Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah diganggu oleh setan yang kuat (jika' atau 'ifrit) dari kalangan jin saat shalat. Allah ﷻ memberi kemampuan kepada Nabi ﷺ untuk menangkap dan menguasainya. Nabi ﷺ sempat ingin mengikatnya di tiang masjid agar para sahabat bisa melihatnya, tetapi beliau teringat doa Nabi Sulaiman ﷺ yang memohon kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahnya. Akhirnya Nabi ﷺ melepaskan setan itu dalam keadaan hina. Hadits ini menunjukkan bolehnya melakukan pekerjaan kecil dalam shalat jika ada kebutuhan, dan juga menunjukkan keutamaan Nabi Sulaiman ﷺ serta mukjizat Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Al-Masajid wa Mawadhi' Ash-Shalah, Bab Jawaz La'nati Asy-Syaitan fi Ash-Shalah (Bab Diperbolehkannya Melaknat Setan dalam Shalat dan Berlindung dari-Nya serta Diperbolehkannya Melakukan Pekerjaan Kecil dalam Shalat), nomor 541. Perawinya adalah Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
Allah ﷻ berfirman tentang doa Nabi Sulaiman ﷺ:
<blockquote>
قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
</blockquote>
(QS. Shad [38]: 35)
Artinya: "Ia (Sulaiman) berkata, 'Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak layak (dimiliki) oleh seorang pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi.'"
Kaitan dengan ulama:
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan beberapa faedah penting, di antaranya bolehnya melakukan perbuatan yang sedikit dalam shalat, dan bolehnya melaknat setan dalam shalat karena ada maslahat. Beliau juga menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memilih untuk tidak mengikat setan tersebut karena menghormati doa Nabi Sulaiman ﷺ yang telah meminta kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahnya.
Penjelasan Rinci
Makna hadits:
Nabi ﷺ mengabarkan kepada para sahabat bahwa pada malam sebelumnya, beliau sedang shalat, lalu datanglah 'ifrit (setan yang kuat dan besar) dari kalangan jin yang mencoba mengganggu dan memutus shalat beliau. Allah ﷻ memberikan kekuatan kepada Nabi ﷺ sehingga beliau dapat menangkap dan menguasai setan tersebut.
Nabi ﷺ sempat berkeinginan untuk mengikat setan itu di salah satu tiang masjid agar para sahabat dapat melihatnya dengan mata kepala sendiri keesokan harinya. Namun, beliau teringat doa Nabi Sulaiman ﷺ yang memohon kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahnya. Maka Nabi ﷺ melepaskan setan itu dalam keadaan hina dan terusir.
Pemahaman ulama:
- Imam An-Nawawi (wafat 676 H) dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya melakukan pekerjaan yang sedikit dalam shalat, seperti menangkap, mengikat, atau melepaskan sesuatu, selama tidak berlebihan dan tidak membatalkan shalat. Beliau juga menyebutkan bahwa para ulama sepakat bahwa perbuatan yang banyak dan berkesinambungan dapat membatalkan shalat, sedangkan perbuatan yang sedikit tidak membatalkan.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (wafat 852 H) dalam Fathul Bari ketika membahas hadits serupa dalam Shahih Bukhari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya melaknat setan dalam shalat, karena laknat adalah ucapan yang tidak termasuk perkataan manusia yang membatalkan shalat. Beliau juga menjelaskan hikmah Nabi ﷺ tidak mengikat setan tersebut adalah karena menghormati doa Nabi Sulaiman ﷺ.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (wafat 1421 H) dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kekuasaan Allah ﷻ yang memberikan kemampuan kepada Nabi ﷺ untuk menangkap setan, padahal setan biasanya tidak terlihat oleh manusia. Ini adalah salah satu mukjizat Nabi ﷺ. Beliau juga menegaskan bahwa perbuatan Nabi ﷺ yang menangkap dan ingin mengikat setan adalah perbuatan yang sedikit dan tidak membatalkan shalat.
