Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 674 tentang Yang tertua berhak menjadi imam shalat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa ketika safar (perjalanan) untuk menuntut ilmu telah selesai, seorang muslim hendaknya kembali kepada keluarganya, mengajarkan ilmu yang didapat, dan menasihati mereka. Dalam urusan shalat berjamaah di rumah, yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling tua usianya di antara mereka, setelah adzan dikumandangkan oleh salah seorang dari mereka. Ini menunjukkan perhatian besar Nabi ﷺ terhadap pendidikan keluarga dan kemudahan dalam urusan ibadah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Masajid wa Mawadhi' ash-Shalah, Bab "Man Ahaqqu bil Imamah", no. 674, dari sahabat Malik bin al-Huwairits radhiyallahu 'anhu.

Terdapat juga riwayat dalam Shahih al-Bukhari no. 628 dari sahabat yang sama dengan lafaz yang semakna.

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. At-Tahrim [66]: 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu."

Ayat ini menunjukkan kewajiban seorang muslim untuk mengajarkan dan mendidik keluarganya, sebagaimana Nabi ﷺ memerintahkan para sahabat untuk kembali dan mengajarkan keluarga mereka.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (5/145) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya mengajarkan ilmu kepada keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan, serta menunjukkan bahwa yang lebih tua lebih berhak menjadi imam jika kemampuan mereka setara.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (2/170) menjelaskan bahwa hadits ini dijadikan dalil oleh jumhur ulama bahwa yang lebih tua lebih didahulukan dalam imamah jika kedudukan lainnya setara.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:

1. Semangat menuntut ilmu dan adabnya

Malik bin al-Huwairits dan kawan-kawannya datang kepada Nabi ﷺ dalam keadaan masih muda dan sebaya. Mereka tinggal bersama Nabi ﷺ selama dua puluh malam untuk belajar. Ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu membutuhkan kesungguhan dan waktu. Para ulama salaf sangat perhatian dalam hal ini. Al-Hasan al-Bashri berkata: "Menuntut ilmu itu tidak mudah, seseorang harus bersabar dan meluangkan waktunya."

2. Kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya

Nabi ﷺ digambarkan dalam hadits ini sebagai rahimun raqiq (sangat penyayang dan lembut hati). Beliau memperhatikan keadaan para sahabatnya yang mungkin rindu keluarga, lalu bertanya tentang keluarga mereka. Ini menunjukkan bahwa seorang pendidik dan pemimpin harus peka terhadap keadaan orang-orang yang diasuhnya.

3. Perintah kembali dan mengajarkan keluarga

Nabi ﷺ tidak menyuruh mereka tinggal lebih lama, tetapi justru menyuruh mereka pulang untuk mengajarkan keluarga. Ini menunjukkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah yang diamalkan dan diajarkan. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa ilmu yang tidak diamalkan dan tidak diajarkan akan menjadi hujjah atas pemiliknya di hari kiamat.

4. Adzan dan imamah

Nabi ﷺ bersabda: "Jika waktu shalat tiba, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan, kemudian yang paling tua di antara kalian menjadi imam."

Para ulama menjelaskan bahwa dalam hadits ini, Nabi ﷺ tidak menyebut syarat lain selain usia. Namun dalam hadits-hadits lain, disebutkan bahwa yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling pandai membaca Al-Qur'an. Imam asy-Syafi'i dan jumhur ulama menggabungkan kedua dalil ini: jika kemampuan membaca Al-Qur'an dan pemahaman agama setara, maka yang lebih tua lebih didahulukan. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa urutan yang berhak menjadi imam adalah: yang paling pandai dalam hukum shalat dan bacaannya, kemudian yang paling tua, kemudian yang paling mulia nasabnya, dan seterusnya.

5. Kemudahan dalam syariat

Hadits ini juga menunjukkan bahwa syariat tidak memberatkan. Para sahabat yang baru belajar tidak diperintahkan untuk mencari imam yang lebih alim, tetapi cukup salah seorang dari mereka yang lebih tua menjadi imam. Ini menunjukkan bahwa shalat berjamaah itu mudah dan tidak perlu dipersulit.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Sa'id bin al-Musayyib — salah seorang ulama tabi'in yang paling utama — sangat perhatian terhadap pendidikan keluarganya. Beliau berkata: "Kami dahulu pergi untuk menuntut hadits, dan kami tidaklah pergi kecuali untuk tujuan itu. Maka ketika kami pulang, kami mengajarkannya kepada keluarga kami."

Beliau juga dikenal sebagai orang yang sangat menjaga shalat berjamaah di masjid selama empat puluh tahun, dan tidak pernah meninggalkan takbiratul ihram bersama imam. Ini menunjukkan bahwa ilmu dan amal harus berjalan beriringan.

Hikmah dari kisah ini: seorang muslim yang belajar tidak boleh pelit dengan ilmunya. Ia harus kembali kepada keluarganya dan mengajarkan mereka, sebagaimana diperintahkan Nabi ﷺ kepada Malik bin al-Huwairits dan kawan-kawannya.

Kesimpulan Praktis

  1. Menuntut ilmu itu mulia, dan setelah mendapat ilmu, hendaknya kembali kepada keluarga untuk mengajarkan dan mendidik mereka.
  2. Kasih sayang dalam mendidik — Nabi ﷺ memperhatikan keadaan murid-muridnya, dan kita pun hendaknya memperhatikan keadaan orang yang kita didik.
  3. Dalam shalat berjamaah, yang lebih tua lebih berhak menjadi imam jika kemampuan lainnya setara. Namun jika ada yang lebih pandai, maka yang lebih pandai lebih didahulukan.
  4. Jangan mempersulit urusan agama — shalat berjamaah di rumah cukup dengan salah seorang menjadi imam, tidak perlu mencari yang paling sempurna.
  5. Ilmu harus diamalkan dan diajarkan — ilmu yang bermanfaat adalah yang membawa pemiliknya dan orang lain lebih dekat kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.