Penjelasan Hadits Muslim No. 815 tentang Keutamaan orang yang membaca dan mengamalkan Al-Qur'an

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa rasa iri (ghibthah) yang diperbolehkan hanyalah kepada dua golongan manusia: pertama, orang yang diberi Allah kemampuan untuk membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur'an di waktu malam dan siang; kedua, orang yang diberi Allah harta lalu ia infakkan di jalan kebaikan di waktu malam dan siang. Ini bukan iri yang tercela, melainkan dorongan semangat untuk meniru kebaikan mereka.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Muslim:

Teks hadits yang Anda sertakan sudah benar dan sesuai dengan riwayat Shahih Muslim. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitab Shalat Musafir dan Qashar, Bab Keutamaan Orang yang Berdiri dengan Al-Qur'an dan Mengajarkannya.

Sanadnya: Az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya (Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhuma), dari Nabi ﷺ.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

> إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi." (QS. Fathir [35]: 29)

Ayat ini sangat erat kaitannya dengan hadits di atas, karena keduanya menggabungkan antara amalan membaca Al-Qur'an dan infak harta di jalan Allah.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa kata "لَا حَسَدَ" (tidak ada hasad) di sini maknanya adalah ghibthah, yaitu keinginan untuk memiliki nikmat seperti yang dimiliki orang lain tanpa disertai keinginan agar nikmat itu hilang dari orang tersebut. Adapun hasad yang tercela adalah keinginan agar nikmat orang lain hilang. Maka maksud hadits ini adalah: "Tidak ada ghibthah yang dibenarkan kecuali dalam dua perkara."

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah dorongan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Beliau berkata: "Maknanya adalah tidak ada seorang pun yang layak untuk dijadikan teladan dan dicita-citakan keadaannya kecuali dua orang ini."

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang diberi Al-Qur'an lalu ia qāma bihī (menegakkan dengan Al-Qur'an) maknanya mencakup:

  1. Membacanya dengan tartil di waktu malam dan siang
  2. Memahami maknanya
  3. Mengamalkan isinya
  4. Mengajarkannya kepada orang lain

Adapun kata "آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ" artinya jam-jam atau waktu-waktu di malam dan siang hari. Ini menunjukkan kesinambungan dan keistiqamahan dalam beramal, bukan hanya sekali-sekali.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah ketika menafsirkan ayat di atas menyebutkan bahwa Allah memuji hamba-hamba-Nya yang membaca Kitab-Nya, menegakkan shalat, dan berinfak. Ini adalah gambaran orang yang menggabungkan antara hak Allah yang bersifat badaniyah (seperti shalat dan membaca Al-Qur'an) dan hak Allah yang bersifat maliyah (harta).

Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan bahwa Al-Qur'an adalah sebaik-baik kesibukan bagi seorang hamba. Beliau berkata: "Barangsiapa yang disibukkan oleh Al-Qur'an dan dzikir kepada Allah, maka Allah akan berikan kepadanya lebih baik dari apa yang diberikan kepada orang-orang yang meminta."

Adapun penyebutan harta dalam hadits ini, karena harta adalah sarana untuk membantu orang lain dan menegakkan kemaslahatan umum. Maka orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah siang dan malam juga termasuk orang yang patut dicontoh.

Perbedaan antara kedua orang ini: Orang pertama sibuk dengan hak Allah yang bersifat badaniyah (tubuh), yaitu membaca dan mengamalkan Al-Qur'an. Orang kedua sibuk dengan hak Allah yang bersifat maliyah (harta), yaitu berinfak. Keduanya sama-sama mulia, dan keduanya disebutkan dalam satu hadits karena keduanya adalah pilar kebaikan bagi umat.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma — yang meriwayatkan hadits ini dari ayahnya — adalah salah satu sahabat yang sangat bersemangat dalam beribadah. Beliau dikenal rajin shalat malam, puasa, dan bersedekah. Suatu ketika, beliau ditanya tentang amalan yang paling utama, maka beliau menjawab dengan semangat ibadah yang luar biasa.

Namun yang lebih menarik, hadits ini justru diriwayatkan dari jalur Salim bin Abdullah bin Umar dari ayahnya. Ini menunjukkan bahwa ilmu dan amal itu diwariskan dari generasi ke generasi. Abdullah bin Umar meriwayatkan hadits tentang keutamaan orang yang berpegang dengan Al-Qur'an, dan anaknya Salim pun menjadi ulama besar Madinah yang termasuk dalam Fuqaha Sab'ah (tujuh ulama besar Madinah) yang banyak meriwayatkan ilmu.

Imam Az-Zuhri (Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah) yang menjadi perawi dari Salim dalam hadits ini adalah salah satu ulama tabi'in yang sangat masyhur. Beliau sendiri dikenal sebagai ulama yang sangat bersemangat dalam menuntut dan menyebarkan ilmu hadits. Ini menunjukkan bahwa hadits ini benar-benar diamalkan oleh para perawinya — mereka tidak hanya meriwayatkan, tetapi juga menghidupkan maknanya.

Kesimpulan Praktis

  1. Niatkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan — Rasa iri yang diperbolehkan adalah ketika melihat orang lebih rajin membaca Al-Qur'an atau lebih dermawan, maka kita termotivasi untuk menirunya.
  2. Jadwalkan waktu membaca Al-Qur'an — Baik di malam hari maupun siang hari, walaupun sedikit. Yang penting istiqamah.
  3. Jangan lupa berinfak — Harta adalah titipan Allah. Sisihkan sebagian untuk bersedekah, baik di waktu lapang maupun sempit.
  4. Gabungkan antara amal badaniyah dan maliyah — Sebagaimana disebutkan dalam QS. Fathir ayat 29, orang yang sempurna adalah yang menggabungkan antara membaca Al-Qur'an dan berinfak.
  5. Jadikan Al-Qur'an sebagai pegangan hidup — Bukan hanya dibaca, tetapi juga dipahami, diamalkan, dan diajarkan kepada orang lain.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?