Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf (dialek/cara bacaan) yang semuanya benar dan berasal dari Allah. Perbedaan bacaan di antara sahabat bukanlah kesalahan, melainkan keluasan dan kemudahan dari Allah. Nabi ﷺ membenarkan kedua bacaan Umar dan Hisyam, lalu mengajarkan bahwa Al-Qur'an diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah yang mudah darinya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits utama — Shahih Muslim, no. 818, dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, diriwayatkan melalui jalur az-Zuhri dari Urwah bin az-Zubair dari Abdurrahman bin Abdin al-Qari.
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Muzzammil [73]: 20
فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ
"Maka bacalah apa yang mudah dari Al-Qur'an."
QS. Al-Baqarah [2]: 185
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu."
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil pokok tentang turunnya Al-Qur'an dengan tujuh huruf, dan beliau merinci makna-makna yang mungkin dari "tujuh huruf."
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang makna tujuh huruf, namun semuanya sepakat bahwa perbedaan tersebut adalah wahyu, bukan ijtihad manusia.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa tujuh huruf adalah rahmat dan kemudahan bagi umat.
- Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa tujuh huruf adalah bagian dari wahyu dan tidak boleh diingkari.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Hadits ini menceritakan peristiwa ketika Umar bin al-Khaththab mendengar Hisyam bin Hakim membaca Surah Al-Furqan dengan bacaan yang berbeda dari yang diajarkan Nabi ﷺ kepadanya. Umar hampir saja langsung menegurnya, namun beliau menahan diri hingga Hisyam selesai membaca. Kemudian Umar membawanya kepada Nabi ﷺ, dan Nabi ﷺ meminta keduanya membaca. Setelah keduanya membaca, Nabi ﷺ membenarkan keduanya dengan sabda: "هَكَذَا أُنْزِلَتْ" (begitulah ia diturunkan), lalu menjelaskan bahwa Al-Qur'an diturunkan atas tujuh huruf.
Pemahaman para ulama dalam daftar:
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan beberapa hal penting:
- Bahwa perbedaan bacaan yang keduanya berasal dari wahyu bukanlah perselisihan yang tercela.
- Bahwa Nabi ﷺ membenarkan kedua bacaan, yang menunjukkan keduanya benar.
- Bahwa "tujuh huruf" bukan berarti tujuh huruf hijaiyah, melainkan tujuh dialek/cara bacaan yang Allah mudahkan bagi umat.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang makna "tujuh huruf" menjadi beberapa pendapat, di antaranya:
- Tujuh dialek bahasa Arab (seperti Quraisy, Hudzail, Tamim, dan lainnya).
- Tujuh makna yang berbeda namun tidak bertentangan.
- Tujuh cara bacaan yang mencakup perbedaan harakat, huruf, dan lainnya.
Namun Ibnu Hajar menegaskan bahwa yang paling kuat adalah bahwa tujuh huruf adalah tujuh cara bacaan yang Allah turunkan sebagai kemudahan, dan semuanya adalah wahyu yang tidak boleh diingkari.
Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa tujuh huruf adalah bagian dari wahyu Allah, dan barang siapa mengingkarinya maka dia telah mengingkari sesuatu yang telah ditetapkan oleh hadits mutawatir. Beliau juga menjelaskan bahwa hikmah dari tujuh huruf adalah kemudahan bagi umat yang berbeda-beda dialek dan kemampuan.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah menurunkan Al-Qur'an dengan tujuh huruf sebagai rahmat dan kemudahan, agar setiap orang dapat membaca dan menghafalnya sesuai kemampuannya.
Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala menukil bahwa para sahabat dan tabi'in menerima tujuh huruf ini sebagai bagian dari agama, dan tidak ada perselisihan di antara mereka tentang kebenarannya.
Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:
Para ulama dalam daftar berbeda pendapat tentang makna rinci "tujuh huruf," namun mereka sepakat bahwa:
- Tujuh huruf adalah wahyu dari Allah.
- Semua bacaan yang sahih berasal dari Nabi ﷺ.
- Perbedaan bacaan yang sahih bukanlah perselisihan yang tercela.
Yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Hajar — adalah bahwa tujuh huruf adalah tujuh cara bacaan yang Allah turunkan sebagai kemudahan, dan semuanya benar serta tidak boleh diingkari.
Story Telling
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata:
"Saya mendengar Hisyam bin Hakim bin Hizam membaca Surah Al-Furqan dengan cara yang berbeda dari cara yang saya baca. Saya hampir saja berselisih dengannya, tetapi saya menunggu sampai dia selesai. Kemudian saya menangkap jubahnya dan membawanya kepada Rasulullah ﷺ."
Bayangkanlah — Umar, seorang yang dikenal tegas dan kuat, hampir saja langsung menegur Hisyam. Namun beliau menahan diri, menunggu hingga selesai, lalu membawa perkara itu kepada Nabi ﷺ. Ini adalah pelajaran adab yang agung: tidak tergesa-gesa dalam menegur, dan mengembalikan perkara kepada ahlinya.
Ketika keduanya membaca di hadapan Nabi ﷺ, beliau membenarkan keduanya. Tidak ada yang salah. Keduanya benar. Keduanya berasal dari Allah. Lalu Nabi ﷺ bersabda:
"إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ"
"Sesungguhnya Al-Qur'an ini diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah apa yang mudah darinya."
Hikmahnya: Allah Maha Bijaksana dan Maha Penyayang. Dia menurunkan Al-Qur'an dengan berbagai cara bacaan agar umat ini — yang berbeda-beda dialek, kemampuan, dan kondisi — dapat membaca dan menghafalnya dengan mudah. Ini adalah rahmat, bukan perselisihan.
Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi di hadapan Nabi ﷺ dan beliau tidak menegur salah satu dari keduanya, yang menunjukkan bahwa perbedaan bacaan yang sahih adalah sesuatu yang dibolehkan.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf sebagai kemudahan dari Allah, bukan perselisihan.
- Jangan tergesa-gesa menegur orang yang membaca berbeda jika kita belum yakin tentang kebenarannya — tanyakan kepada ahlinya.
- Bacalah Al-Qur'an sesuai kemampuan dan bacaan yang sahih yang diajarkan oleh para ulama.
- Hormati perbedaan bacaan yang sahih, karena semuanya berasal dari Allah.
- Pelajari ilmu tajwid dan qira'at dari guru yang terpercaya agar bacaan kita sesuai dengan yang diajarkan Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.