Tentang Batas Minimal Sutrah Bagi Orang yang Shalat
Shahih
haddatsana abu bakri ibnu abi syaybaha, haddatsana ismailu abnu ulayyaha, h qala wahaddatsani zuhayru ibnu harbin, haddatsana ismailu ibnu ibrahima, an yunusa, an humaydi ibni hilalin, an abdi allahi ibni asshamiti, an abi dzarrin, qala qala rasulu allahi " idza qama ahadukum yushalli fainnahu yasturuhu idza kana bayna yadayhi mitslu akhirahi arrahli faidza lam yakun bayna yadayhi mitslu akhirahi arrahli fainnahu yaqthau shalatahu alhimaru waalmarahu waalkalbu alaswadu ". qultu ya aba dzarrin ma balu alkalbi alaswadi mina alkalbi alahmari mina alkalbi alashfari qala ya abna akhi saaltu rasula allahi kama saaltani faqala " alkalbu alaswadu syaythanun ".
Dari Abu Dzar ra., ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian berdiri untuk shalat, maka sesuatu yang berada di depannya seukuran belakang pelana unta dapat menjadi sutrah baginya. Jika tidak ada sesuatu seukuran pelana di depannya, maka shalatnya dapat terputus oleh keledai, wanita, dan anjing hitam.” Aku berkata: “Wahai Abu Dzar, apa yang membedakan anjing hitam dari anjing merah atau anjing kuning?” Ia menjawab: “Wahai anak saudaraku, aku pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ sebagaimana engkau bertanya kepadaku. Beliau menjawab: ‘Anjing hitam adalah setan.’”