Penjelasan Hadits Muslim No. 800 tentang Keutamaan mendengarkan bacaan Al-Qur'an dan menangis saat mendengarnya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ ingin mendengar Al-Qur'an dibacakan oleh orang lain, bukan karena beliau tidak tahu, tetapi karena beliau mencintai dan menikmati mendengarnya. Ketika Ibnu Mas'ud membaca Surah An-Nisa' sampai ayat 41, Nabi ﷺ menangis hingga air matanya mengalir. Ini mengajarkan kita untuk mencintai Al-Qur'an, mendengarkannya dengan khusyuk, dan merenungkan maknanya hingga menyentuh hati.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Shalat Musafir dan Qashar, Bab Keutamaan Mendengarkan Al-Qur'an dan Meminta Bacaan dari Hafizh untuk Mendengarkan dan Menangis Saat Membaca serta Merenungkan, nomor 800. Perawinya adalah Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.

Ayat yang dibaca adalah QS. An-Nisa' [4]: 41:

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا

Terjemahan: "Maka bagaimanakah (keadaan orang-orang kafir) ketika Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka?"

Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan mendengarkan Al-Qur'an, dan bahwa Nabi ﷺ menangis karena merenungkan makna ayat tersebut. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menyebutkan bahwa menangis saat membaca atau mendengar Al-Qur'an adalah tanda keimanan dan kekhusyukan hati.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengisahkan permintaan Nabi ﷺ kepada Ibnu Mas'ud untuk membacakan Al-Qur'an kepadanya. Ibnu Mas'ud heran dan bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah saya membacakan kepada Anda sedangkan Al-Qur'an diturunkan kepada Anda?" Nabi ﷺ menjawab, "Saya ingin mendengarnya dari orang lain." Ini menunjukkan bahwa mendengarkan Al-Qur'an dari orang lain memiliki keutamaan tersendiri, bahkan bagi Nabi ﷺ yang menerima wahyu.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa keinginan Nabi ﷺ untuk mendengar dari orang lain bukan karena beliau tidak hafal atau tidak paham, tetapi untuk merenungkan dan meresapi maknanya dengan lebih khusyuk. Ini juga mengajarkan kita untuk tidak merasa cukup hanya dengan membaca sendiri, tetapi juga mendengarkan bacaan orang lain untuk meningkatkan kekhusyukan.

Ketika Ibnu Mas'ud membaca Surah An-Nisa' hingga ayat 41, Nabi ﷺ menangis. Ayat ini menggambarkan betapa beratnya pertanggungjawaban di hari kiamat, di mana setiap umat akan dihadapkan dengan saksi, dan Nabi Muhammad ﷺ akan menjadi saksi atas umatnya. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menimbulkan rasa takut dan haru karena mengingatkan akan tanggung jawab besar di hadapan Allah.

Ibnul Qayyim dalam kitabnya menyebutkan bahwa menangis saat membaca Al-Qur'an adalah tanda hati yang hidup dan iman yang kuat. Beliau juga menekankan pentingnya merenungkan makna ayat-ayat Al-Qur'an, bukan hanya membaca tanpa memahami.

Para ulama seperti Al-Hasan al-Bashri dan Sufyan ats-Tsauri juga dikenal sering menangis saat membaca Al-Qur'an karena merenungkan janji dan ancaman Allah. Ini menunjukkan bahwa menangis bukan tanda kelemahan, tetapi tanda keimanan yang mendalam.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ dan paling tahu tentang Al-Qur'an. Suatu hari, Nabi ﷺ memintanya membaca Al-Qur'an. Ibnu Mas'ud membacakan Surah An-Nisa' dengan penuh penghayatan. Ketika sampai pada ayat 41, Nabi ﷺ yang mendengarkan dengan khusyuk tidak mampu menahan air matanya. Air mata beliau mengalir membasahi pipi, menunjukkan betapa dalamnya penghayatan beliau terhadap ayat tersebut.

Ibnu Mas'ud kemudian mengangkat kepalanya dan melihat Nabi ﷺ menangis. Momen ini menjadi pelajaran bagi para sahabat bahwa Al-Qur'an bukan sekadar bacaan, tetapi pesan Ilahi yang harus direnungkan dan diresapi. Kisah ini juga menunjukkan betapa cintanya Nabi ﷺ kepada Al-Qur'an dan betapa besar rasa tanggung jawab beliau sebagai saksi atas umatnya.

Kesimpulan Praktis

  1. Biasakan mendengarkan Al-Qur'an dari orang lain, bukan hanya membaca sendiri, untuk meningkatkan kekhusyukan.
  2. Renungkan makna ayat-ayat Al-Qur'an yang kita baca atau dengar, terutama yang berkaitan dengan hari kiamat dan tanggung jawab.
  3. Jangan malu menangis saat membaca atau mendengar Al-Qur'an, karena itu tanda hati yang hidup dan iman yang kuat.
  4. Contohlah Nabi ﷺ dalam mencintai Al-Qur'an dan merenungkan maknanya.
  5. Ajarkan kepada keluarga dan anak-anak untuk mencintai Al-Qur'an sejak dini.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?