Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa mengaitkan turunnya hujan kepada bintang-bintang (nau') merupakan bentuk kufur nikmat, karena hujan adalah rahmat Allah semata. Orang yang bersyukur mengakui bahwa hujan berasal dari Allah, sedangkan orang yang kafir menyandarkannya kepada bintang, sehingga mereka dianggap mendustakan nikmat Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Wāqi‘ah [56]: 75–82, khususnya ayat 82:
فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ (75) وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ (76) إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ (77) فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ (78) لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ (79) تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (80) أَفَبِهَذَا الْحَدِيثِ أَنْتُمْ مُدْهِنُونَ (81) وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ (82)
Artinya: "Maka Aku bersumpah dengan tempat-tempat jatuhnya bintang. Sesungguhnya sumpah itu sangat besar jika kamu mengetahui. Sesungguhnya ini adalah Al-Qur’an yang mulia, dalam kitab yang terpelihara. Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam. Maka apakah kamu merasa lemah terhadap berita ini? Dan kamu menjadikan rezeki yang diberikan kepadamu sebagai pendustaan (terhadap Allah)." Ayat 82 secara khusus mengecam sikap orang yang menganggap rezeki (termasuk hujan) sebagai akibat dari bintang, padahal itu adalah nikmat Allah.
Hadits:
Hadits riwayat Muslim dalam Kitab al-Īmān, Bāb Bayān Kufri Man Qāla Maṭarnā bi an-Nau’ (no. 73), dari Ibnu ‘Abbās radhiyallahu ‘anhuma. Teks hadits sebagaimana tercantum dalam soal menyebutkan bahwa ketika hujan turun sebagian orang berkata "ini rahmat Allah" dan sebagian lain berkata "bintang ini dan itu telah benar", lalu turunlah ayat tersebut.
Penjelasan Ulama:
- Imam an-Nawawī (dalam Syarḥ Muslim, 3/48–50) menjelaskan bahwa kata "kāfir" dalam hadits ini berarti kufur nikmat, bukan kufur akidah yang mengeluarkan dari Islam, selama ia masih mengakui bahwa Allah pencipta hujan namun meyakini bintang sebagai sebab yang independen. Namun jika meyakini bintanglah yang menciptakan hujan secara mandiri, maka itu kufur akbar.
- Ibnu Hajar al-‘Asqalānī (dalam Fatḥ al-Bārī, 2/505) menjelaskan bahwa nau’ adalah bintang atau gugusan bintang tertentu yang pada masa jahiliah dipercaya sebagai penyebab turunnya hujan. Beliau mengutip pernyataan Ibnu ‘Abbās bahwa sikap seperti itu termasuk menyamakan sebab dengan Rabb.
- Imam Ibn Katṡīr (dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, 4/257–258) menafsirkan ayat 82 dengan mengatakan bahwa makna “taj‘alūna rizqakum annakum tukadzdzibūn” adalah "kamu menjadikan syukur atas rezeki (hujan) sebagai pendustaan dengan mengaitkannya kepada bintang".
- Syaikh ‘Abdurrahmān as-Sa‘dī (dalam Tafsīr as-Sa‘dī, hlm. 812) menguatkan bahwa ayat ini mengecam orang yang ketika diberi hujan (rizki) justru mendustakan pemberi nikmat dengan menyandarkannya kepada bintang.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Islam terhadap masalah tawḥīd dan syirik. Nabi ﷺ bersabda bahwa manusia terbagi dua saat hujan turun:
- Orang yang bersyukur – Mereka yang mengakui bahwa hujan semata-mata rahmat dari Allah.
- Orang yang kafir – Mereka yang mengaitkan hujan kepada bintang (nau’) tertentu.
