Penjelasan Hadits Muslim No. 763 tentang Doa memohon cahaya dalam shalat malam Nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah hadits yang sangat agung dan sarat pelajaran. Ia menggambarkan secara rinci bagaimana Nabi ﷺ bangun di malam hari untuk shalat tahajud, mulai dari tata cara wudhu, jumlah rakaat, hingga doa yang beliau panjatkan. Inti dari hadits ini adalah anjuran untuk memperbanyak doa memohon cahaya (nur) kepada Allah dalam segala aspek kehidupan, serta menunjukkan bahwa shalat malam adalah amalan yang dicontohkan langsung oleh Nabi ﷺ dengan penuh kekhusyukan dan kesederhanaan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat Musafir dan Qashar, Bab Doa dalam Shalat Malam dan Qiyamnya, nomor 763. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab al-Tahajjud, Bab Wudhu Nabi ﷺ di Malam Hari, nomor 6316, dari jalur yang berbeda.

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Muzzammil [73]: 2-4

قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا ۝ نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا ۝ أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

"Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurangilah dari itu sedikit, atau lebihkanlah darinya, dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan (tartil)."

Kaitan dengan Ulama:

Hadits ini adalah salah satu hadits yang dijadikan dalil oleh para ulama tentang disyariatkannya shalat malam dan doa memohon cahaya. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Fath al-Bari (Syarh Shahih al-Bukhari) membahas hadits ini secara panjang lebar, terutama tentang makna doa "nur" yang dipanjatkan Nabi ﷺ. Beliau menjelaskan bahwa doa ini mencakup permohonan cahaya yang menyeluruh, baik lahir maupun batin.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh sahabat mulia, Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma. Beliau menceritakan pengalamannya bermalam di rumah bibinya, Maimunah radhiyallahu 'anha, yang merupakan istri Nabi ﷺ. Ini adalah salah satu momen langka di mana seorang sahabat muda dapat mengamati langsung ibadah malam Nabi ﷺ secara detail.

Beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

  1. Tata Cara Wudhu Nabi ﷺ di Malam Hari: Dalam hadits ini, Ibnu Abbas menggambarkan bahwa Nabi ﷺ berwudhu dengan wudhu yang "baik di antara dua keadaan" (wudhu'an baina al-wudhu'ain). Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa maknanya adalah wudhu yang sempurna, tidak terlalu berlebihan dalam menggunakan air namun juga tidak mengurangi bagian-bagian yang wajib. Ini menunjukkan bahwa wudhu yang baik adalah wudhu yang sederhana namun sempurna.
  2. Jumlah Rakaat Shalat Malam: Ibnu Abbas menyaksikan bahwa total shalat malam Nabi ﷺ adalah tiga belas rakaat. Ini termasuk shalat witir. Para ulama berbeda pendapat tentang rincian jumlah ini. Ada yang berpendapat bahwa itu adalah delapan rakaat tahajud dan lima rakaat witir, atau sepuluh rakaat dan tiga rakaat witir. Namun, yang terpenting adalah bahwa shalat malam Nabi ﷺ tidaklah berlebihan, tetapi beliau menjaga kualitas dan kekhusyukan dalam setiap rakaatnya. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa jumlah ini adalah kebiasaan Nabi ﷺ yang paling sering.
  3. Posisi Makmum di Samping Imam: Ketika Ibnu Abbas berdiri untuk shalat di belakang Nabi ﷺ, beliau berdiri di sebelah kiri. Namun, Nabi ﷺ memegang tangannya dan memindahkannya ke sebelah kanan. Ini adalah dalil bahwa jika hanya ada satu makmum, maka posisinya adalah di sebelah kanan imam, sejajar dengannya, bukan di belakang. Ini adalah pelajaran fiqih penting yang diambil oleh para ulama dari hadits ini.
  4. Doa Memohon Cahaya (Nur): Bagian yang paling agung dari hadits ini adalah doa yang dipanjatkan Nabi ﷺ. Beliau memohon kepada Allah agar dijadikan cahaya dalam hati, penglihatan, pendengaran, dari arah kanan, kiri, atas, bawah, depan, dan belakang. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa "nur" di sini adalah cahaya petunjuk dan keimanan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Cahaya ini akan menerangi jalan hidupnya, menjaganya dari kesesatan, dan membimbingnya menuju kebaikan. Ini adalah doa yang sangat komprehensif, memohon petunjuk dalam seluruh aspek kehidupan.
  5. Tidur Setelah Shalat Malam: Setelah shalat malam, Nabi ﷺ berbaring dan tidur hingga datang waktu subuh. Ini menunjukkan bahwa shalat malam tidak harus dilakukan terus-menerus hingga subuh, tetapi boleh diakhiri dengan tidur sejenak untuk memulihkan tenaga.
  6. Tidak Berwudhu Lagi untuk Shalat Subuh: Ketika Bilal datang untuk mengumandangkan adzan subuh, Nabi ﷺ langsung berdiri dan shalat tanpa berwudhu lagi. Ini menunjukkan bahwa tidurnya Nabi ﷺ tidak membatalkan wudhu. Ini adalah dalil bagi pendapat yang menyatakan bahwa tidur tidak membatalkan wudhu selama tidak ada hadats yang keluar. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Imam al-Bukhari dan sejumlah ulama lainnya.

Story Telling

Hadits ini sendiri adalah sebuah kisah yang indah. Bayangkan seorang remaja, Ibnu Abbas, yang penuh rasa ingin tahu, ingin sekali melihat bagaimana Nabi ﷺ beribadah di malam hari. Ia sengaja bermalam di rumah bibinya, Maimunah, dengan harapan dapat menyaksikan hal tersebut.

Ketika Nabi ﷺ bangun, Ibnu Abbas juga ikut bangun. Namun, ia merasa malu dan tidak ingin Nabi ﷺ mengira bahwa ia sengaja mengawasi beliau. Maka ia pun meregangkan tubuhnya seolah-olah baru terbangun secara alami. Ini menunjukkan adab seorang sahabat yang sangat menjaga perasaan dan tidak ingin terkesan mengganggu ibadah Nabi ﷺ.

Setelah itu, ia berdiri untuk shalat di samping Nabi ﷺ. Namun, dengan penuh kelembutan, Nabi ﷺ memegang tangannya dan memindahkannya ke sisi kanan. Ini adalah momen yang sangat berharga bagi Ibnu Abbas, yang kemudian ia abadikan dan sampaikan kepada umat hingga hari ini. Kisah ini mengajarkan kita tentang adab, kelembutan, dan semangat untuk belajar dari Rasulullah ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Semangat Menuntut Ilmu: Jadilah seperti Ibnu Abbas yang bersemangat untuk belajar dan mengamati ibadah Nabi ﷺ secara langsung.
  2. Menjaga Adab: Dalam menuntut ilmu, jagalah adab dan perasaan guru atau orang yang kita pelajari.
  3. Menghidupkan Shalat Malam: Usahakan untuk shalat malam, meskipun hanya sedikit. Yang terpenting adalah menjaga kualitas dan kekhusyukan.
  4. Memperbanyak Doa Memohon Nur: Perbanyaklah membaca doa yang diajarkan Nabi ﷺ ini, terutama di dalam shalat atau di luar shalat, untuk memohon petunjuk dan cahaya iman dalam hidup kita.
  5. Memahami Fiqih: Pelajari dan pahami tata cara ibadah sesuai dengan contoh Nabi ﷺ, seperti posisi makmum ketika shalat berjamaah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?