Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 5 tentang Larangan menyebarkan segala yang didengar tanpa verifikasi

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa seseorang sudah dianggap cukup berdusta jika ia membicarakan segala sesuatu yang didengarnya tanpa memilah kebenarannya. Ini peringatan keras agar kita tidak sembarangan menceritakan berita, apalagi yang belum jelas sumber dan faktanya. Islam mengajarkan untuk selalu tabayyun (memeriksa) sebelum menyampaikan informasi.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits:

Dari Hafs bin ‘Āshim, dari Abī Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

<p dir="rtl" style="font-size:1.2em;">كَفَىٰ بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ</p>

"Cukuplah seseorang dianggap berdusta jika ia menceritakan segala yang ia dengar."

(HR. Muslim no. 5, dalam Muqaddimah, Bāb an-Nahyi ‘an al-Ḥadītsi bi kulli mā sami’a)

Penjelasan Ulama:

  • Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (1/72) mengatakan: “Maknanya bahwa seseorang yang membicarakan setiap apa yang didengarnya, niscaya ia akan banyak berdusta, karena ia menceritakan apa yang tidak terjadi dan apa yang tidak benar. Oleh karena itu, hendaknya ia tidak menceritakan sesuatu kecuali yang ia yakini kebenarannya.”
  • Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari (12/279) menukil perkataan Al-Khattabi: “Hadits ini memperingatkan agar tidak menyebarkan setiap berita yang didengar, karena itu akan membawa kepada kebohongan.”
  • Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam (2/467) menjelaskan bahwa hadits ini termasuk salah satu prinsip adab dalam berbicara, karena banyaknya kabar yang tidak benar beredar justru dari orang yang suka menceritakan semua yang didengarnya tanpa verifikasi.

Penjelasan Rinci

Hadits ini sangat penting di tengah maraknya penyebaran informasi di zaman kita. Rasulullah ﷺ tidak melarang seseorang untuk berbicara, tetapi melarang kebiasaan menceritakan setiap yang didengar tanpa seleksi. Sebab, mayoritas berita yang didengar manusia tidaklah sempurna kebenarannya. Bisa jadi sang pembicara lupa, keliru, atau bahkan sengaja berdusta. Maka jika seseorang menyampaikan semua itu, ia pasti akan menyampaikan kebatilan dan kebohongan, meskipun tidak berniat dusta.

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa seorang mukmin harus mendiamkan (menahan diri) dari ucapan yang tidak jelas kebenarannya, kecuali jika ia benar-benar yakin. Beliau juga menukil wahyu dari ulama salaf: “Barangsiapa yang membicarakan semua yang ia dengar, maka ia pasti berdusta.”

Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa hadits ini mencakup larangan menyebarkan berita tanpa tatsabbut (cermat), sebagaimana firman Allah:

<p dir="rtl" style="font-size:1.2em;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا</p>

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadaku seorang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6)

Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah (salah satu ulama dalam daftar) dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin (no. 1523) berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa menyebarkan berita tanpa minta kejelasan adalah bagian dari kebohongan, karena kebanyakan berita yang didengar tidaklah benar jika diriwayatkan begitu saja.” Beliau mengingatkan agar kita menjauhi sifat naql al-akhbar (memindah berita) tanpa ilmu.

Pendapat ulama sepakat bahwa hadits ini merupakan salah satu pondasi adab Islam dalam bermuamalah dan menjaga lisan. Tidak ada perbedaan prinsip di antara imam mazhab dalam hal ini.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu –perawi hadits ini– dikenal sangat hati-hati dalam meriwayatkan hadits. Ia pernah berkata: “Sungguh aku menghafal dari Rasulullah ﷺ dua wadah (ilmu). Salah satunya telah aku sebarkan; adapun yang kedua, seandainya aku sebarkan, niscaya akan dipotong leherku ini.” (HR. al-Bukhari no. 120). Ini menunjukkan bahwa beliau tidak menceritakan semua yang didengar, kecuali yang beliau yakini kelayakannya untuk diketahui umat. Kisah ini mengajarkan kita adab untuk memilih dan memilah ilmu yang akan disampaikan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan cepat menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, meskipun itu dari orang terpercaya sekalipun, kecuali setelah diteliti.
  2. Biasakan tabayyun (klarifikasi) sebelum berbicara atau membagikan informasi.
  3. Jaga lisan dari kebiasaan “katanya” dan “kudengar” karena bisa menjerumuskan ke dalam dusta.
  4. Jadilah pribadi yang tsiqah (dapat dipercaya) dengan hanya menyampaikan apa yang engkau yakini benar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.