Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dengan cara yang layak bagi keagungan-Nya, lalu menyeru hamba-Nya untuk berdoa, meminta, dan beristighfar. Ini adalah waktu mustajab yang sangat dianjurkan untuk menghidupkan malam dengan doa dan istighfar. Kita wajib mengimani turunnya Allah tanpa menyerupakannya dengan makhluk dan tanpa menakwilkan secara batil.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 758), dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه, melalui jalur az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri) dari Abu Abdillah al-Aghar dan Abu Salamah bin Abdurrahman.
Teks hadits:
«يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ»
Terjemahan: "Tuhan kita, Yang Maha Diberkahi dan Maha Tinggi, turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu berkata: Siapa yang berdoa kepada-Ku agar Aku menjawabnya? Siapa yang meminta kepada-Ku agar Aku memberinya? Siapa yang meminta ampun kepada-Ku agar Aku mengampuninya?"
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan kedekatan Allah dan doa:
QS. Al-Baqarah [2]: 186
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Terjemahan: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran."
Penjelasan Rinci
Hadits ini termasuk hadits tentang sifat-sifat Allah (shifat khabariyyah) yang wajib diimani sebagaimana adanya, tanpa tahrif (mengubah makna), ta'thil (menolak), takyif (menanyakan bagaimana), dan tamtsil (menyerupakan dengan makhluk). Ini adalah manhaj yang dipegang oleh Imam Malik, Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan para ulama Ahlus Sunnah setelahnya.
Imam Malik bin Anas رحمه الله ketika ditanya tentang turunnya Allah, beliau menjawab dengan kaidah yang masyhur: "Turunnya itu diketahui maknanya, caranya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentang caranya adalah bid'ah." Kaidah ini dinukil oleh para ulama setelahnya seperti Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam menjelaskan manhaj salaf dalam sifat-sifat Allah.
Ibn Taymiyyah رحمه الله dalam kitab-kitabnya seperti Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa hadits nuzul ini mutawatir dari Nabi ﷺ, diriwayatkan dari banyak sahabat, dan wajib diimani sesuai zhahirnya yang layak bagi Allah tanpa menyerupakannya dengan makhluk. Beliau menegaskan bahwa Allah Maha Tinggi di atas Arsy-Nya, dan turunnya Allah ke langit dunia adalah turun yang hakiki sesuai keagungan-Nya, bukan berarti Allah berada di dalam makhluk atau berpindah seperti makhluk.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya seperti Ijtima' al-Juyusy al-Islamiyyah dan lainnya juga menegaskan hal yang sama, bahwa Allah turun dengan cara yang tidak diketahui hakikatnya oleh makhluk, dan ini adalah bagian dari kesempurnaan rububiyyah-Nya serta rahmat-Nya kepada hamba-Nya.
Adapun makna "menyeru" dalam hadits ini, sebagaimana dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, adalah seruan yang menunjukkan luasnya rahmat Allah dan besarnya harapan bagi hamba untuk berdoa di waktu tersebut. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan anjuran memperbanyak doa, permintaan, dan istighfar pada sepertiga malam terakhir, karena waktu itu adalah waktu turunnya rahmat dan ijabah (pengabulan).
Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitab Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa sepertiga malam terakhir adalah waktu yang sangat mulia, di mana Allah turun dan menyeru hamba-Nya. Beliau menyebutkan bahwa para salaf sangat menjaga waktu ini untuk berdoa dan istighfar, karena mereka yakin bahwa seruan Allah itu benar dan pengabulan doa itu nyata.
As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan ayat QS. Al-Baqarah [2]: 186 bahwa kedekatan Allah dengan hamba-Nya adalah kedekatan yang hakiki dalam arti Allah mendengar doa dan mengabulkannya, dan ini selaras dengan hadits nuzul yang menunjukkan bahwa Allah benar-benar mendekat kepada hamba-Nya yang berdoa pada waktu tersebut.
Perbedaan pendapat di antara ulama dalam daftar: Sebagian ulama seperti Ibn Khuzaymah dan Ibn Hibban menegaskan hadits ini sebagai dalil sifat nuzul secara hakiki tanpa takwil. Adapun sebagian ulama muta'akhkhirin dari daftar seperti Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (meskipun beliau lebih banyak membahas hadits ini dalam konteks hadits riwayat al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan sifat Allah dan wajib diimani tanpa menyerupakan. Yang paling kuat adalah pendapat yang menetapkan sifat nuzul secara hakiki sesuai keagungan Allah, tanpa takyif dan tamtsil, sebagaimana manhaj salaf dan yang ditegaskan oleh Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim, dan ulama Ahlus Sunnah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin al-Mubarak رحمه الله, seorang ulama besar dari kalangan tabi'ut tabi'in, sangat menjaga waktu sepertiga malam terakhir untuk berdoa dan istighfar. Beliau dikenal sebagai orang yang banyak beribadah di malam hari, dan ketika ditanya tentang rahasia kegigihannya, beliau menyebutkan hadits nuzul ini dan berkata bahwa seorang hamba tidak pantas menyia-nyiakan waktu di mana Allah turun dan menyeru hamba-Nya untuk berdoa. Kisah ini disebutkan dalam biografi beliau dalam kitab-kitab seperti Siyar A'lam an-Nubala karya Adz-Dzahabi, yang menukil bahwa beliau menghidupkan malam-malamnya dengan doa dan istighfar, terutama pada sepertiga malam terakhir.
Hikmahnya: para salaf memahami hadits ini bukan sekadar pengetahuan, tetapi motivasi untuk beramal. Mereka menghidupkan malam dengan doa karena yakin bahwa seruan Allah itu benar dan pengabulan itu nyata.
Kesimpulan Praktis
- Imanilah hadits ini sebagaimana adanya, tanpa menanyakan bagaimana caranya dan tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk.
- Hidupkan sepertiga malam terakhir dengan doa, permintaan hajat, dan istighfar, karena itu waktu mustajab.
- Perbanyak istighfar di waktu tersebut, karena Allah menjanjikan ampunan bagi yang meminta ampun.
- Jangan menyia-nyiakan waktu mulia ini dengan tidur atau hal yang tidak bermanfaat.
- Ikutilah manhaj salaf dalam memahami sifat-sifat Allah, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Malik, Imam Ahmad, Ibn Taymiyyah, dan Ibn Qayyim.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.