Bab Keutamaan Duduk di Tempat Shalat Setelah Subuh dan Keutamaan Masjid
Shahih
haddatsana ahmadu ibnu abdi allahi ibni yunusa, haddatsana zuhayrun, haddatsana simakun, h wahaddatsana yahya ibnu yahya, - waallafzhu lahu - qala akhbarana abu khaytsamaha, an simaki ibni harbin, qala qultu lijabiri ibni samuraha akunta tujalisu rasula allahi qala naam katsiran kana la yaqumu min mushalahu adzi yushalli fihi asshubha awi alghadaha hatta tathlua assyamsu faidza thalaati assyamsu qama wakanu yatahaddatsuna fayakhudzuna fi amri aljahiliyyahi fayadhhakuna wayatabassamu.
Simak bin Harb melaporkan: Saya bertanya kepada Jabir bin Samurah: Apakah kamu duduk bersama Rasulullah (semoga keselamatan dan berkah Allah tercurah kepadanya)? Dia menjawab: Ya, sangat sering. Dia (Nabi yang Mulia) biasa duduk di tempat di mana dia melaksanakan shalat subuh hingga matahari terbit atau ketika matahari telah terbit; dia akan berdiri, dan mereka (para Sahabatnya) akan membicarakan hal-hal (yang berkaitan dengan masa) jahiliyah, dan mereka akan tertawa (tentang hal-hal tersebut) sementara (Nabi) hanya tersenyum.