Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengisahkan teguran lembut Nabi ﷺ kepada Ali dan Fatimah yang meninggalkan shalat malam (tahajjud) dengan alasan takdir. Nabi ﷺ tidak marah, namun beliau menunjukkan bahwa alasan tersebut adalah bentuk perdebatan (jadal) yang tidak tepat. Pelajaran utamanya: kita tidak boleh menjadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan ketaatan, karena perintah Allah tetap harus diusahakan dengan sungguh-sungguh.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an terkait:
QS. Al-Kahfi [18]: 54
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا
"Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulang-ulang dalam Al-Qur'an ini berbagai macam perumpamaan untuk manusia. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah."
Hadits terkait:
Hadits riwayat Muslim no. 775 dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu sebagaimana teks di atas.
Kaitan dengan ulama:
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (6/59) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan larangan berdalih dengan takdir untuk meninggalkan ibadah. Beliau berkata: "Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap orang yang meninggalkan amal dengan alasan takdir, karena hal itu termasuk perdebatan yang tercela."
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (3/16) juga menegaskan bahwa sikap Ali radhiyallahu 'anhu bukanlah pembangkangan, melainkan beliau memahami bahwa shalat malam itu sunnah, bukan wajib. Namun Nabi ﷺ tetap mengingatkan agar tidak beralasan dengan takdir.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa faedah penting yang dijelaskan oleh para ulama:
Pertama: Keutamaan shalat malam (tahajjud)
Nabi ﷺ datang ke rumah Ali dan Fatimah pada malam hari untuk membangunkan mereka shalat. Ini menunjukkan perhatian besar beliau terhadap shalat malam. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif (hal. 43) menyebutkan bahwa shalat malam adalah kebiasaan orang shalih dan pendekatan diri kepada Allah yang paling utama.
Kedua: Larangan berdalih dengan takdir
Ketika Ali berkata, "Jiwa kami di tangan Allah, jika Dia mau membangunkan kami, Dia akan membangunkan kami," Nabi ﷺ tidak menerima alasan ini. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Syifa' al-'Alil (hal. 45) menjelaskan bahwa takdir adalah rahasia Allah yang tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan perintah. Justru kita diperintahkan untuk berusaha dan berdoa, sementara hasilnya kita serahkan kepada Allah.
Ketiga: Makna "jadal" (perdebatan) dalam hadits
Nabi ﷺ membaca ayat QS. Al-Kahfi: 54 sambil memukul pahanya. Ini menunjukkan bahwa alasan Ali termasuk dalam kategori "jadal" yang tercela. Imam Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim (5/175) menjelaskan bahwa jadal yang dimaksud adalah membantah kebenaran dengan alasan yang lemah. Dalam konteks ini, menggunakan takdir untuk meninggalkan ibadah adalah bentuk jadal yang tidak dibenarkan.
Keempat: Adab Nabi ﷺ dalam menasihati
Nabi ﷺ tidak marah atau menghardik Ali. Beliau pergi dengan tenang sambil merenungkan jawaban Ali. Ini mengajarkan kita untuk bersikap lembut saat menasihati, meskipun nasihat tidak diterima dengan sempurna. Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Adab al-Mufrad (no. 269) bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan."
Kelima: Perbedaan antara kewajiban dan sunnah
Ali dan Fatimah tidak diwajibkan shalat malam, karena shalat malam hukumnya sunnah muakkad. Namun Nabi ﷺ tetap mengingatkan karena beliau ingin mereka membiasakan diri dengan amalan sunnah yang mulia. Imam asy-Syafi'i dalam al-Umm (1/155) menyebutkan bahwa shalat malam adalah amalan yang sangat dianjurkan bagi yang mampu.
Story Telling
Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri rahimahullah, beliau berkata: "Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan berkata: 'Wahai Rasulullah, aku memiliki unta yang kuat, namun aku tidak bisa shalat malam.' Maka Nabi ﷺ bersabda: 'Setan telah mengencingi telinganya.'" (HR. al-Bukhari no. 1144)
Kisah ini menunjukkan bahwa meninggalkan shalat malam dengan alasan apapun adalah tipu daya setan. Al-Hasan al-Bashri sering menasihati murid-muridnya: "Janganlah kalian menjadikan takdir sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Karena Allah memerintahkan kita beramal, dan Dia Maha Mengetahui apa yang kita usahakan."
Kesimpulan Praktis
- Jangan menjadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan ketaatan. Berusahalah semaksimal mungkin, karena Allah memerintahkan kita beramal, bukan berdalih.
- Biasakan shalat malam meskipun hanya dua rakaat. Ini adalah amalan yang sangat dicintai Allah dan menjadi kebiasaan orang shalih.
- Jika sulit bangun, berdoalah sebelum tidur dan pasang niat yang kuat. Gunakan alarm atau minta tolong keluarga untuk membangunkan.
- Jangan berdebat dengan dalil yang lemah saat dinasihati. Terimalah nasihat dengan lapang dada dan perbaiki diri.
- Teladani kelembutan Nabi ﷺ dalam menasihati. Jika ada orang yang beralasan, nasihatilah dengan hikmah dan jangan memaksa.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.