Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa akhlak Nabi ﷺ adalah Al-Qur'an, dan shalat malam (qiyamul lail) awalnya diwajibkan lalu diringankan menjadi sunnah. Nabi ﷺ melaksanakan shalat malam dengan berbagai cara, antara 9, 11, atau 7 rakaat witir, dan beliau sangat konsisten dalam ibadah. Hadits ini juga mengajarkan adab bertanya kepada ulama dan pentingnya mengikuti teladan Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Muzzammil [73]: 1-4 dan 20
<p>يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (1) قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا (2) نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا (3) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا (4)</p>
"Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) seperduanya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Qur'an dengan tartil."
<p>إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ۚ عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ ۙ وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ ۙ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (20)</p>
"Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau (Muhammad) berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam, atau sepertiganya, dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah, dan orang-orang yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan berikanlah pinjaman yang baik kepada Allah. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu sendiri, niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 746) dari jalur Qatadah, dari Zurarah, dari Sa'd bin Hisyam. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya.
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan shalat malam dan witir, serta berisi penjelasan tentang tata cara witir Nabi ﷺ.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari membahas hadits ini dalam konteks shalat malam dan witir.
- Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bari (syarh Shahih al-Bukhari) juga membahas tentang qiyamul lail dan witir.
Penjelasan Rinci
Hadits ini sangat kaya akan pelajaran. Berikut penjelasan rincinya:
- Akhlak Nabi ﷺ adalah Al-Qur'an: Jawaban Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa akhlak Nabi ﷺ adalah Al-Qur'an menunjukkan bahwa seluruh perilaku beliau adalah penerapan dari ajaran Al-Qur'an. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa maknanya adalah Nabi ﷺ mengamalkan seluruh perintah Al-Qur'an dan menjauhi seluruh larangannya. Ini adalah puncak akhlak.
- Hukum Shalat Malam: Aisyah menjelaskan bahwa shalat malam awalnya diwajibkan (fardhu) berdasarkan ayat pertama surat Al-Muzzammil. Qatadah dan Mujahid menafsirkan bahwa kewajiban ini berlangsung selama satu tahun. Kemudian Allah menurunkan ayat terakhir surat Al-Muzzammil yang meringankan hukumnya menjadi sunnah (tathawwu'). Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini adalah bentuk rahmat Allah kepada umat Islam.
- Tata Cara Witir Nabi ﷺ: Aisyah menjelaskan beberapa cara witir Nabi ﷺ:
- 11 rakaat: 9 rakaat dengan duduk tasyahud hanya di rakaat ke-8 dan ke-9, lalu salam, kemudian 2 rakaat lagi sambil duduk.
- 9 rakaat: Ketika usia beliau lanjut, beliau witir dengan 7 rakaat (dengan duduk di rakaat ke-6 dan ke-7), lalu 2 rakaat sambil duduk.
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa semua cara ini shahih dan menunjukkan keluwesan dalam shalat witir. Yang penting adalah witir dikerjakan dengan rakaat ganjil.
- Konsistensi dalam Ibadah: Aisyah menekankan bahwa Nabi ﷺ sangat suka konsisten (mudawamah) dalam ibadah. Jika beliau terhalang shalat malam karena tidur atau sakit, beliau menggantinya dengan 12 rakaat di siang hari. Ibnu Rajab dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa ini adalah petunjuk bagi yang terlewat shalat malam untuk menggantinya di siang hari.
- Larangan Berlebih-lebihan: Kisah awal hadits tentang Sa'd bin Hisyam yang ingin menjual hartanya untuk berjihad terus-menerus hingga mati, lalu dilarang oleh para sahabat dengan merujuk pada larangan Nabi ﷺ kepada enam orang lainnya. Nabi ﷺ bersabda, "Bukankah ada teladan bagi kalian dalam diriku?" Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah larangan berlebih-lebihan (ghuluw) dalam ibadah hingga meninggalkan kewajiban lain seperti nafkah keluarga. Islam adalah agama yang seimbang.
- Adab Bertanya: Hadits ini mengajarkan adab bertanya kepada ulama. Sa'd bin Hisyam bertanya kepada Ibnu Abbas, dan Ibnu Abbas menunjukkan orang yang lebih tahu, yaitu Aisyah. Ini menunjukkan pentingnya merujuk kepada ahlinya.
Story Telling
Kisah Sa'd bin Hisyam dalam hadits ini sendiri adalah pelajaran berharga. Ia adalah seorang yang sangat bersemangat dalam berjihad. Namun, semangatnya yang membara hampir membuatnya terjerumus dalam sikap berlebih-lebihan. Para sahabat yang lebih tua mengingatkannya dengan teladan Nabi ﷺ. Ini mengajarkan kita bahwa semangat ibadah harus selalu dibingkai dengan ilmu dan mengikuti sunnah, bukan dengan hawa nafsu. Semangat yang tidak dilandasi ilmu bisa menjerumuskan pada sikap ghuluw (ekstrem) yang dilarang.
Kesimpulan Praktis
- Teladani akhlak Nabi ﷺ dengan membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur'an.
- Jaga shalat malam (qiyamul lail) sebagai amalan sunnah yang sangat dianjurkan. Lakukanlah semampunya, baik 11, 9, 7, 5, atau 3 rakaat.
- Konsistenlah dalam ibadah. Jika terhalang, usahakan untuk menggantinya di waktu lain.
- Jangan berlebih-lebihan dalam ibadah hingga melalaikan kewajiban lain. Ikutilah teladan Nabi ﷺ yang seimbang.
- Bertanyalah kepada ahlinya (ulama yang terpercaya) ketika tidak mengetahui suatu masalah agama.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.