Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan dzikir yang sangat agung yang dibaca setelah salam shalat. Dzikir ini berisi pengakuan keesaan Allah, pujian kepada-Nya, dan pernyataan ikhlas dalam beribadah. Ini adalah amalan yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ dan diamalkan oleh sahabat seperti Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu 'anhu.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap pada bagian dzikir):
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
Makna ringkas: Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah. Tiada Tuhan selain Allah, dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Milik-Nya nikmat, karunia, dan pujian yang baik. Tiada Tuhan selain Allah, dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir membencinya.
Kaitan dengan Ulama:
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim (5/87) menjelaskan bahwa dzikir ini termasuk dzikir yang dianjurkan setelah shalat. Beliau menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan dzikir ini dan bahwa ia dibaca setelah salam.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Az-Zubair dari Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu 'anhu. Beliau mengamalkan dzikir ini setiap selesai shalat dan menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ juga membacanya.
Makna dan Kandungan Dzikir:
- "Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarika lah": Ini adalah kalimat tauhid yang menegaskan keesaan Allah dalam rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat. Ini adalah inti dari dakwah para nabi.
- "Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai'in qadir": Pengakuan bahwa seluruh kerajaan alam semesta milik Allah, segala pujian hanya untuk-Nya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ini mengingatkan kita akan kebesaran dan kekuasaan Allah setelah kita selesai beribadah kepada-Nya.
- "Laa haula wa laa quwwata illa billah": Pengakuan bahwa tidak ada daya untuk menghindari maksiat dan tidak ada kekuatan untuk melakukan ketaatan kecuali dengan pertolongan Allah. Ini adalah kalimat yang sangat dicintai Allah.
- "Laa ilaaha illallah wa laa na'budu illa iyyah": Penegasan bahwa kita hanya menyembah Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
- "Lahun ni'matu wa lahul fadhlu wa lahuts tsanaa'ul hasan": Segala nikmat, karunia, dan pujian yang baik hanyalah milik Allah. Ini adalah bentuk syukur dan pengakuan atas segala kebaikan-Nya.
- "Laa ilaaha illallah mukhlishina lahud diin": Penegasan bahwa kita memurnikan ibadah hanya untuk Allah, ikhlas karena-Nya.
- "Wa law karihal kaafirun": Meskipun orang-orang kafir membenci tauhid dan keikhlasan ini, kita tetap teguh di atasnya.
Pendapat Ulama:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari (2/320) ketika membahas dzikir setelah shalat, beliau menyebutkan bahwa dzikir-dzikir yang shahih dari Nabi ﷺ sangat banyak dan dianjurkan untuk diamalkan. Beliau juga menekankan pentingnya membaca dzikir dengan suara yang tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan, serta dengan penuh penghayatan.
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Al-Adzkar (hlm. 65) menyebutkan bahwa dzikir setelah shalat ini termasuk amalan yang utama. Beliau meriwayatkan dari para ulama bahwa disunnahkan membaca dzikir-dzikir yang ma'tsur (berdasarkan hadits) setelah shalat.
Story Telling
Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu 'anhu adalah seorang sahabat yang sangat teguh dalam berpegang pada sunnah. Beliau adalah putra dari Az-Zubair bin Al-Awwam dan Asma' binti Abu Bakar radhiyallahu 'anhuma. Beliau dikenal sebagai seorang yang ahli ibadah, pemberani, dan sangat cinta kepada ilmu.
Dalam hadits ini, kita melihat bagaimana beliau dengan teliti meriwayatkan dan mengamalkan dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Beliau tidak hanya menghafalnya, tetapi juga mengucapkannya di setiap akhir shalat. Ini menunjukkan betapa pentingnya bagi seorang muslim untuk meneladani Nabi ﷺ dalam setiap amalan, termasuk dalam dzikir setelah shalat.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa para sahabat sangat perhatian terhadap sunnah-sunnah Nabi ﷺ, bahkan dalam hal-hal yang mungkin dianggap kecil oleh sebagian orang. Mereka memahami bahwa setiap amalan yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ memiliki keutamaan dan keberkahan.
Kesimpulan Praktis
- Amalkan dzikir ini setiap selesai shalat fardhu, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi ﷺ dan para sahabat.
- Pahami maknanya agar dzikir kita tidak hanya menjadi ucapan di lisan, tetapi juga meresap dalam hati dan diamalkan dalam kehidupan.
- Jaga keikhlasan dalam beribadah, sebagaimana ditegaskan dalam dzikir ini "mukhlishina lahud diin" (dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya).
- Jangan pedulikan celaan orang kafir terhadap tauhid dan keikhlasan kita, sebagaimana penutup dzikir ini "wa law karihal kaafirun" (meskipun orang-orang kafir membencinya).
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.