalam tujuh dialek bacaan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan salah satu kemuliaan terbesar bagi umat Nabi Muhammad ﷺ, yaitu Al-Qur'an diturunkan dalam tujuh huruf (ahruf). Ini bukan berarti Al-Qur'an memiliki tujuh versi yang berbeda isinya, melainkan Allah memberikan kelonggaran kepada umat ini untuk membaca Al-Qur'an dengan beberapa dialek (lahjah) bahasa Arab yang berbeda, selama maknanya sama dan tidak mengubah hukum. Ini adalah bentuk keringanan dan rahmat Allah, karena umat Nabi ﷺ tidak mampu membaca dengan satu dialek Quraisy yang murni. Hadits ini juga menunjukkan betapa lembutnya Nabi ﷺ dan betapa dekatnya beliau dengan umatnya, hingga memohon keringanan untuk mereka.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Shalat Musafir dan Qashar, Bab Penjelasan bahwa Al-Qur'an Terdapat dalam Tujuh Huruf, nomor 821, dari sahabat Ubayy bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu.

Selain itu, hadits semakna juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya dari sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu.

Dalil pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

"Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an."

(QS. Al-Muzzammil [73]: 20)

Ayat ini menunjukkan adanya kelonggaran dalam membaca Al-Qur'an, sejalan dengan makna hadits tentang tujuh huruf.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa maksud dari "tujuh huruf" dalam hadits ini adalah tujuh dialek (lahjah) bahasa Arab yang fasih, yang dengannya Al-Qur'an diturunkan. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh banyak ulama, di antaranya Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya dan Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari.

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa perbedaan tujuh huruf ini mencakup perbedaan dalam hal:

  1. Perbedaan kata yang sama maknanya (seperti aqbil dan ta'ala).
  2. Perbedaan bentuk kata (seperti fa'ala dan fa'il).
  3. Perbedaan harakat (seperti rabba dan rabi).
  4. Perbedaan dalam hal penambahan dan pengurangan huruf.
  5. Perbedaan dalam hal i'rab (harakat akhir kata).
  6. Perbedaan dalam hal qashr dan mad (panjang pendek bacaan).
  7. Perbedaan dalam hal mufrad dan jamak.

Namun yang penting dipahami, semua perbedaan ini tidak mengubah makna pokok dan tidak saling bertentangan. Bahkan, perbedaan-perbedaan ini justru saling melengkapi dan memperkaya makna.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hikmah diturunkannya Al-Qur'an dalam tujuh huruf adalah untuk memudahkan umat yang berbeda-beda dialeknya. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada umat ini.

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa setelah Rasulullah ﷺ wafat, para sahabat tetap membaca dengan berbagai huruf tersebut. Namun pada masa Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, karena dikhawatirkan terjadi perpecahan akibat perbedaan bacaan yang meluas ke berbagai negeri, beliau menyeragamkan Al-Qur'an pada satu huruf (dialek Quraisy) dan membakar mushaf-mushaf yang berbeda. Ini disepakati oleh para sahabat karena maslahat yang lebih besar, yaitu menjaga persatuan umat.

Perlu ditegaskan bahwa penyeragaman oleh Utsman ini bukanlah menghapus tujuh huruf secara keseluruhan, tetapi memilih satu huruf yang paling utama (dialek Quraisy) sebagai standar resmi mushaf. Adapun sebagian bentuk perbedaan yang masih bisa ditampung dalam rasm (tulisan) Utsmani tetap terpelihara dalam qira'at yang mutawatir.

Syeikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa yang tersisa hingga hari ini dari tujuh huruf tersebut adalah qira'at-qira'at mutawatir yang diriwayatkan dari para imam qurra' seperti Nafi', Ashim, Hamzah, dan lainnya. Semua qira'at yang sahih ini adalah wahyu dari Allah dan tidak boleh dipertentangkan.

Story Telling

Ada kisah yang sangat terkenal tentang latar belakang turunnya keringanan ini. Dari sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, beliau mendengar Hisyam bin Hakim bin Hizam membaca surat Al-Furqan dengan bacaan yang berbeda dari bacaan Rasulullah ﷺ. Umar hampir saja menyerangnya, tetapi beliau menahannya hingga Hisyam selesai membaca. Kemudian Umar menarik kerah bajunya dan membawanya menghadap Rasulullah ﷺ.

Umar berkata, "Wahai Rasulullah, aku mendengar orang ini membaca surat Al-Furqan dengan bacaan yang tidak engkau ajarkan kepadaku."

Rasulullah ﷺ bersabda, "Lepaskan dia. Bacalah wahai Hisyam!" Maka Hisyam membacanya sebagaimana tadi.

Rasulullah ﷺ lalu bersabda, "Demikianlah diturunkan."

Kemudian beliau meminta Umar untuk membaca, dan Umar membacanya. Rasulullah ﷺ bersabda, "Demikianlah diturunkan."

Lalu Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ

"Sesungguhnya Al-Qur'an ini diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah apa yang mudah darinya."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menunjukkan betapa besarnya perhatian para sahabat dalam menjaga Al-Qur'an, namun juga menunjukkan bahwa perbedaan bacaan yang sahih tidak boleh menjadi sebab perpecahan. Yang penting adalah niat ikhlas dan mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersyukurlah atas kemudahan yang Allah berikan kepada umat ini dalam membaca Al-Qur'an.
  2. Jangan mempertentangkan perbedaan qira'at yang sahih dan mutawatir, karena semuanya berasal dari Allah.
  3. Belajarlah membaca Al-Qur'an dengan tajwid yang benar sesuai qira'at yang diajarkan oleh guru-guru yang sanadnya bersambung kepada Rasulullah ﷺ.
  4. Jadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup, bukan sekadar bacaan tanpa pemahaman dan pengamalan.
  5. Jaga persatuan umat dengan tidak fanatik buta terhadap satu qira'at atau satu imam qurra' tertentu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?