Shahih Muslim · Kitab Masjid dan Tempat Shalat · No. 550

Bab Larangan Meludah di Masjid Saat Shalat dan Selainnya

Shahih

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، جَمِيعًا عَنِ ابْنِ عُلَيَّةَ، قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ، عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مِهْرَانَ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ رَأَى نُخَامَةً فِي قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ فَأَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ " مَا بَالُ أَحَدِكُمْ يَقُومُ مُسْتَقْبِلَ رَبِّهِ فَيَتَنَخَّعُ أَمَامَهُ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يُسْتَقْبَلَ فَيُتَنَخَّعَ فِي وَجْهِهِ فَإِذَا تَنَخَّعَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَنَخَّعْ عَنْ يَسَارِهِ تَحْتَ قَدَمِهِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيَقُلْ هَكَذَا " . وَوَصَفَ الْقَاسِمُ فَتَفَلَ فِي ثَوْبِهِ ثُمَّ مَسَحَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ .

haddatsana abu bakri ibnu abi syaybaha, wazuhayru ibnu harbin, jamian ani abni ulayyaha, qala zuhayrun haddatsana abnu ulayyaha, ani alqasimi ibni mihrana, an abi rafiin, an abi hurayraha, anna rasula allahi raa nukhamahan fi qiblahi almasjidi faaqbala ala annasi faqala " ma balu ahadikum yaqumu mustaqbila rabbihi fayatanakkhau amamahu ayuhibbu ahadukum an yustaqbala fayutanakkhaa fi wajhihi faidza tanakkhaa ahadukum falyatanakkha an yasarihi tahta qadamihi fain lam yajid falyaqul hakadza ". wawashafa alqasimu fatafala fi tsawbihi tsumma masaha badhahu ala badhin.

Abu Huraira melaporkan bahwa Rasulullah ﷺ melihat ada ludah di arah Qiblat masjid. Dia berpaling kepada orang-orang dan berkata: Bagaimana mungkin salah satu di antara kalian berdiri di hadapan Tuhannya dan kemudian meludah di depannya? Apakah ada di antara kalian yang suka jika dia dibuat berdiri di depan seseorang dan kemudian diludahi di wajahnya? Jadi ketika salah satu di antara kalian meludah, dia harus meludah ke sisi kiri di bawah kakinya. Tetapi jika dia tidak menemukan (tempat untuk meludah), dia harus melakukan seperti ini. Qasim (salah satu perawi) meludah di kainnya dan kemudian melipatnya dan menggosoknya.

Penjelasan