Penjelasan Hadits Muslim No. 544 tentang Sejarah pembuatan mimbar Nabi dan shalat di atasnya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan tentang pembuatan mimbar pertama dalam sejarah Islam atas perintah Nabi ﷺ, dan yang lebih penting, tentang bagaimana Nabi ﷺ mengajarkan shalat kepada para sahabat dengan cara yang sangat praktis. Saat shalat di atas mimbar, beliau turun satu atau dua langkah ke belakang untuk sujud di dasar mimbar, kemudian naik kembali untuk melanjutkan rakaat berikutnya. Tindakan ini dilakukan agar para sahabat dapat melihat dan meniru gerakan shalat beliau dari tempat yang lebih tinggi. Hadits ini menunjukkan bahwa bergerak satu atau dua langkah dalam shalat karena kebutuhan yang dibenarkan (seperti untuk mengajarkan shalat) tidaklah membatalkan shalat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Masajid wa Mawadhi' Ash-Shalah, Bab Ibāḥat al-Khaṭawāt (Diperbolehkannya Langkah dan Dua Langkah dalam Shalat), no. 544, dari sahabat Sahl bin Sa'd As-Sa'idi radhiyallahu 'anhu.

Teks Arab Hadits (potongan inti):

<p>عَنْ أَبِي حَازِمٍ، أَنَّ نَفَرًا جَاءُوا إِلَى سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَدْ تَمَارَوْا فِي الْمِنْبَرِ مِنْ أَىِّ عُودٍ هُوَ فَقَالَ: أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لأَعْرِفُ مِنْ أَىِّ عُودٍ هُوَ وَمَنْ عَمِلَهُ وَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أَوَّلَ يَوْمٍ جَلَسَ عَلَيْهِ... وَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَامَ عَلَيْهِ فَكَبَّرَ وَكَبَّرَ النَّاسُ وَرَاءَهُ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ رَفَعَ فَنَزَلَ الْقَهْقَرَى حَتَّى سَجَدَ فِي أَصْلِ الْمِنْبَرِ ثُمَّ عَادَ حَتَّى فَرَغَ مِنْ آخِرِ صَلاَتِهِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ: يَا أُيُّهَا النَّاسُ إِنِّي صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوا بِي وَلِتَعَلَّمُوا صَلاَتِي</p>

Terjemahan: "...Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar mengetahui dari kayu apa mimbar itu dibuat dan siapa pembuatnya, dan aku melihat Rasulullah ﷺ pada hari pertama beliau duduk di atasnya... Dan sungguh aku melihat Rasulullah ﷺ berdiri di atasnya (mimbar), lalu bertakbir dan orang-orang pun bertakbir di belakang beliau sedangkan beliau di atas mimbar. Kemudian beliau mengangkat (kepala dari ruku'), lalu turun mundur hingga sujud di dasar mimbar. Kemudian beliau kembali (naik) hingga selesai dari akhir shalatnya. Lalu beliau menghadap kepada orang-orang dan bersabda: 'Wahai manusia, sesungguhnya aku melakukan ini agar kalian mengikutiku dan mempelajari shalatku.'"

Kaitan dengan Ulama:

Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya melakukan langkah dan gerakan yang sedikit dalam shalat karena ada kebutuhan, dan hal itu tidak membatalkan shalat. Beliau juga menegaskan bahwa perbuatan Nabi ﷺ ini adalah pengajaran visual kepada umatnya.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah memahami hadits ini dari beberapa sisi:

1. Sisi Fiqih: Gerakan Sedikit dalam Shalat

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (5/78-79) menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat dalil bahwa berjalan satu atau dua langkah dalam shalat karena ada kebutuhan tidaklah membatalkan shalat. Beliau menukil bahwa para ulama bersepakat (ijma') bahwa gerakan yang sedikit dalam shalat tidak membatalkan, dan gerakan yang banyak (secara beruntun dan di luar kebutuhan) dapat membatalkan. Adapun ukuran "banyak" dan "sedikit" dikembalikan kepada kebiasaan ('urf).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Asy-Syarh Al-Mumti' (3/170-171) menjelaskan bahwa perbuatan Nabi ﷺ turun dari mimbar untuk sujud adalah karena kebutuhan untuk mengajarkan umat. Ini menunjukkan kaidah penting: "Jika ada kebutuhan, maka gerakan yang biasanya dianggap membatalkan shalat bisa dimaafkan selama tidak berlebihan." Namun beliau juga menekankan bahwa ini adalah kekhususan kebutuhan pengajaran, dan bagi orang biasa yang tidak ada kebutuhan, hendaknya menjaga kekhusyukan dan tidak banyak bergerak.

2. Sisi Adab dan Akhlak: Keinginan Nabi ﷺ untuk Mengajarkan Umat

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam Bahjatu Qulub Al-Abrar (hal. 63) menyebutkan bahwa di antara akhlak mulia Nabi ﷺ adalah semangat beliau dalam mengajarkan umat dengan cara yang paling mudah dipahami. Beliau tidak hanya menyampaikan dengan lisan, tetapi juga dengan perbuatan langsung yang bisa dilihat. Ini menunjukkan kasih sayang beliau kepada umatnya.