- Syaikh Abdul Aziz bin Baz (wafat 1420 H) pernah ditanya tentang hadits ini dan beliau menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya melakukan perbuatan ringan dalam shalat jika ada kebutuhan, seperti membunuh ular atau kalajengking, atau menangkap sesuatu yang mengganggu shalat.
Pelajaran penting dari hadits ini:
- Setan benar-benar berusaha mengganggu manusia dalam ibadah, terutama shalat.
- Allah ﷻ melindungi para nabi dan orang-orang beriman dari gangguan setan.
- Bolehnya melakukan pekerjaan kecil dalam shalat jika ada kebutuhan.
- Keutamaan Nabi Sulaiman ﷺ yang doanya diabadikan dalam Al-Qur'an.
- Nabi ﷺ sangat menghormati para nabi sebelumnya dan doa-doa mereka.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Semalam ada 'ifrit dari kalangan jin yang datang menemuiku untuk memutus shalatku. Allah memberiku kekuatan atasnya, lalu aku menangkapnya. Aku ingin mengikatnya di salah satu tiang masjid agar kalian semua dapat melihatnya. Lalu aku teringat doa saudaraku Sulaiman: 'Ya Tuhanku, ampunilah aku dan berikanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku.' Maka Allah mengusirnya dalam keadaan hina." (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah, ia berkata: "Rasulullah ﷺ memerintahkanku untuk menjaga harta zakat di bulan Ramadhan. Lalu datanglah seseorang yang mencuri makanan, maka aku menangkapnya dan berkata, 'Aku akan membawamu kepada Rasulullah ﷺ.' Orang itu memohon dan berjanji tidak akan kembali, maka aku melepaskannya. Keesokan harinya Rasulullah ﷺ bertanya, 'Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan tawananmu semalam?' Aku menjawab, 'Wahai Rasulullah, ia mengeluh dan meminta agar aku melepaskannya, maka aku pun melepaskannya.' Rasulullah ﷺ bersabda, 'Sesungguhnya ia akan kembali lagi.' Maka aku menangkapnya lagi pada malam kedua dan ketiga, dan pada malam ketiga ia berkata, 'Jika engkau melepaskanku, aku akan mengajarkanmu beberapa ayat yang bermanfaat bagimu.' Maka aku pun melepaskannya. Keesokan harinya Rasulullah ﷺ bertanya, dan aku menceritakan kejadiannya. Beliau bersabda, 'Ia berkata benar, tetapi ia adalah pembohong. Tahukah engkau siapa yang engkau ajak bicara selama tiga malam itu?' Aku menjawab, 'Tidak.' Beliau bersabda, 'Itu adalah setan.'" (HR. Bukhari)
Hikmah dari kisah ini:
Kedua hadits ini menunjukkan bahwa setan benar-benar berusaha mengganggu manusia, baik dalam ibadah maupun dalam kehidupan sehari-hari. Namun, Allah ﷻ selalu memberikan perlindungan dan pertolongan kepada hamba-Nya yang beriman dan beramal shalih. Kita harus selalu berlindung kepada Allah ﷻ dari gangguan setan, terutama ketika shalat.
Kesimpulan Praktis
- Selalu berlindung kepada Allah ﷻ dari gangguan setan, terutama sebelum dan ketika shalat, dengan membaca ta'awwudz dan doa-doa yang diajarkan Nabi ﷺ.
- Boleh melakukan pekerjaan kecil dalam shalat jika ada kebutuhan, seperti menangkap sesuatu yang mengganggu, membunuh ular atau kalajengking, atau menggendong anak kecil. Namun, harus dibatasi pada perbuatan yang sedikit dan tidak berkesinambungan.
- Meneladani akhlak Nabi ﷺ dalam menghormati para nabi sebelumnya, sebagaimana beliau menghormati doa Nabi Sulaiman ﷺ.
- Meyakini bahwa Allah ﷻ Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk memberikan kemampuan kepada hamba-Nya untuk mengalahkan musuh-musuh-Nya.
- Tidak boleh sombong dengan kekuatan atau kemampuan yang dimiliki, karena semua itu adalah karunia dari Allah ﷻ semata.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.