Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 633 tentang Keutamaan menjaga shalat Subuh dan Ashar

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira sekaligus peringatan dari Nabi ﷺ. Beliau mengabarkan bahwa kelak di akhirat, orang-orang beriman akan melihat Allah ﷻ secara langsung dengan mata kepala mereka, seperti melihat bulan purnama yang terang tanpa ada keraguan. Kemudian beliau mengaitkan nikmat besar ini dengan amalan di dunia, yaitu menjaga shalat Subuh dan Ashar. Ini menunjukkan bahwa kedua shalat tersebut memiliki keutamaan yang sangat agung dan menjadi sebab untuk meraih kenikmatan memandang wajah Allah di surga kelak.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Masajid wa Mawadhi' ash-Shalah, Bab Fadhl Shalat ash-Shubhi wal 'Ashr wa al-Muhafazhah 'alaihima, no. 633. Diriwayatkan dari sahabat Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang dibacakan Jarir:

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Thaha [20]: 130:

فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا ۖ وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَىٰ

"Maka bersabarlah engkau (Muhammad) atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam; dan bertasbihlah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, agar engkau merasa tenang."

Kaitan dengan Ulama:

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan untuk menjaga shalat, dan yang dimaksud dengan "sebelum matahari terbit" adalah shalat Subuh, dan "sebelum matahari terbenam" adalah shalat Ashar. Ini juga dikuatkan oleh penafsiran para ulama salaf seperti Qatadah dan Mujahid yang menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah shalat-shalat wajib tersebut.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:

1. Makna "Melihat Allah" di Akhirat

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil tegas dari Ahlus Sunnah bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah ﷻ di akhirat dengan mata kepala mereka secara nyata, tanpa menyerupai makhluk dan tanpa kita ketahui hakikatnya. Beliau menukil ijma' (kesepakatan) para ulama salaf tentang hal ini. Ini berbeda dengan keyakinan sesat Mu'tazilah dan Khawarij yang mengingkari ru'yah Allah.

2. Makna "Tidak Dirugikan dalam Melihat-Nya"

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa makna "لا تُضَامُّونَ" adalah kalian tidak akan saling berdesakan atau tidak ada keraguan dalam melihat-Nya. Sebagian ulama membacanya dengan makna "tidak akan dizhalimi". Maksudnya, penglihatan kalian kepada Allah itu jelas dan pasti, tidak seperti melihat sesuatu yang samar atau diragukan. Ini adalah kabar gembira yang sangat besar.

3. Kaitan Shalat Subuh dan Ashar dengan Melihat Allah

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan hikmah yang sangat dalam: shalat Subuh dan Ashar adalah dua shalat yang waktunya berdekatan dengan terbit dan terbenamnya matahari. Pada dua waktu tersebut, cahaya matahari tidak menyilaukan sehingga mata bisa melihat dengan jelas. Ini menjadi perumpamaan bahwa sebagaimana kalian bisa melihat bulan dengan jelas di waktu-waktu tersebut, demikian pula kelak kalian akan melihat Allah dengan jelas tanpa keraguan.

4. Keutamaan Menjaga Shalat Subuh dan Ashar

Imam Ibnul Qayyim dalam al-Wabil ash-Shayyib menyebutkan bahwa shalat Subuh dan Ashar adalah dua shalat yang dijaga oleh para malaikat. Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Isra' [17]: 78 yang memerintahkan menjaga shalat pada dua waktu tersebut. Beliau juga menjelaskan bahwa orang yang menjaga kedua shalat ini akan mendapatkan perlindungan Allah dan menjadi saksi bagi kebaikannya di akhirat.

5. Penafsiran Ayat yang Dibacakan Jarir

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Jarir bin Abdullah membaca ayat QS. Thaha: 130 untuk menguatkan sabda Nabi ﷺ, karena ayat tersebut memang memerintahkan bertasbih (shalat) sebelum terbit dan terbenamnya matahari. Ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami Al-Qur'an dan mengaitkannya dengan sabda Nabi ﷺ secara langsung.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sahabat Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu 'anhu adalah seorang sahabat yang sangat tampan. Ketika beliau masuk Islam, beliau berkata kepada Rasulullah ﷺ: "Saya akan berbaiat kepada Anda untuk mendengar dan taat." Maka Nabi ﷺ bersabda: "Baiatlah untuk berbuat baik kepada setiap muslim, dan ikhlaskanlah niatmu dalam setiap amal."

Dalam hadits ini, kita melihat bagaimana Jarir meriwayatkan hadits tentang keutamaan shalat Subuh dan Ashar dengan sangat teliti. Beliau bahkan langsung mengaitkan sabda Nabi ﷺ dengan ayat Al-Qur'an yang beliau hafal. Ini menunjukkan kedalaman pemahaman sahabat dalam menghubungkan Al-Qur'an dan Sunnah.

Hikmahnya: para sahabat tidak hanya mendengar hadits, tetapi mereka juga menghubungkannya dengan Al-Qur'an dan mengamalkannya. Mereka sangat menjaga shalat Subuh dan Ashar karena mengetahui keutamaannya yang besar.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah dengan kabar gembira melihat Allah di akhirat - ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah yang harus kita pegang teguh.
  2. Jaga shalat Subuh dan Ashar - keduanya adalah shalat yang paling utama setelah shalat fardhu lainnya, dan menjadi sebab untuk meraih kenikmatan melihat Allah.
  3. Jangan sampai terlewat - Nabi ﷺ mengingatkan agar kita tidak "dikalahkan" oleh rasa malas atau kesibukan sehingga meninggalkan kedua shalat ini.
  4. Hubungkan ibadah dengan balasan akhirat - setiap amal shalat yang kita kerjakan dengan ikhlas akan mengantarkan kita pada kebahagiaan abadi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.