3. Sisi Sejarah: Mimbar Pertama dalam Islam

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah (5/320-321) menyebutkan bahwa mimbar ini dibuat oleh seorang budak wanita Anshar yang bernama Maimunah atau lainnya, dan tukang kayunya adalah budaknya yang bernama Mihraz atau Mihmar. Mimbar itu terbuat dari kayu tharfā' (tamarisk) dari hutan Al-Ghabah. Peristiwa pembuatan mimbar ini terjadi pada tahun ke-7 atau ke-8 Hijriah. Sebelumnya, Nabi ﷺ berkhutbah dengan bersandar pada batang kurma. Ketika mimbar dibuat dan beliau naik ke atasnya, batang kurma itu menangis karena rindu, hingga Nabi ﷺ turun dan mengusapnya.

4. Sisi Aqidah: Meneladani Nabi ﷺ dalam Seluruh Gerakan Shalat

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah dalam Al-Mulakhkhas Al-Fiqhi (1/190) menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ, "Agar kalian mengikutiku dan mempelajari shalatku" menunjukkan bahwa tata cara shalat harus dicontoh persis dari Nabi ﷺ, tidak boleh dikurangi atau ditambah. Ini adalah prinsip ittiba' (mengikuti) yang merupakan inti dari ibadah. Shalat yang diterima adalah yang sesuai dengan contoh beliau, baik dari segi gerakan, bacaan, maupun tertibnya.

5. Pelajaran tentang Niat dan Keikhlasan

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam (1/62) menjelaskan bahwa ketika Nabi ﷺ melakukan perbuatan yang tampak "tidak biasa" dalam shalat (turun dan naik mimbar), beliau langsung menjelaskan alasannya kepada para sahabat. Ini menunjukkan bahwa seorang muslim yang melakukan sesuatu yang bisa menimbulkan pertanyaan orang lain hendaknya menjelaskan alasannya agar tidak terjadi kesalahpahaman, dan agar niatnya jelas ikhlas karena Allah dan untuk kemaslahatan umat.

Story Telling

Ada kisah yang sangat menyentuh berkaitan dengan mimbar ini. Ketika Nabi ﷺ pertama kali naik ke mimbar yang baru dibuat, para sahabat mendengar suara tangisan. Ternyata itu adalah batang kurma tempat Nabi ﷺ biasa bersandar saat berkhutbah. Batang kurma itu menangis seperti anak kecil karena ditinggalkan oleh Rasulullah ﷺ. Maka Nabi ﷺ turun dari mimbar, menghampiri batang kurma itu, dan mengusapnya hingga tangisnya berhenti.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang batang kurma itu: "Dia menangis karena kehilangan dzikir (kepada Allah) yang biasa didengarnya." (HR. Al-Bukhari no. 3584 dari Jabir bin Abdillah).

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fath Al-Bari (6/601) menyebutkan bahwa kisah ini menunjukkan kemuliaan Nabi ﷺ dan kasih sayang beliau yang bahkan meliputi benda mati. Ini juga menjadi bukti kebenaran kenabian beliau, karena pohon kurma yang menangis adalah mukjizat nyata yang disaksikan para sahabat.

Hikmah dari kisah ini: Betapa besar cinta para sahabat dan bahkan makhluk lain kepada Rasulullah ﷺ. Kita yang mengaku mencintai beliau hendaknya membuktikan cinta itu dengan mengikuti sunnahnya dalam setiap aspek kehidupan, terutama dalam shalat.

Kesimpulan Praktis

  1. Boleh bergerak sedikit dalam shalat karena ada kebutuhan, seperti mengajarkan shalat, menggendong anak kecil, atau mengambil sesuatu yang diperlukan. Namun hendaknya dibatasi seminimal mungkin agar kekhusyukan tetap terjaga.
  2. Shalat harus dipelajari dan dipraktikkan persis seperti contoh Nabi ﷺ. Jangan menambah atau mengurangi gerakan shalat tanpa dalil. Pelajari tata cara shalat dari sumber yang shahih.
  3. Nabi ﷺ adalah guru terbaik. Beliau mengajarkan dengan berbagai metode: lisan, perbuatan, dan bahkan dengan situasi nyata agar mudah dipahami. Kita pun hendaknya belajar dengan sungguh-sungguh dan mengajarkan kebaikan kepada orang lain dengan cara yang bijaksana.
  4. Jika melakukan sesuatu yang tidak biasa di hadapan orang lain, jelaskan alasannya agar tidak menimbulkan fitnah atau kesalahpahaman, sebagaimana Nabi ﷺ menjelaskan alasan turun-naik mimbar kepada para sahabat.
  5. Cinta kepada Nabi ﷺ bukan sekadar klaim, tetapi dibuktikan dengan mengikuti sunnahnya dalam ibadah dan akhlak sehari-hari.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?