Penjelasan Hadits Muslim No. 520 tentang Masjid pertama di bumi dan keutamaannya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa masjid pertama yang dibangun di muka bumi adalah Masjidil Haram di Makkah, kemudian disusul Masjidil Aqsa di Palestina dengan jarak waktu empat puluh tahun. Selain itu, hadits ini juga mengandung pelajaran penting bahwa seluruh muka bumi ini dijadikan oleh Allah sebagai tempat sujud (masjid) bagi umat Nabi Muhammad ﷺ, sehingga di mana pun seorang muslim mendapati waktu shalat, ia boleh shalat di tempat tersebut selama bersih dan suci.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Masajid wa Mawadhi' ash-Shalah (Kitab Masjid dan Tempat-Tempat Shalat), dari sahabat Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu 'anhu.

Teks Hadits (sebagian yang relevan):

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الأَرْضِ أَوَّلُ؟ قَالَ: «الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «الْمَسْجِدُ الأَقْصَى». قُلْتُ: كَمْ بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: «أَرْبَعُونَ سَنَةً وَأَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلاَةُ فَصَلِّ فَهُوَ مَسْجِدٌ»

Artinya: Dari Abu Dzar, ia berkata: "Aku bertanya: 'Wahai Rasulullah, masjid manakah yang pertama kali diletakkan di bumi?' Beliau menjawab: 'Masjidil Haram.' Aku bertanya lagi: 'Kemudian yang mana?' Beliau menjawab: 'Masjidil Aqsa.' Aku bertanya: 'Berapa jarak waktu antara keduanya?' Beliau menjawab: 'Empat puluh tahun. Dan di mana pun engkau mendapati waktu shalat, maka shalatlah, karena ia adalah masjid (tempat sujud).'" (HR. Muslim no. 520)

Dalil pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman tentang Masjidil Haram:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Artinya: "Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia ialah Baitullah yang berada di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam." (QS. Ali 'Imran [3]: 96)

Adapun tentang bumi sebagai tempat shalat, Nabi ﷺ bersabda dalam hadits riwayat Imam al-Bukhari dari Jabir bin Abdillah:

وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ وَجُعِلَتْ لِيَ الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا

Artinya: "Dihalalkan bagiku ghanimah (harta rampasan perang), dan dijadikan untukku bumi ini sebagai masjid (tempat shalat) dan sebagai alat bersuci (tayammum)." (HR. al-Bukhari)

Kaitan dengan ulama:

Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah keutamaan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa, serta bahwa bumi seluruhnya boleh dijadikan tempat shalat. Beliau juga menukil bahwa yang dimaksud "empat puluh tahun" adalah jarak waktu antara pembangunan Ka'bah oleh Nabi Ibrahim 'alaihissalam dan pembangunan Baitul Maqdis oleh Nabi Sulaiman 'alaihissalam.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Masjid Pertama di Bumi

Imam Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim ketika menafsirkan QS. Ali 'Imran: 96 menjelaskan bahwa Masjidil Haram (Ka'bah) adalah rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia di muka bumi. Hal ini ditegaskan oleh banyak ulama tafsir dari kalangan salaf seperti Mujahid dan Qatadah. Adapun Masjidil Aqsa dibangun setelahnya dengan jarak empat puluh tahun.

Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa kata wudhi'a (diletakkan/dibangun) menunjukkan bahwa bangunan Ka'bah telah ada sejak awal mula sejarah manusia yang beriman, dan ia menjadi kiblat serta tempat ibadah yang diberkahi.

2. Makna "Empat Puluh Tahun"

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang membangun masing-masing masjid tersebut. Pendapat yang masyhur adalah bahwa Masjidil Haram dibangun oleh Nabi Ibrahim 'alaihissalam, dan Masjidil Aqsa dibangun oleh Nabi Sulaiman 'alaihissalam. Jarak antara keduanya sekitar empat puluh tahun. Namun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa keduanya dibangun oleh Nabi Adam 'alaihissalam, kemudian direnovasi oleh para nabi setelahnya. Yang terpenting, hadits ini menunjukkan kemuliaan kedua masjid tersebut.

3. Bumi Sebagai Tempat Shalat

Bagian akhir hadits ini mengandung kabar gembira bagi umat Nabi Muhammad ﷺ. Berbeda dengan umat-umat sebelumnya yang hanya boleh beribadah di tempat-tempat ibadah tertentu, umat Islam diberi keistimewaan bahwa seluruh bumi dijadikan masjid. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-Arba'in an-Nawawiyah menjelaskan bahwa ini adalah kekhususan umat Islam, selama tempat tersebut suci dan tidak najis.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa dijadikannya bumi sebagai masjid menunjukkan kemudahan syariat Islam dan kasih sayang Allah kepada umat ini. Seorang muslim tidak perlu bersusah payah mencari masjid tertentu untuk menunaikan shalat wajib, selama tempatnya suci.

4. Hikmah di Balik Urutan Tersebut

Syaikh Shalih al-Fauzan dalam Syarh Kitab at-Tauhid menjelaskan bahwa penyebutan Masjidil Haram terlebih dahulu menunjukkan keutamaannya atas seluruh masjid di dunia. Ia adalah kiblat umat Islam dan tempat thawaf. Adapun Masjidil Aqsa disebut setelahnya karena kedudukannya sebagai masjid kedua yang diberkahi, dan menjadi kiblat pertama umat Islam sebelum dipindahkan ke Ka'bah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu 'anhu adalah seorang sahabat yang sangat mencintai ilmu. Ia tidak segan bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang hal-hal yang mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang, namun ternyata mengandung hikmah besar.

Dalam riwayat lain yang shahih, Abu Dzar pernah bertanya: "Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Beriman kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya." (HR. al-Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan bahwa Abu Dzar adalah pribadi yang haus akan ilmu dan selalu ingin memahami agama dengan benar.

Dari kisah ini kita belajar bahwa bertanya kepada ulama tentang perkara agama adalah akhlak para sahabat. Mereka tidak malu bertanya, dan Rasulullah ﷺ menjawab dengan penuh kasih sayang. Maka hendaknya kita juga bersemangat menuntut ilmu dan bertanya kepada para ulama yang terpercaya.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakini keutamaan Masjidil Haram sebagai masjid pertama dan termulia di sisi Allah, serta Masjidil Aqsa sebagai masjid kedua yang diberkahi.
  2. Bersyukur atas kemudahan syariat bahwa bumi seluruhnya dijadikan tempat shalat bagi umat Islam. Maka jangan tinggalkan shalat meskipun sedang dalam perjalanan atau di tempat yang tidak ada masjidnya.
  3. Jaga kebersihan tempat shalat, karena shalat hanya sah di tempat yang suci dari najis.
  4. Semangatlah bertanya dan belajar sebagaimana para sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ, dengan adab dan niat yang ikhlas.
  5. Cintai kedua masjid suci dengan berdoa semoga Allah memudahkan kita untuk beribadah di dalamnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?