Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan besar mempelajari dan membaca Al-Qur'an. Rasulullah ﷺ mengumpamakan pahala membaca dua ayat Al-Qur'an lebih baik daripada dua unta betina besar yang paling berharga. Semakin banyak ayat yang dibaca atau dipelajari, semakin besar pula keutamaannya. Ini mendorong kita untuk rajin ke masjid belajar Al-Qur'an, karena keuntungannya jauh melebihi harta dunia.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih Muslim, Kitab Shalat Musafir dan Qashar, Bab Keutamaan Membaca Al-Qur'an dalam Shalat dan Belajarnya, nomor 803. Perawinya adalah sahabat Uqbah bin Amir radhiyallahu 'anhu.
Adapun ayat Al-Qur'an yang relevan dengan keutamaan membaca dan mempelajari Al-Qur'an:
QS. Al-Muzzammil [73]: 20
وَعَلِمَ أَن سَيَكُونُ مِنكُم مَّرْضَىٰ وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِن فَضْلِ اللَّهِ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ
"Dan Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an."
QS. Al-Isra' [17]: 82
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian."
QS. Fathir [35]: 29
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ
"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi."
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Rasulullah ﷺ dalam hadits ini menggunakan perumpamaan yang sangat indah dan menyentuh. Beliau menyebutkan tentang seseorang yang pergi pagi-pagi ke pasar atau ke tempat seperti Buthan dan al-'Aqiq (dua tempat di dekat Madinah) lalu pulang membawa dua unta betina besar yang gemuk dan berharga. Ini adalah gambaran keuntungan duniawi yang sangat menggiurkan bagi para sahabat saat itu, karena unta adalah harta paling berharga di kalangan Arab.
Kemudian beliau ﷺ membandingkan: pergi ke masjid untuk belajar atau membaca dua ayat Al-Qur'an itu lebih baik daripada mendapatkan dua unta betina besar tersebut. Bahkan tiga ayat lebih baik dari tiga unta, empat ayat lebih baik dari empat unta, dan seterusnya sesuai jumlah ayat yang dibaca.
Pemahaman para ulama:
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan besar mempelajari Al-Qur'an dan membacanya. Beliau menyebutkan bahwa hadits ini juga menjadi dalil keutamaan duduk di masjid untuk belajar ilmu, dan bahwa pahala belajar Al-Qur'an melebihi keuntungan harta dunia. An-Nawawi juga menjelaskan bahwa penyebutan "dua unta" hingga "sesuai jumlahnya" menunjukkan bahwa pahala membaca Al-Qur'an berlipat sesuai dengan banyaknya ayat yang dibaca.
Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari (ketika membahas hadits serupa dalam Shahih Bukhari) menjelaskan bahwa perumpamaan dengan unta dipilih karena unta adalah harta paling berharga bagi orang Arab, sehingga jiwa mereka sangat tertarik padanya. Beliau juga menyebutkan bahwa hadits ini mendorong untuk menyibukkan diri dengan Al-Qur'an daripada mengejar harta yang bersifat sementara.
Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan bahwa ilmu yang paling utama adalah ilmu tentang Al-Qur'an, karena Al-Qur'an adalah sumber segala ilmu. Beliau menyebutkan bahwa para salaf sangat bersemangat mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya, dan mereka memahami bahwa keutamaan ini jauh melebihi keutamaan harta benda.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah menjelaskan bahwa Al-Qur'an adalah makanan bagi ruh, cahaya bagi hati, dan obat bagi penyakit hati. Beliau menyebutkan bahwa membaca Al-Qur'an dengan tadabbur (merenungkan maknanya) akan menambah iman dan memberikan ketenangan jiwa yang tidak bisa didapatkan dari harta dunia.
Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa keutamaan ilmu dan Al-Qur'an bersifat kekal dan abadi, sedangkan harta dunia akan hilang dan binasa. Beliau juga menekankan bahwa belajar Al-Qur'an mencakup membaca, memahami, menghafal, dan mengamalkannya.
Pelajaran penting dari hadits:
- Keutamaan belajar dan membaca Al-Qur'an melebihi keutamaan mengumpulkan harta dunia.
- Dorongan untuk pergi ke masjid untuk belajar Al-Qur'an, bukan hanya untuk shalat.
- Pahala berlipat sesuai dengan jumlah ayat yang dibaca atau dipelajari.
- Al-Qur'an adalah investasi akhirat yang tidak akan merugi, berbeda dengan harta dunia yang bisa hilang.
- Belajar dan mengajar Al-Qur'an adalah amalan yang paling utama setelah kewajiban-kewajiban pokok.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Uqbah bin Amir radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah salah satu sahabat yang tinggal di Suffah (serambi masjid Nabawi). Para ahli Suffah adalah sahabat-sahabat yang miskin dan tidak memiliki tempat tinggal, mereka tinggal di masjid untuk belajar langsung dari Rasulullah ﷺ.
Suatu hari, Rasulullah ﷺ keluar menemui mereka dan melihat kondisi mereka yang serba kekurangan. Beliau ingin mengangkat semangat mereka dan mengalihkan perhatian mereka dari kemiskinan menuju kekayaan yang hakiki, yaitu Al-Qur'an. Beliau pun menyampaikan hadits ini.
Imam Muslim meriwayatkan bahwa setelah menyampaikan hadits ini, para sahabat semakin bersemangat untuk belajar Al-Qur'an. Mereka menyadari bahwa setiap ayat yang mereka pelajari adalah lebih berharga dari unta-unta terbaik di dunia. Sejak saat itu, Suffah menjadi pusat pembelajaran Al-Qur'an yang paling utama di Madinah.
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata bahwa beliau melihat para salaf (generasi awal Islam) begitu bersemangat dengan Al-Qur'an melebihi semangat orang-orang setelah mereka terhadap harta dan perniagaan. Mereka memahami bahwa keuntungan Al-Qur'an tidak akan pernah habis dan tidak akan rusak.
Kesimpulan Praktis
- Biasakan pergi ke masjid untuk belajar atau membaca Al-Qur'an, meskipun hanya dua ayat.
- Jangan remehkan ayat yang sedikit — dua ayat yang kita baca dengan ikhlas dan tadabbur lebih baik dari harta dunia yang banyak.
- Luangkan waktu setiap hari untuk membaca Al-Qur'an, meskipun hanya beberapa ayat, karena pahalanya berlipat sesuai jumlah ayat.
- Ajarkan Al-Qur'an kepada keluarga dan orang lain, karena mengajarkan Al-Qur'an juga termasuk amalan yang sangat utama.
- Renungkan makna ayat yang dibaca, bukan hanya membaca tanpa memahami.
- Jadikan Al-Qur'an sebagai prioritas melebihi kesibukan mengejar harta dunia, karena keuntungan Al-Qur'an kekal sedangkan harta dunia akan hilang.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.