Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 749 tentang Shalat malam dua rakaat dan ditutup witir satu rakaat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah dalil utama bahwa shalat malam (qiyamul lail) dikerjakan dengan cara dua rakaat-dua rakaat (salam setiap dua rakaat), dan ditutup dengan satu rakaat witir. Jika seseorang khawatir waktu Subuh akan segera tiba, maka ia cukup shalat satu rakaat sebagai penutup agar seluruh shalat malamnya menjadi ganjil. Ini adalah bentuk kemudahan dari Allah dan petunjuk Nabi ﷺ yang sangat jelas.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat Musafir dan Qashar, Bab "Shalat Malam Dua-Dua dan Witir Satu di Akhir Malam", nomor 749, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

"Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah tambahan) bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra' [17]: 79)

Ayat ini memerintahkan Nabi ﷺ untuk shalat malam, dan hadits di atas menjelaskan tata caranya.

Kaitan dengan Ulama:

Para ulama dari kalangan sahabat, tabi'in, dan imam madzhab memahami hadits ini sebagai penjelasan tata cara shalat malam. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya shalat malam dengan dua rakaat-dua rakaat dan ditutup witir satu rakaat. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zaad al-Ma'ad juga menjelaskan bahwa Nabi ﷺ terkadang shalat malam dengan berbagai cara, namun yang paling utama dan sering beliau lakukan adalah dua rakaat-dua rakaat dengan satu witir di akhir.

Penjelasan Rinci

Makna Hadits

Sabda Nabi ﷺ: "صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى" artinya shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Maksudnya, setiap dua rakaat diakhiri dengan salam, kemudian melanjutkan dua rakaat lagi, dan seterusnya. Ini adalah bentuk yang paling utama dan paling sering dilakukan oleh Nabi ﷺ.

Kemudian sabda beliau: "فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى" artinya jika salah seorang dari kalian khawatir masuk waktu Subuh, maka shalatlah satu rakaat yang akan menjadikan shalat-shalatnya ganjil (witir). Ini menunjukkan bahwa witir adalah penutup shalat malam.

Pemahaman Ulama

Imam Asy-Syafi'i dan para ulama madzhab berpendapat bahwa shalat malam yang paling afdhal adalah dua rakaat-dua rakaat dengan salam di setiap dua rakaat, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain yang semakna. Ini juga pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Malik.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa shalat malam tidak boleh dikerjakan empat rakaat sekaligus dengan satu salam tanpa tasyahud awal, karena Nabi ﷺ memerintahkan dua rakaat-dua rakaat. Namun, jika seseorang mengerjakan empat rakaat sekaligus dengan satu salam, sebagian ulama membolehkannya namun menyelisihi yang lebih utama.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa witir boleh dilakukan satu rakaat, tiga rakaat, lima rakaat, dan seterusnya. Namun jika witir dilakukan tiga rakaat, boleh dengan dua salam (dua rakaat salam, lalu satu rakaat salam) atau satu salam dengan tasyahud akhir saja. Yang terpenting adalah witir dilakukan di akhir shalat malam.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga menjelaskan bahwa shalat malam yang dicontohkan Nabi ﷺ adalah dua rakaat-dua rakaat, dan witir adalah penutupnya. Jika seseorang ingin witir tiga rakaat, maka boleh dilakukan dengan dua rakaat salam kemudian satu rakaat salam, atau langsung tiga rakaat dengan satu salam.

Hikmah di Balik Tata Cara Ini

  1. Memudahkan — Dengan dua rakaat-dua rakaat, seseorang bisa berhenti kapan saja tanpa merasa terbebani.
  2. Menghindari rasa malas — Jika shalat malam panjang, seseorang bisa merasa berat. Dengan memecahnya, ia lebih semangat melanjutkan.
  3. Witir sebagai penutup — Witir satu rakaat di akhir berfungsi sebagai "stempel" ganjil untuk seluruh shalat malam, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari dengan witir" (HR. Bukhari dan Muslim).

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, perawi hadits ini, adalah seorang yang sangat tekun dalam shalat malam. Ia biasa shalat malam di rumahnya, dan jika ia merasa khawatir masuk waktu Subuh, ia bergegas berwitir satu rakaat. Ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami dan mengamalkan langsung petunjuk Nabi ﷺ ini dalam kehidupan sehari-hari.

Kisah lain, Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang shalat malam, beliau menjawab: "Aku tidak mengetahui shalat malam yang lebih utama daripada dua rakaat-dua rakaat, karena itulah yang diperintahkan Nabi ﷺ." Ini menunjukkan bahwa para ulama sangat berpegang teguh pada sunnah ini.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat malam dikerjakan dua rakaat-dua rakaat — setiap dua rakaat diakhiri dengan salam.
  2. Witir satu rakaat di akhir — jika khawatir masuk Subuh, cukup satu rakaat witir sebagai penutup.
  3. Witir boleh lebih dari satu rakaat — seperti tiga, lima, atau lebih, namun tetap diakhiri di akhir malam.
  4. Jangan menunda witir hingga terbit fajar — karena witir adalah penutup shalat malam.
  5. Niatkan shalat malam karena Allah — agar mendapatkan keutamaan qiyamul lail dan doa mustajab di sepertiga malam terakhir.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.