Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah hadits yang sangat agung dan lengkap, diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, yang menggambarkan doa-doa dan dzikir yang diajarkan Rasulullah ﷺ dalam shalat malam (qiyamul lail). Hadits ini mengajarkan kita adab berdoa yang sempurna: memulai dengan pujian dan pengakuan keesaan Allah, kemudian mengakui dosa dan kelemahan diri, memohon ampunan dan petunjuk akhlak yang baik, serta doa-doa khusus pada setiap gerakan shalat (rukuk, i'tidal, sujud) dan di akhir shalat sebelum salam. Ini adalah panduan praktis untuk menghidupkan shalat malam dengan kekhusyukan dan kedekatan kepada Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat Musafir dan Qashar, Bab Doa dalam Shalat Malam dan Qiyam (no. 771). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, An-Nasa'i, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dengan redaksi yang serupa.
Ayat Al-Qur'an yang terkait dengan pembukaan doa Nabi ﷺ:
- Nama Surah & Ayat: QS. Al-An'am [6]: 79
- Teks Arab (dengan harakat lengkap):
إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
- Terjemahan: "Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik."
Ayat lain yang terkait dengan doa Nabi ﷺ:
- Nama Surah & Ayat: QS. Al-An'am [6]: 162-163
- Teks Arab (dengan harakat lengkap):
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
- Terjemahan: "Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).'"
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama dari kalangan salaf, seperti Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar dan Syarah Shahih Muslim, menjelaskan bahwa hadits ini adalah salah satu hadits terpenting dalam bab doa shalat. Beliau menekankan bahwa doa-doa ini adalah sunnah yang diajarkan Nabi ﷺ dan sangat dianjurkan untuk diamalkan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin juga menjelaskan keutamaan dan kandungan hadits ini sebagai bentuk puncak penghambaan diri kepada Allah dalam setiap gerakan shalat.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah permata berharga dari perbendaharaan sunnah. Mari kita rinci kandungannya:
- Doa Istiftah (Pembuka Shalat): Nabi ﷺ memulai shalatnya dengan doa yang sangat dalam maknanya. Ini adalah pernyataan tauhid yang murni dan totalitas penghambaan.
- "Wajjahtu wajhiya..." (Aku hadapkan wajahku...): Ini adalah pernyataan bahwa seluruh orientasi hidup, tujuan, dan arah hati seorang muslim hanyalah kepada Allah. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa "menghadapkan wajah" di sini bermakna menghadapkan hati, niat, dan seluruh ibadah hanya kepada Allah semata.
- "Inna shalati wa nusuki..." (Sesungguhnya shalatku, ibadahku...): Ini adalah puncak keikhlasan. Seluruh kehidupan, ibadah, bahkan kematian seorang mukmin hanyalah untuk Allah. Ini adalah esensi dari firman Allah dalam QS. Al-An'am [6]: 162-163.
- "Allahumma Antal Malik..." (Ya Allah, Engkau adalah Raja...): Setelah pernyataan tauhid, Nabi ﷺ mengakui keagungan Allah sebagai Raja, lalu mengakui kehambaan dan kelemahan dirinya. Ini adalah adab berdoa yang sempurna: memuji Allah sebelum meminta.
- Doa Rukuk: Ketika rukuk, Nabi ﷺ mengucapkan doa yang menunjukkan kepasrahan total: "Allahumma laka raka'tu..." (Ya Allah, hanya kepada-Mu aku rukuk...). Beliau menyebutkan anggota tubuhnya (pendengaran, penglihatan, sumsum, tulang, dan urat) yang tunduk dan khusyuk kepada Allah. Ini mengajarkan kita bahwa kekhusyukan bukan hanya di hati, tetapi seluruh anggota badan harus turut serta dalam ibadah.
- Doa I'tidal (Bangun dari Rukuk): Nabi ﷺ mengucapkan pujian yang sangat agung: "Allahumma Rabbana lakal hamdu mil'as samawati..." (Ya Allah, Tuhan kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit...). Ini adalah pujian yang tidak terbatas, menunjukkan bahwa Allah layak dipuji tanpa batas.
- Doa Sujud: Dalam sujud, Nabi ﷺ mengulang pernyataan kepasrahan dan mengagungkan Allah sebagai "Ahsanul Khaliqin" (Sebaik-baik Pencipta). Sujud adalah posisi paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya, dan doa ini adalah puncak kerendahan hati di hadapan Sang Pencipta.
- Doa Sebelum Salam: Ini adalah doa yang sangat komprehensif. Nabi ﷺ memohon ampunan untuk semua dosa: yang telah lalu dan yang akan datang, yang tersembunyi dan yang terang-terangan, serta dosa yang dilakukan karena melampaui batas. Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak pernah merasa aman dari dosa dan selalu membutuhkan ampunan Allah. Diakhiri dengan pengakuan bahwa Allah-lah yang memajukan dan mengakhirkan segala sesuatu, dan tidak ada Tuhan selain Dia.
Pendapat Ulama tentang Amalan Ini:
Para ulama, termasuk Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zad al-Ma'ad, menjelaskan bahwa ini adalah salah satu bentuk doa istiftah dan dzikir yang diajarkan Nabi ﷺ. Beliau menegaskan bahwa mengamalkan doa-doa ini adalah bagian dari mengikuti sunnah dalam shalat dan akan menambah kekhusyukan serta pahala shalat seseorang. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menukil hadits ini dan menjelaskan faedah-faedahnya, terutama dalam hal adab berdoa yang diajarkan Nabi ﷺ.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri rahimahullah, seorang ulama besar dari kalangan tabi'in yang terkenal dengan ibadah dan ketakwaannya, sering kali menangis ketika membaca dan merenungkan doa-doa ini. Beliau berkata, "Betapa agungnya doa ini! Ia mengajarkan kita untuk mengakui dosa dan kehinaan diri di hadapan Allah, dan pada saat yang sama, ia mengajarkan kita untuk berharap hanya kepada Allah semata." Para salafush shalih sangat menjaga doa-doa ini dalam shalat malam mereka. Mereka memahami bahwa shalat malam bukan sekadar rutinitas, tetapi adalah waktu untuk berdialog mesra dengan Allah, mengakui kelemahan, dan memohon kekuatan.
Kesimpulan Praktis
Berikut poin-poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Menghafal dan Mengamalkan Doa Istiftah: Mulailah shalat (terutama shalat malam) dengan doa istiftah yang agung ini. Ini akan menanamkan keikhlasan dan tauhid dalam hati kita sejak awal shalat.
- Memperbanyak Doa dalam Rukuk dan Sujud: Jangan hanya membaca tasbih wajib, tetapi perbanyaklah doa-doa yang diajarkan Nabi ﷺ pada setiap gerakan shalat, terutama dalam sujud.
- Memperbaiki Kualitas Shalat: Hadits ini mengajarkan bahwa shalat bukan hanya gerakan fisik, tetapi melibatkan hati, lisan, dan seluruh anggota badan. Berusahalah untuk menghadirkan hati dalam setiap ucapan dan gerakan.
- Mengakui Dosa dan Memohon Ampunan: Jadikan doa sebelum salam ini sebagai kebiasaan. Ini adalah momen terbaik untuk memohon ampunan atas semua dosa, baik yang disengaja maupun tidak.
- Menghidupkan Shalat Malam: Jadikan hadits ini sebagai motivasi untuk menghidupkan shalat malam (qiyamul lail) dengan doa-doa yang penuh makna.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.