Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 631 tentang Shalat Ashar adalah shalat wustha yang utama

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah dalil yang sangat kuat bahwa shalat wustha (shalat tengah) yang dimaksud dalam QS. Al-Baqarah: 238 adalah shalat Ashar. Kisah ini terjadi pada Perang Khandaq, ketika kaum muslimin disibukkan oleh peperangan sehingga hampir kehilangan waktu shalat Ashar. Nabi ﷺ sangat perhatian terhadap shalat Ashar hingga beliau mengqadha-nya setelah matahari terbenam, kemudian langsung shalat Maghrib setelahnya. Ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan shalat Ashar di sisi Allah dan Rasul-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Dalil Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

"Peliharalah semua shalat (fardhu) dan shalat wustha (tengah), dan berdirilah untuk Allah (dalam shalat) dengan khusyuk."

(QS. Al-Baqarah [2]: 238)

2. Hadits Riwayat Muslim:

Hadits yang sedang kita bahas ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Masjid dan Tempat-Tempat Shalat, Bab "Dalil Bagi yang Mengatakan Shalat Wustha adalah Shalat Ashar" (no. 631), dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu.

3. Kaitan dengan Ulama:

Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in berbeda pendapat tentang makna shalat wustha. Namun, pendapat yang paling kuat dan masyhur—yang dipilih oleh jumhur (mayoritas) ulama—adalah bahwa shalat wustha adalah shalat Ashar. Pendapat ini diriwayatkan dari sejumlah sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Abu Sa'id al-Khudri, dan juga dari tabi'in seperti Al-Hasan al-Bashri, Muhammad bin Sirin, Atha' bin Abi Rabah, dan Mujahid bin Jabr (dalam salah satu riwayat). Imam Ibn Katsir dalam Tafsir-nya menegaskan bahwa pendapat inilah yang benar berdasarkan hadits-hadits shahih, termasuk hadits Jabir yang sedang kita kaji ini.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:

  1. Makna "Shalat Wustha": Kata wustha berarti "tengah" atau "pertengahan". Para ulama berbeda pendapat tentang shalat mana yang dimaksud. Ada yang mengatakan shalat Subuh, ada yang mengatakan shalat Jumat, namun pendapat yang paling kuat—berdasarkan banyak dalil—adalah shalat Ashar. Salah satu dalilnya adalah hadits ini, di mana Nabi ﷺ menunjukkan perhatian yang sangat besar terhadap shalat Ashar hingga beliau mengqadhanya. Ini menunjukkan bahwa shalat Ashar memiliki keutamaan yang sangat agung.
  2. Kesibukan Bukan Alasan untuk Meninggalkan Shalat: Perang Khandaq adalah perang yang sangat berat. Kaum muslimin sibuk menggali parit dan berjaga-jaga. Namun, kesibukan ini tidak membuat Nabi ﷺ dan para sahabat ridha meninggalkan shalat. Mereka tetap berusaha melaksanakannya, dan ketika waktunya terlewat, mereka segera mengqadhanya. Ini adalah pelajaran bahwa urusan dunia, secanggih dan seberat apa pun, tidak boleh melalaikan kita dari shalat.
  3. Kekhawatiran Umar bin Khattab: Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu sangat cemas ketika hampir kehilangan shalat Ashar. Beliau mengumpat orang-orang kafir Quraisy karena merekalah penyebab kesibukan itu. Ini menunjukkan betapa para sahabat sangat menjaga shalat mereka. Kekhawatiran mereka adalah kekhawatiran seorang mukmin yang takut kehilangan ketaatan terbesar setelah iman.
  4. Tindakan Nabi ﷺ: Nabi ﷺ juga mengaku belum shalat Ashar. Beliau tidak menunda-nunda, tetapi segera turun ke lembah Buthhan, berwudhu, lalu mengqadha shalat Ashar setelah matahari terbenam, kemudian langsung shalat Maghrib. Ini menunjukkan bahwa mengqadha shalat yang terlewat karena uzur syar'i adalah perkara yang dibolehkan dan harus segera dilakukan.
  5. Urutan Shalat Qadha: Dalam hadits ini, Nabi ﷺ mengqadha shalat Ashar terlebih dahulu, baru kemudian shalat Maghrib. Ini menunjukkan bahwa ketika mengqadha beberapa shalat yang terlewat, maka diqadha secara berurutan sesuai urutan aslinya. Ini adalah pendapat jumhur ulama.

Story Telling

Kisah ini terjadi pada tahun kelima Hijriyah, dalam Perang Khandaq (Perang Ahzab). Saat itu, kaum musyrikin Quraisy dan sekutunya mengepung Madinah dengan pasukan yang sangat besar. Atas usul sahabat Salman al-Farisi, kaum muslimin menggali parit (khandaq) di sekeliling Madinah untuk menghalangi serangan musuh.

Kesibukan menggali parit dan berjaga-jaga sangat menyita waktu. Para sahabat bekerja keras siang dan malam. Hingga tibalah waktu Ashar, namun mereka belum sempat shalat. Bahkan, matahari hampir terbenam.

Umar bin Khattab yang saat itu sangat sibuk, merasa cemas dan marah. Beliau mendatangi Nabi ﷺ sambil mencela orang-orang kafir Quraisy yang menjadi penyebab kesibukan ini. Beliau berkata, "Wahai Rasulullah, aku hampir tidak sempat shalat Ashar hingga matahari hampir terbenam."

Nabi ﷺ menjawab dengan tenang namun tegas, "Demi Allah, aku pun belum melaksanakannya."

Maka turunlah mereka ke lembah Buthhan. Di sana, Nabi ﷺ dan para sahabat berwudhu. Setelah matahari benar-benar terbenam, barulah Nabi ﷺ shalat Ashar, kemudian langsung shalat Maghrib setelahnya.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa meskipun dalam kondisi perang yang sangat genting, shalat tetap menjadi prioritas utama. Bahkan, Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang shalat khauf (shalat dalam keadaan takut) sebagai solusi agar shalat tetap bisa ditegakkan dalam kondisi sesulit apa pun.

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa tidak ada keadaan yang membolehkan seorang mukmin untuk meninggalkan shalat secara total. Jika tidak mampu berdiri, boleh duduk; jika tidak mampu duduk, boleh berbaring; jika dalam keadaan perang, boleh shalat sambil berjalan atau berkendara. Yang penting, shalat tidak boleh ditinggalkan.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakini bahwa shalat wustha adalah shalat Ashar, berdasarkan dalil-dalil yang kuat, termasuk hadits ini.
  2. Jadikan shalat sebagai prioritas utama dalam segala keadaan, baik sibuk maupun lapang, damai maupun perang.
  3. Jika terlewat karena uzur syar'i, maka segera qadha dengan tertib (berurutan) sesuai urutan shalat yang terlewat.
  4. Teladani semangat para sahabat yang sangat cemas jika kehilangan waktu shalat, dan jangan jadikan kesibukan dunia sebagai alasan untuk meremehkan shalat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi