Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa shalat Dhuha adalah shalat sunnah yang sangat dianjurkan. Nabi ﷺ biasa mengerjakan shalat Dhuha sebanyak empat rakaat, namun terkadang beliau menambah sesuai kehendak Allah. Hadits ini juga menjelaskan bahwa shalat Dhuha tidak terbatas hanya pada dua rakaat, tetapi bisa lebih, dan yang terpenting adalah menjaga kelangsungannya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Teks Arab hadits (sesuai yang Anda berikan):
حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ، - يَعْنِي الرِّشْكَ - حَدَّثَتْنِي مُعَاذَةُ، أَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - كَمْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُصَلِّي صَلاَةَ الضُّحَى قَالَتْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَيَزِيدُ مَا شَاءَ
Terjemahan: Mu'adzah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu 'anha, "Berapa rakaat Rasulullah ﷺ mengerjakan shalat Dhuha?" Aisyah menjawab, "Empat rakaat, dan beliau menambah sesuai kehendaknya."
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ
"Maka bertasbihlah kepada Allah pada waktu kamu berada di sore hari dan waktu kamu berada di waktu pagi." (QS. Ar-Rum [30]: 17)
Ayat ini antara lain menunjukkan anjuran beribadah di waktu pagi, termasuk shalat Dhuha.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya shalat Dhuha dan bahwa jumlah rakaatnya bisa bervariasi. Beliau menyebutkan bahwa minimal shalat Dhuha adalah dua rakaat, dan maksimalnya tidak ada batasan yang pasti, namun yang disebutkan dalam hadits-hadits shahih adalah delapan rakaat.
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas masalah ini dan menyebutkan perbedaan pendapat ulama tentang jumlah rakaat shalat Dhuha, namun beliau menegaskan bahwa yang terpenting adalah menjaga shalat Dhuha secara rutin.
Penjelasan Rinci
Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah maksimal rakaat shalat Dhuha:
- Pendapat pertama: Maksimal delapan rakaat. Ini berdasarkan hadits Ummu Hani' yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ shalat Dhuha delapan rakaat pada hari penaklukan Makkah. Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal.
- Pendapat kedua: Tidak ada batasan maksimal, seseorang boleh menambah lebih dari delapan rakaat. Ini berdasarkan hadits Aisyah di atas yang menyebutkan "dan beliau menambah sesuai kehendaknya." Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ kadang menambah lebih dari empat rakaat.
- Pendapat ketiga: Minimal dua rakaat. Ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu yang berwasiat agar shalat Dhuha dua rakaat.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa shalat Dhuha termasuk sunnah mu'akkadah (sangat dianjurkan), dan waktunya dimulai dari setelah matahari naik setinggi tombak hingga sebelum zawal (matahari tergelincir ke barat). Beliau juga menjelaskan bahwa jika seseorang ingin memperbanyak, maka tidak mengapa, karena tidak ada dalil yang membatasi secara tegas.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga menjelaskan bahwa shalat Dhuha bisa dikerjakan dua, empat, enam, atau delapan rakaat. Yang penting dilakukan dengan salam setiap dua rakaat.
Hikmah dari hadits ini adalah bahwa ibadah itu tidak kaku, dan kita diberi kelonggaran untuk memilih jumlah rakaat sesuai kemampuan, selama tetap dalam koridor sunnah. Yang terpenting adalah konsistensi dalam mengerjakan shalat Dhuha, karena ia adalah shalat orang-orang yang kembali kepada Allah (awwabin).
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal sangat menjaga shalat Dhuha. Beliau mengerjakannya secara rutin setiap hari, bahkan di saat sakit sekalipun. Ketika ditanya tentang hal ini, beliau berkata, "Aku tidak meninggalkan shalat Dhuha sejak aku mengetahuinya, karena ia adalah shalat yang dicintai oleh orang-orang yang kembali kepada Allah."
Kisah ini menunjukkan betapa para ulama salaf sangat menjaga shalat Dhuha, bukan hanya dari segi jumlah rakaatnya, tetapi juga dari segi konsistensinya. Mereka memahami bahwa shalat Dhuha adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah di waktu pagi, dan membuka pintu rezeki serta keberkahan.
Kesimpulan Praktis
- Shalat Dhuha adalah sunnah yang sangat dianjurkan dan termasuk amalan yang dicintai Allah.
- Minimal dua rakaat, dan bisa ditambah menjadi empat, enam, atau delapan rakaat.
- Waktu pelaksanaannya dimulai setelah matahari naik setinggi tombak (± 15 menit setelah syuruq) hingga sebelum masuk waktu dzuhur.
- Yang terpenting adalah konsistensi, bukan banyaknya rakaat. Lebih baik sedikit tapi rutin daripada banyak tapi jarang.
- Niatkan shalat Dhuha untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharap kebaikan-Nya di waktu pagi.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.