Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab penting ketika datang ke masjid untuk shalat berjamaah: hendaknya kita berjalan dengan tenang dan tidak tergesa-gesa (berlari). Jika kita mendapati imam sedang rukuk atau sujud, kita tetap bertakbir dan langsung mengikuti imam pada posisi itu. Setelah imam salam, kita menyempurnakan rakaat yang tertinggal. Yang terpenting, kita dilarang membuat keributan atau tergesa-gesa karena hal itu mengganggu kekhusyukan shalat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Teks Arab hadits yang Anda sertakan sudah benar dan lengkap. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Masajid wa Mawadhi' ash-Shalah, Bab "Disunnahkan Datang ke Shalat dengan Tenang dan Larangan Datang dengan Berlari" (no. 603), dari sahabat Abu Qatadah al-Harits bin Rib'i radhiyallahu 'anhu.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
"Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu berasal dari ketakwaan hati." (QS. Al-Hajj [22]: 32)
Ayat ini menunjukkan bahwa mengagungkan syi'ar Allah, termasuk di dalamnya menjaga adab dan ketenangan saat datang ke masjid, adalah bagian dari ketakwaan hati.
Kaitan dengan Ulama:
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa faedah: disunnahkan berjalan tenang menuju shalat, larangan berlari, dan bolehnya langsung mengikuti imam pada posisi apa pun yang didapati, tanpa menunggu imam berdiri sempurna.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Makna "as-sakinah" (السكينة)
Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa as-sakinah adalah ketenangan, keagungan, dan tidak tergesa-gesa. Ini adalah sikap yang mencerminkan pengagungan terhadap shalat dan masjid. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga menegaskan bahwa berjalan menuju shalat dengan tenang adalah bentuk penghormatan kepada Allah dan masjid-Nya.
2. Larangan Berlari dan Membuat Keributan
Dalam hadits ini, Nabi ﷺ mendengar keributan (جَلَبَةً) dari para sahabat yang tergesa-gesa datang ke shalat. Beliau menegur mereka dengan sabda: "Jangan lakukan itu." Ini menunjukkan bahwa membuat keributan saat datang ke masjid adalah perbuatan yang tidak disukai, karena mengganggu orang yang sedang shalat dan bertentangan dengan adab.
3. Cara Mengikuti Imam
Sabda Nabi ﷺ: "Apa yang kalian dapati, maka shalatlah; dan apa yang tertinggal, maka sempurnakanlah." Ini adalah kaidah penting dalam shalat berjamaah. Jika seseorang datang dan mendapati imam sedang rukuk, maka ia bertakbir lalu langsung rukuk mengikuti imam. Jika ia berhasil rukuk bersama imam sebelum imam bangun, maka rakaat itu terhitung. Jika tidak, maka ia harus mengganti rakaat tersebut setelah imam salam.
Imam Ibn Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa makna "ما أدركتم" adalah apa yang kalian dapati bersama imam, dan "ما سبقكم" adalah rakaat yang telah berlalu sebelum kalian datang. Ini adalah ijma' ulama bahwa seseorang yang mendapati imam dalam keadaan rukuk dan ia sempat rukuk bersama imam, maka ia telah mendapatkan rakaat tersebut.
4. Hikmah Larangan Tergesa-gesa
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa tergesa-gesa dalam ibadah sering kali mengurangi kualitas ibadah itu sendiri. Ketenangan dalam berjalan menuju shalat membantu seseorang untuk hadir dengan khusyuk, tidak terburu-buru, dan lebih siap secara lahir dan batin untuk menghadap Allah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu ketika sahabat Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu sedang shalat bersama Nabi ﷺ. Di tengah shalat, beliau mendengar suara hiruk-pikuk langkah kaki para sahabat yang berlari menuju shalat karena khawatir ketinggalan. Setelah selesai shalat, Nabi ﷺ bertanya dengan lembut: "Apa yang terjadi dengan kalian?" Mereka menjawab: "Kami tergesa-gesa menuju shalat, wahai Rasulullah." Maka Nabi ﷺ mengajarkan mereka sebuah prinsip indah: "Jangan lakukan itu. Jika kalian datang untuk shalat, hendaknya kalian tenang. Apa yang kalian dapati, shalatlah; dan apa yang tertinggal, sempurnakanlah."
Hikmah dari kisah ini: Nabi ﷺ tidak marah, tetapi mengajarkan dengan kasih sayang. Beliau juga menanamkan keyakinan bahwa Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menyia-nyiakan amal hamba-Nya. Rakaat yang tertinggal bisa disempurnakan, tetapi ketenangan dan kekhusyukan adalah sesuatu yang tidak bisa digantikan.
Kesimpulan Praktis
- Berjalan tenang menuju masjid dan shalat, tidak berlari atau tergesa-gesa.
- Jangan membuat keributan yang mengganggu jamaah lain yang sedang shalat.
- Jika mendapati imam sedang rukuk atau sujud, langsung bertakbir dan mengikuti imam pada posisi itu.
- Setelah imam salam, sempurnakan rakaat yang tertinggal dengan tertib.
- Niatkan ketenangan sebagai bentuk pengagungan terhadap shalat dan masjid.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.