Kata "kāfir" di sini, menurut mayoritas ulama dalam daftar (seperti Imam an-Nawawī, Ibnu Hajar, Ibnu Rajab dalam Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam), berarti kufr al-ni‘mah (kufur nikmat) atau syirik aṣghar (syirik kecil) yang tidak mengeluarkan dari Islam selama keyakinan penyebab masih dalam kerangka al-asbāb al-‘ādiyyah yang disediakan Allah. Namun jika seseorang meyakini bahwa bintang tersebut memiliki kekuatan mandiri untuk menurunkan hujan tanpa izin Allah, maka itu termasuk syirik akbar dan kekufuran hakiki.
Syaikh al-Albānī (dalam Silsilah al-Aḥādīts ash-Ṣaḥīḥah, no. 362) menegaskan bahwa hadits ini adalah dasar larangan at-tasyā’um dan at-tafa’ul dengan benda-benda langit. Beliau juga mengutip pendapat Imam Ibn Taymiyyah dalam Majmū‘ Fatāwā bahwa perbuatan ini termasuk syirik dalam rubūbiyyah (keyakinan tentang sebab akibat).
Imam Ahmad bin Hanbal dan Al-Bukhārī (dalam al-Adab al-Mufrad) meriwayatkan dari Abū Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Siapa yang berkata 'Kami mendapat hujan karena bintang ini dan itu' maka ia telah kufur kepada-Ku dan beriman kepada bintang." (HR. Ahmad, dishahihkan al-Albani). Ini semakin menegaskan bahwa mengaitkan hujan dengan bintang adalah pengingkaran terhadap nikmat Allah.
Ibnu Rajab al-Ḥanbalī (dalam Fatḥ al-Bārī Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, jilid 1) menjelaskan bahwa di zaman jahiliah, orang-orang percaya bahwa setiap musim tertentu terdapat bintang tertentu yang menjadi penyebab hujan. Maka turunnya ayat tersebut membantah keyakinan itu dan memerintahkan untuk mengakui bahwa hujan adalah rizq dari Allah.
Story Telling
Diriwayatkan dari Imam al-Bukhārī dalam al-Adab al-Mufrad (no. 920) bahwa Zaid bin Khālid al-Juhanī berkata: Rasulullah ﷺ pernah memimpin salat Subuh di Hudaibiyyah setelah hujan turun pada malam hari. Setelah selesai, beliau menghadap ke arah makmum dan bersabda: “Tahukah kalian apa yang difirmankan oleh Rabb kalian? Dia berfirman: ‘Pagi ini di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir.’ Adapun yang berkata, ‘Kami mendapat hujan karena rahmat dan karunia Allah,’ maka ia beriman kepada-Ku dan kufur kepada bintang-bintang. Sebaliknya, yang berkata, ‘Kami mendapat hujan karena bintang ini dan itu,’ maka ia kufur kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang.” (HR. Bukhari no. 846, Muslim no. 72).
Hikmah dari kisah ini: Sikap mengaitkan nikmat kepada selain Allah, meskipun berupa sebab yang tampak, adalah bentuk syirik yang harus dijauhi. Sebab-sebab alamiah hanyalah perantara, sedangkan yang memberi dan menahan adalah Allah semata.
Kesimpulan Praktis
- Jangan mengaitkan nikmat (hujan, kesembuhan, rezeki) kepada sebab-sebab selain Allah – seperti bintang, tanggal, atau orang tertentu, jika itu diyakini sebagai yang menciptakan atau mandiri dalam memberi.
- Ucapkan syukur setiap kali mendapat nikmat – dengan berkata "Hādzā min faḍli Rabbī" (ini dari karunia Tuhanku) atau "Allahumma mā aṣāba min ni‘mah faminka waḥdaka lā syarīka laka" (segala nikmat dari-Mu, tiada sekutu bagi-Mu).
- Ajak keluarga dan masyarakat untuk meyakini bahwa seluruh kejadian di alam adalah di bawah kekuasaan Allah, meskipun ada sebab-sebab yang Dia ciptakan.
- Pelajari tauhid agar tidak terjatuh pada syirik kecil yang bisa menghapus pahala.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.