Penjelasan Hadits Muslim No. 796 tentang Turunnya ketenangan saat membaca Al-Qur'an

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan sahabat Usaid bin Hudhair yang membaca Al-Qur'an di malam hari, lalu kudanya berulang kali melompat dan ia melihat cahaya seperti kanopi berisi lampu-lampu naik ke langit. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa itu adalah para malaikat yang turun mendengarkan bacaan Al-Qur'an. Hadits ini menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur'an, khususnya di malam hari, dan bahwa bacaan seorang hamba dapat mendatangkan keberkahan serta kehadiran malaikat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Isra' [17]: 82

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Terjemahan: "Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, dan (Al-Qur'an itu) hanya akan menambah kerugian bagi orang-orang zalim."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Shalat Musafir dan Qashar, Bab Turunnya Ketenteraman untuk Membaca Al-Qur'an (no. 796), dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, yang mendengar langsung dari Usaid bin Hudhair radhiyallahu 'anhu.

Hadits lain yang semakna diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang turunnya sakinah (ketenangan) dan malaikat yang mengelilingi majelis dzikir dan bacaan Al-Qur'an.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur'an dan bahwa malaikat turun untuk mendengarkan bacaan tersebut.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para malaikat hadir pada majelis bacaan Al-Qur'an dan dzikir.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Al-Qur'an mendatangkan rahmat dan ketenangan bagi orang beriman.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama: Keutamaan membaca Al-Qur'an di malam hari.

Usaid bin Hudhair membaca Al-Qur'an di waktu malam di tempatnya (mirbad, yaitu tempat menjemur kurma atau kandang). Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa membaca Al-Qur'an di malam hari memiliki keutamaan khusus karena lebih khusyuk dan jauh dari kesibukan dunia. Allah berfirman dalam QS. Al-Muzzammil [73]: 6:

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

Terjemahan: "Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan."

Kedua: Kudanya melompat berkali-kali.

Kuda Usaid melompat setiap kali ia membaca. Ini menunjukkan bahwa kehadiran malaikat membawa pengaruh yang dirasakan bahkan oleh hewan. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa hewan dapat merasakan kehadiran malaikat, sebagaimana kuda juga bisa melihat apa yang tidak dilihat manusia.

Ketiga: Usaid berhenti karena khawatir anaknya, Yahya, terinjak kuda.

Ini menunjukkan kelembutan hati seorang ayah dan tanggung jawabnya. Ia tidak mengabaikan keselamatan anaknya meski sedang dalam keadaan istimewa (ditemani malaikat). Ini juga menunjukkan bahwa syariat menjaga keselamatan jiwa.

Keempat: Nabi ﷺ bersabda "Bacalah, Ibn Hudair" berulang kali.

Nabi ﷺ mendorongnya untuk terus membaca, karena beliau tahu ada sesuatu yang istimewa terjadi. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ menginginkan agar Usaid mendapatkan keberkahan lebih banyak lagi.

Kelima: Penjelasan Nabi ﷺ bahwa itu adalah malaikat.

Nabi ﷺ menjelaskan bahwa cahaya seperti kanopi berisi lampu-lampu itu adalah para malaikat yang turun mendengarkan bacaan Al-Qur'an. Ini menunjukkan bahwa bacaan Al-Qur'an seorang hamba dapat menarik perhatian para malaikat dan menjadi sebab turunnya rahmat.

Keenam: "Jika kamu terus membaca, orang-orang akan melihat mereka di pagi hari."

Ini menunjukkan bahwa keberkahan bacaan Al-Qur'an bisa menjadi bukti nyata bagi orang lain. Namun, Usaid berhenti karena khawatir anaknya, sehingga ia tidak melanjutkan. Ini juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak mencela keputusannya, karena alasannya syar'i.

Perbedaan pendapat ulama:

Sebagian ulama seperti Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim menjelaskan bahwa malaikat turun pada majelis dzikir dan bacaan Al-Qur'an, dan ini adalah bentuk pemuliaan Allah terhadap ahli Qur'an. Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama yang tercantum dalam daftar mengenai keutamaan membaca Al-Qur'an dan kehadiran malaikat pada majelis tersebut.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Usaid bin Hudhair radhiyallahu 'anhu, salah satu sahabat mulia dari kaum Anshar, sedang membaca Al-Qur'an di malam hari di tempatnya. Ia memiliki kuda yang terikat di dekatnya. Setiap kali ia membaca, kudanya melompat dan gelisah. Ia terus membaca, dan kudanya terus melompat. Ketika ia menyadari anaknya, Yahya, berada dekat kuda itu, ia khawatir anaknya terinjak. Ia pun berhenti dan mendekati kuda tersebut.

Saat itulah ia melihat sesuatu yang menakjubkan: seperti kanopi atau awan yang di dalamnya terdapat cahaya-cahaya seperti lampu, naik ke langit hingga menghilang dari pandangannya.

Keesokan harinya, ia menemui Rasulullah ﷺ dan menceritakan kejadian itu. Nabi ﷺ mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu bersabda: "Bacalah, Ibn Hudair." Usaid menceritakan bahwa kudanya melompat lagi, dan Nabi ﷺ kembali bersabda: "Bacalah, Ibn Hudair." Hingga akhirnya Usaid menjelaskan bahwa ia berhenti karena khawatir anaknya terinjak.

Maka Nabi ﷺ menjelaskan: "Itu adalah para malaikat yang mendengarkanmu. Jika kamu terus membaca, orang-orang akan melihat mereka di pagi hari dan mereka tidak akan menyembunyikan diri dari mereka."

Betapa mulianya kedudukan orang yang membaca Al-Qur'an, hingga para malaikat turun dari langit untuk mendengarkan bacaannya. Ini adalah penghiburan bagi setiap mukmin yang membaca Al-Qur'an dengan ikhlas, meski ia tidak melihat malaikat, namun mereka hadir dan mendengarkan.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak membaca Al-Qur'an, terutama di malam hari, karena waktu itu lebih khusyuk dan mendatangkan keberkahan.
  2. Yakinlah bahwa malaikat hadir pada majelis bacaan Al-Qur'an dan dzikir, meski kita tidak melihat mereka.
  3. Jaga tanggung jawab keluarga, sebagaimana Usaid berhenti membaca karena khawatir anaknya, menunjukkan bahwa syariat menjaga keselamatan jiwa.
  4. Jangan ragu untuk terus membaca ketika ada dorongan dari Nabi ﷺ atau ulama, karena keberkahan bisa berlipat.
  5. Ceritakan kisah-kisah seperti ini kepada keluarga dan anak-anak untuk menumbuhkan kecintaan pada Al-Qur'an.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?