Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 640 tentang Penundaan shalat Isya dan keutamaan menunggu shalat berjamaah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan dua hal penting: pertama, bolehnya mengakhirkan shalat Isya hingga tengah malam, terutama jika itu lebih utama bagi jamaah yang menunggu. Kedua, keutamaan besar orang yang menunggu shalat berjamaah—mereka dihitung dalam keadaan shalat selama menunggu. Ini adalah kabar gembira yang menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam ibadah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Masajid wa Mawadhi' ash-Shalah, Bab Waktu Isya dan Menundanya, nomor 640, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.

Terdapat juga dalil dari Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan menunggu shalat dan menjaga waktu shalat:

QS. Al-Baqarah [2]: 238

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

"Peliharalah semua shalat dan shalat wustha (shalat Ashar). Dan berdirilah karena Allah (dalam shalat) dengan khusyuk."

Ayat ini memerintahkan kita untuk menjaga semua shalat, termasuk shalat Isya, dengan memperhatikan waktunya dan tidak menyia-nyiakannya.

Adapun penjelasan ulama tentang hadits ini, di antaranya:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya mengakhirkan shalat Isya hingga tengah malam, selama tidak memberatkan jamaah. Namun jika dikhawatirkan memberatkan, maka lebih utama menyegerakannya.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari ketika membahas hadits-hadits tentang waktu Isya menjelaskan bahwa para ulama sepakat waktu Isya berakhir hingga tengah malam, dan mengakhirkannya adalah lebih utama bagi yang mampu.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa keutamaan menunggu shalat ini menunjukkan besarnya pahala yang Allah berikan, karena Allah menghitung niat dan kesungguhan hamba-Nya sebagai amal ibadah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa faedah penting:

1. Tentang Waktu Shalat Isya

Para ulama berbeda pendapat tentang waktu akhir shalat Isya. Pendapat yang kuat—dan dipilih oleh jumhur ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in seperti Sa'id bin al-Musayyib dan Atha' bin Abi Rabah—adalah bahwa waktu Isya berakhir hingga tengah malam. Ini berdasarkan hadits dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma bahwa Nabi ﷺ bersabda:

"Waktu Isya hingga tengah malam." (HR. Muslim)

Adapun dalam hadits Anas ini, Nabi ﷺ mengakhirkan Isya hingga tengah malam atau hampir melewatinya. Ini menunjukkan bahwa mengakhirkan Isya adalah sesuatu yang diperbolehkan dan bahkan lebih utama jika tidak memberatkan jamaah.

Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa mengakhirkan Isya adalah lebih utama, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain yang semakna. Namun mereka mengecualikan jika ada masyaqqah (kesulitan) bagi jamaah, maka menyegerakan lebih baik.

2. Keutamaan Menunggu Shalat

Sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya orang-orang telah shalat dan tidur, dan sesungguhnya kalian senantiasa dalam keadaan shalat selama kalian menunggu shalat" — ini adalah kabar gembira yang sangat besar.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa orang yang menunggu shalat dihitung seperti orang yang sedang shalat, karena ia dalam keadaan ibadah dan ketaatan. Ini menunjukkan bahwa Allah menghitung niat dan kesungguhan hamba-Nya sebagai amal, meskipun secara lahiriah ia sedang tidak mengerjakan shalat.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjatu Qulub al-Abrar menjelaskan bahwa menunggu shalat termasuk amalan yang agung karena di dalamnya terdapat:

  • Kesungguhan untuk tidak meninggalkan shalat berjamaah
  • Mengisi waktu dengan ibadah dan dzikir
  • Menunjukkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya

3. Tentang Cincin Perak Nabi ﷺ

Dalam hadits ini, Anas radhiyallahu 'anhu menyebutkan bahwa beliau melihat kilau cincin perak Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memakai cincin perak di jari kelingking tangan kirinya. Para ulama menjelaskan bahwa memakai cincin di jari kelingking adalah sunnah, dan boleh di tangan kiri atau kanan.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa para ulama sepakat disunnahkannya memakai cincin di jari kelingking, dan tidak ada larangan memakainya di tangan kiri atau kanan. Namun yang lebih utama adalah di tangan kanan, berdasarkan hadits-hadits shahih lainnya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri rahimahullah sangat memperhatikan shalat berjamaah. Suatu hari beliau masuk masjid dan mendapati jamaah telah selesai shalat. Maka beliau berkata dengan penuh penyesalan: "Sesungguhnya orang yang menunggu shalat berada dalam shalat, dan orang yang berjalan menuju shalat berada dalam shalat. Maka bagaimana dengan orang yang tertinggal shalat berjamaah? Sungguh aku lebih suka menjadi orang yang menunggu shalat di masjid daripada menjadi orang yang shalat sendirian di rumah, karena menunggu shalat itu sendiri adalah ibadah."

Kisah ini menunjukkan bagaimana para salaf sangat memahami keutamaan menunggu shalat dan bersungguh-sungguh dalam menjaga shalat berjamaah. Mereka tidak menganggap remeh waktu-waktu menunggu, tetapi justru mengisinya dengan ibadah dan mengharap pahala dari Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Menjaga shalat Isya berjamaah adalah perkara yang agung, dan mengakhirkannya hingga tengah malam diperbolehkan selama tidak memberatkan.
  2. Menunggu shalat adalah ibadah — selama seseorang menunggu shalat di masjid, ia dihitung dalam keadaan shalat. Maka jangan sia-siakan waktu menunggu dengan hal yang sia-sia.
  3. Niat dan kesungguhan dihitung oleh Allah — meskipun seseorang belum mengerjakan shalat, tetapi ia telah berniat dan bersungguh-sungguh menunggu, Allah mencatatnya sebagai amal ibadah.
  4. Memakai cincin perak di jari kelingking adalah sunnah Nabi ﷺ, dan boleh di tangan kiri atau kanan.
  5. Bersegera menuju masjid dan mengisi waktu menunggu dengan dzikir, membaca Al-Qur'an, atau doa adalah amalan yang sangat dianjurkan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.