Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadr itu benar-benar ada di bulan Ramadhan, dan para sahabat berbeda pendapat tentang malam pastinya. Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu dengan tegas menyatakan bahwa malam itu adalah malam ke-27, berdasarkan kabar dari Rasulullah ﷺ. Tandanya, matahari terbit di pagi harinya dalam keadaan putih bersih tanpa sinar yang menyilaukan. Ini adalah kabar gembira sekaligus motivasi bagi kita untuk bersungguh-sungguh beribadah di sepuluh malam terakhir Ramadhan, terutama di malam-malam ganjil.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Shalat Musafir dan Qasharnya, Bab Anjuran Shalat di Bulan Ramadhan dan Tarawih, no. 762. Juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya secara mu'allaq (no. 2017) dan Imam At-Tirmidzi (no. 3350).
Dalil utama tentang keutamaan Lailatul Qadr adalah firman Allah ﷻ:
QS. Al-Qadr [97]: 1-3
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan."
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa malam ini lebih baik daripada seribu bulan, dan beribadah pada malam tersebut lebih utama daripada ibadah selama 83 tahun 4 bulan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Perbedaan Pendapat Sahabat tentang Waktu Lailatul Qadr
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa para sahabat berbeda pendapat tentang penetapan malam Lailatul Qadr. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berpendapat bahwa siapa yang shalat setiap malam sepanjang tahun, niscaya ia akan mendapatkan Lailatul Qadr. Ini karena beliau berhati-hati, sebab malam tersebut tidak diketahui secara pasti kapan terjadinya.
Adapun Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu, beliau bersumpah dengan nama Allah bahwa Lailatul Qadr itu di bulan Ramadhan, tepatnya pada malam ke-27. Beliau mengetahui hal ini karena Rasulullah ﷺ pernah memerintahkan mereka untuk menghidupkan malam tersebut.
2. Pendapat yang Lebih Kuat
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa Lailatul Qadr terjadi di sepuluh malam terakhir Ramadhan, dan lebih kuat lagi di malam-malam ganjil. Beliau menukil bahwa Ubay bin Ka'ab dan sejumlah ulama salaf menguatkan pendapat bahwa malam itu adalah malam ke-27, namun beliau juga menyatakan bahwa hikmah dirahasiakannya malam tersebut agar umat Islam bersungguh-sungguh beribadah di seluruh sepuluh malam terakhir.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa pendapat yang paling tepat adalah Lailatul Qadr berpindah-pindah di antara malam-malam ganjil pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Terkadang terjadi di malam ke-21, ke-23, ke-25, ke-27, atau ke-29. Ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Carilah Lailatul Qadr di malam-malam ganjil pada sepuluh malam terakhir Ramadhan." (HR. Al-Bukhari no. 2017 dan Muslim no. 1169)
3. Tanda Lailatul Qadr
Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu menyebutkan tanda Lailatul Qadr, yaitu matahari terbit di pagi harinya dalam keadaan putih bersih tanpa sinar yang menyilaukan. Tanda ini juga disebutkan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ubay bin Ka'ab, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda tentang tanda malam tersebut.
Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa tanda ini adalah salah satu tanda yang bisa diketahui setelah malam itu berlalu. Namun, tanda ini bukanlah syarat untuk mendapatkan keutamaannya. Yang terpenting adalah kita beribadah dengan ikhlas di malam-malam tersebut.
4. Hikmah Dirahasiakannya Lailatul Qadr
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa Allah ﷻ merahasiakan Lailatul Qadr agar hamba-hamba-Nya bersungguh-sungguh dalam beribadah di seluruh malam Ramadhan, terutama di sepuluh malam terakhirnya. Seandainya malam itu ditentukan secara pasti, sebagian orang mungkin hanya akan beribadah di malam itu saja dan meninggalkan malam-malam lainnya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu adalah salah seorang sahabat yang paling memahami Al-Qur'an. Suatu ketika, Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata tentang Lailatul Qadr: "Barangsiapa yang shalat setiap malam sepanjang tahun, niscaya ia akan mendapatkannya."
Mendengar hal ini, Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu bersumpah dengan nama Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, bahwa Lailatul Qadr itu ada di bulan Ramadhan, dan beliau mengetahui malamnya, yaitu malam ke-27. Beliau bersandar pada perintah Rasulullah ﷺ untuk menghidupkan malam tersebut.
Kisah ini menunjukkan kedalaman ilmu para sahabat dan semangat mereka dalam beribadah. Ubay bin Ka'ab tidak hanya berpendapat, tetapi beliau bersumpah karena yakin dengan apa yang beliau sampaikan dari Rasulullah ﷺ. Adapun Abdullah bin Mas'ud, beliau memilih jalan kehati-hatian agar seseorang tidak meninggalkan ibadah di malam-malam lainnya.
Kesimpulan Praktis
- Bersungguh-sungguh mencari Lailatul Qadr di sepuluh malam terakhir Ramadhan, terutama di malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, 29).
- Menghidupkan malam tersebut dengan shalat, doa, dzikir, dan membaca Al-Qur'an, sebagaimana yang dicontohkan Nabi ﷺ dan para sahabat.
- Tidak berdebat tentang penetapan malam yang pasti, karena yang terpenting adalah keikhlasan dan kesungguhan kita dalam beribadah.
- Mengetahui tanda-tandanya sebagai kabar gembira, namun tidak menjadikannya syarat untuk beramal.
- Memperbanyak doa yang diajarkan Nabi ﷺ di malam-malam tersebut: "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni" (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai maaf, maka maafkanlah aku).
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.