Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 667 tentang Shalat lima waktu menghapus dosa seperti sungai membersihkan kotoran

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa shalat lima waktu memiliki kekuatan menghapus dosa-dosa kecil, sebagaimana sungai yang mengalir di depan pintu rumah seseorang yang mandi lima kali sehari akan menghilangkan seluruh kotoran di tubuhnya. Perumpamaan ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada hamba-Nya melalui ibadah shalat yang rutin dan terjaga.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 667), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, melalui jalur Muhammad bin Ibrahim, dari Abu Salamah bin Abdurrahman.

Teks hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَىْءٌ؟» قَالُوا: لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَىْءٌ. قَالَ: «فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا»

Terjemahan: "Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: 'Bagaimana pendapat kalian jika ada sungai di depan pintu salah seorang dari kalian, ia mandi di sana lima kali sehari — apakah masih tersisa kotoran padanya?' Mereka menjawab: 'Tidak akan tersisa kotoran sedikit pun.' Beliau bersabda: 'Itulah perumpamaan shalat lima waktu, dengan shalat itu Allah menghapus dosa-dosa.'"

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Hud [11]: 114

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

Terjemahan: "Dan dirikanlah shalat pada kedua ujung siang dan pada bagian awal malam. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapus keburukan-keburukan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang mengingat."

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Hadits ini menggunakan metode perumpamaan (tamtsil) yang sangat indah untuk menanamkan pemahaman dalam jiwa. Nabi ﷺ bertanya kepada para sahabat tentang sebuah gambaran yang mudah dipahami akal: seseorang yang memiliki sungai mengalir tepat di depan pintu rumahnya dan ia mandi di sana lima kali setiap hari. Secara logika, tidak mungkin ada kotoran yang tersisa di tubuhnya. Kemudian Nabi ﷺ menjelaskan bahwa itulah gambaran shalat lima waktu — Allah menghapus dosa-dosa hamba-Nya dengan shalat tersebut.

Pemahaman para ulama dalam daftar:

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan shalat lima waktu dan bahwa shalat-shalat tersebut menjadi sebab dihapusnya dosa-dosa kecil (ash-shagha'ir). Beliau menegaskan bahwa yang dimaksud "al-khathaya" di sini adalah dosa-dosa kecil, bukan dosa besar, karena dosa besar memerlukan taubat khusus. Hal ini sejalan dengan hadits lain yang menyebutkan bahwa shalat lima waktu, Jumat ke Jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan menghapus dosa di antara keduanya selama dosa besar dijauhi.

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perumpamaan sungai ini mengandung beberapa hikmah: pertama, shalat lima waktu datang berulang setiap hari seperti seseorang yang mandi lima kali sehari. Kedua, sebagaimana air membersihkan kotoran fisik, shalat membersihkan kotoran spiritual (dosa). Ketiga, konsistensi dan keteraturan shalat lima waktu adalah kunci pembersihan yang berkelanjutan.

Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa dosa-dosa kecil dapat terhapus dengan amal-amal saleh secara umum, dan shalat lima waktu secara khusus. Beliau juga menyebutkan bahwa syarat terhapusnya dosa adalah shalat dikerjakan dengan ikhlas, sesuai tuntunan Nabi ﷺ, dan disertai penyesalan atas dosa yang dilakukan.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa perumpamaan ini menunjukkan betapa Allah tidak membiarkan hamba-Nya dalam kotoran dosa, tetapi menyediakan sarana pembersihan yang mudah dan berulang. Shalat lima waktu adalah "sungai" yang mengalir di kehidupan seorang mukmin.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Para ulama berbeda pendapat apakah hadits ini mencakup semua dosa atau hanya dosa kecil. Jumhur ulama (mayoritas) — termasuk an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan Ibn Rajab — berpendapat bahwa yang dihapus adalah dosa-dosa kecil (ash-shagha'ir), sedangkan dosa besar (al-kaba'ir) memerlukan taubat khusus. Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah lainnya dalam Shahih Muslim yang menyebutkan "selama tidak dilakukan dosa besar" (ma lam tu'khal al-kaba'ir). Pendapat ini yang paling kuat dan dipegang oleh mayoritas ulama Ahlus Sunnah.

Syarat terhapusnya dosa melalui shalat:

Para ulama menyebutkan beberapa syarat agar shalat menjadi penghapus dosa:

  1. Dikerjakan dengan ikhlas karena Allah
  2. Sesuai tuntunan Nabi ﷺ (mutaba'ah)
  3. Dijaga waktunya
  4. Disertai penyesalan dan meninggalkan dosa tersebut
  5. Tidak melakukan dosa besar

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu — sahabat yang meriwayatkan hadits ini — adalah sahabat yang sangat tekun meriwayatkan hadits Nabi ﷺ. Beliau dikenal sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, karena beliau selalu menyertai Nabi ﷺ dalam majelis-majelis ilmu. Dalam sebuah riwayat yang disebutkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, Abu Hurairah pernah berdoa agar diberi kemampuan menghafal hadits Nabi ﷺ, dan doa itu dikabulkan.

Hadits ini mengingatkan kita pada kisah seorang salaf yang pernah berkata: "Aku tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah selama bertahun-tahun, dan aku merasakan bahwa setiap shalat membersihkan sesuatu dari diriku." Para salafus shalih memahami shalat bukan sekadar kewajiban, tetapi sebagai sarana pembersihan jiwa yang berkelanjutan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga shalat lima waktu dengan mengerjakannya tepat waktu, karena ia adalah "sungai" yang membersihkan dosa-dosa kecil setiap hari.
  2. Pahami bahwa shalat bukan sekadar rutinitas, tetapi sarana Allah untuk menghapus kesalahan kita — ini menumbuhkan kesadaran dan kekhusyukan.
  3. Jauhi dosa besar, karena shalat lima waktu tidak menghapus dosa besar tanpa taubat khusus.
  4. Perbanyak istighfar dan taubat untuk dosa-dosa besar, dan jadikan shalat sebagai sarana muhasabah harian.
  5. Ajarkan kepada keluarga tentang keutamaan shalat ini agar mereka termotivasi menjaga shalat dengan baik.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi