Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah penjelasan ringkas namun sangat padat dari Aisyah radhiyallahu 'anha tentang tata cara shalat Nabi ﷺ. Isinya mencakup tata cara memulai shalat dengan takbir, membaca Al-Fatihah, ruku yang seimbang, i'tidal yang sempurna, duduk di antara dua sujud dengan tenang, tasyahud setiap dua rakaat, posisi kaki ketika duduk, larangan duduk seperti setan, larangan menghamparkan lengan seperti binatang buas, dan mengakhiri shalat dengan salam. Ini adalah dalil penting tentang thuma'ninah (ketenangan) dalam shalat dan adab-adabnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat, Bab "Apa yang Mengumpulkan Sifat Shalat..." (No. 498), dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Teks haditsnya sebagaimana yang telah disebutkan.
Dalil Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya." (QS. Al-Mu'minun [23]: 1-2)
Ayat ini menunjukkan perintah khusyuk dan ketenangan dalam shalat, yang salah satu wujudnya adalah thuma'ninah dalam setiap gerakan sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas.
Kaitan dengan Ulama:
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung banyak faedah tentang sifat shalat Nabi ﷺ, di antaranya thuma'ninah dalam ruku, i'tidal, dan duduk di antara dua sujud. Beliau juga menjelaskan makna "عقبة الشيطان" (duduknya setan) sebagai duduk dengan menegakkan kedua kaki dan duduk di atas tumit, yang dilarang dalam shalat.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat penting dalam bab sifat shalat. Mari kita rinci poin-poinnya:
1. Memulai Shalat dengan Takbir dan Membaca Al-Fatihah
Aisyah radhiyallahu 'anha mengabarkan bahwa Nabi ﷺ memulai shalat dengan takbir (ucapan "Allahu Akbar") dan membaca "Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin" (Al-Fatihah). Ini menunjukkan bahwa takbiratul ihram adalah pembuka shalat, dan membaca Al-Fatihah adalah rukun dalam setiap rakaat. Imam Asy-Syafi'i dan jumhur ulama berpendapat bahwa membaca Al-Fatihah adalah wajib dalam setiap rakaat berdasarkan hadits: "Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ubadah bin Shamit)
2. Ruku yang Seimbang
Nabi ﷺ tidak mengangkat kepalanya (ke atas) dan tidak pula menundukkannya (ke bawah) ketika ruku, tetapi posisinya lurus di antara keduanya. Ini menunjukkan bahwa punggung beliau lurus seperti bidang datar ketika ruku. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah punggung beliau lurus, tidak melengkung ke atas atau ke bawah, dan kepala sejajar dengan punggung.
3. I'tidal yang Sempurna
Nabi ﷺ tidak langsung sujud setelah mengangkat kepala dari ruku, tetapi berdiri tegak terlebih dahulu hingga sempurna. Ini adalah dalil wajibnya thuma'ninah dalam i'tidal. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaad al-Ma'ad menegaskan bahwa Nabi ﷺ selalu thuma'ninah dalam i'tidal, dan beliau bersabda kepada orang yang shalatnya tidak thuma'ninah: "Engkau belum shalat, ulangi!" (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
4. Duduk di Antara Dua Sujud dengan Tenang
Nabi ﷺ tidak langsung sujud lagi setelah mengangkat kepala dari sujud pertama, tetapi duduk tegak terlebih dahulu hingga sempurna. Ini juga dalil wajibnya thuma'ninah dalam duduk di antara dua sujud.
5. Tasyahud Setiap Dua Rakaat
Nabi ﷺ membaca tasyahud di setiap dua rakaat. Ini menunjukkan bahwa tasyahud pertama (setelah dua rakaat pertama) adalah sunnah yang beliau lakukan, dan tasyahud akhir adalah rukun. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa tasyahud pertama hukumnya wajib menurut pendapat yang kuat di kalangan ulama Hanabilah, dan sunnah menurut jumhur.
6. Posisi Kaki Ketika Duduk Tasyahud
Nabi ﷺ menghamparkan kaki kirinya (diduduki) dan menegakkan kaki kanannya. Ini adalah posisi duduk iftirasy pada tasyahud pertama dan duduk tawarruk pada tasyahud akhir (menurut sebagian ulama). Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Sifat Shalat Nabi menjelaskan bahwa duduk iftirasy dilakukan pada tasyahud pertama dan duduk tawarruk pada tasyahud akhir berdasarkan hadits-hadits shahih.
7. Larangan Duduk Seperti Setan
Nabi ﷺ melarang "عقبة الشيطان" (duduknya setan). Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah duduk dengan menegakkan kedua kaki dan duduk di atas tumit (pinggul menempel di lantai dan kedua betis tegak). Ini adalah cara duduk yang menyerupai binatang dan dilarang dalam shalat.
8. Larangan Menghamparkan Lengan Seperti Binatang Buas
Nabi ﷺ melarang seseorang menghamparkan kedua lengannya di lantai ketika sujud seperti binatang buas (seperti anjing atau singa) yang menghamparkan kaki depannya. Ini menunjukkan bahwa ketika sujud, lengan harus diangkat dari lantai dan tidak ditempelkan.
9. Mengakhiri Shalat dengan Salam
Nabi ﷺ mengakhiri shalat dengan salam ke kanan dan ke kiri. Ini adalah dalil bahwa salam adalah penutup shalat.
Pendapat Ulama tentang Thuma'ninah:
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaad al-Ma'ad menegaskan bahwa thuma'ninah dalam setiap rukun shalat adalah wajib, dan shalat tidak sah tanpanya. Ini berdasarkan hadits Abu Hurairah tentang orang yang shalatnya tidak thuma'ninah, Nabi ﷺ menyuruhnya mengulang shalat hingga tiga kali. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menegaskan hal yang sama dalam fatwa-fatwanya.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ masuk masjid, lalu masuk seorang laki-laki dan shalat. Setelah selesai, ia datang memberi salam kepada Nabi ﷺ. Nabi ﷺ menjawab salamnya lalu bersabda: "Kembalilah dan ulangi shalatmu, karena sesungguhnya engkau belum shalat." Orang itu kembali dan mengulangi shalatnya, lalu datang memberi salam. Nabi ﷺ bersabda lagi: "Kembalilah dan ulangi shalatmu, karena sesungguhnya engkau belum shalat." Sampai tiga kali. Orang itu berkata: "Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa shalat lebih baik dari ini. Maka ajarkanlah aku." Nabi ﷺ bersabda: "Jika engkau berdiri untuk shalat, maka bertakbirlah, lalu bacalah yang mudah dari Al-Qur'an, kemudian rukuklah dengan thuma'ninah, lalu bangkitlah (i'tidal) hingga engkau berdiri tegak, kemudian sujudlah dengan thuma'ninah, lalu bangkitlah (duduk) hingga engkau duduk dengan thuma'ninah, kemudian sujudlah dengan thuma'ninah. Lakukanlah itu dalam seluruh shalatmu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya thuma'ninah dalam shalat. Orang yang shalatnya terburu-buru tanpa ketenangan, shalatnya tidak dianggap sempurna oleh Nabi ﷺ. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua agar tidak tergesa-gesa dalam shalat.
Kesimpulan Praktis
- Memulai shalat dengan takbir dan membaca Al-Fatihah dengan tartil.
- Ruku dengan thuma'ninah, punggung lurus, tidak mengangkat atau menundukkan kepala secara berlebihan.
- I'tidal dengan sempurna, berdiri tegak sebelum sujud.
- Duduk di antara dua sujud dengan tenang, tidak tergesa-gesa.
- Membaca tasyahud setiap dua rakaat.
- Duduk iftirasy (menghamparkan kaki kiri dan menegakkan kaki kanan) ketika tasyahud.
- Menghindari duduk seperti setan (duduk di atas tumit dengan kedua betis tegak).
- Tidak menghamparkan lengan ketika sujud seperti binatang buas.
- Mengakhiri shalat dengan salam.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.