Penjelasan Hadits Muslim No. 48 tentang Anjuran memuliakan tetangga, tamu, dan berkata baik

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu hadits induk dalam adab Islam. Rasulullah ﷺ mengaitkan tiga amalan mulia—berbuat baik kepada tetangga, memuliakan tamu, dan menjaga lisan—dengan keimanan kepada Allah dan hari akhir. Ini menunjukkan bahwa iman bukan sekadar keyakinan di hati, tetapi harus dibuktikan dengan akhlak yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Hadits ini mengajarkan bahwa kesempurnaan iman seseorang tercermin dari bagaimana ia memperlakukan orang lain dan menjaga ucapannya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Al-Iman, Bab "Anjuran untuk Memuliakan Tetangga dan Tamu serta Pentingnya Diam Kecuali untuk Kebaikan", nomor 48. Diriwayatkan dari sahabat Abu Syuraih Al-Khuza'i radhiyallahu 'anhu.

Lafaz hadits (sebagaimana yang Anda sebutkan):

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَسْكُتْ

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Allah ﷻ berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki." (QS. An-Nisa' [4]: 36)

Ayat ini menunjukkan perintah berbuat baik kepada tetangga secara eksplisit, sejajar dengan perintah beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada orang tua.

Penjelasan Rinci

1. Makna "Man kana yu'minu billahi wal yaumil akhir" (Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir)

Para ulama menjelaskan bahwa ungkapan ini adalah bentuk dorongan yang sangat kuat. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa kalimat ini adalah tahridh (dorongan) untuk melakukan amalan tersebut, dan juga merupakan isyarat bahwa akhlak yang mulia ini adalah buah dari keimanan yang benar. Orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan yakin akan adanya hari pembalasan, maka imannya akan mendorongnya untuk berbuat baik kepada sesama.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa penyebutan "iman kepada Allah dan hari akhir" mengandung makna bahwa amalan-amalan ini bukan sekadar adab sosial biasa, melainkan bagian dari ibadah dan bukti keimanan. Karena orang yang beriman kepada hari akhir akan berhati-hati, ia tahu bahwa semua perbuatannya akan dihisab.

2. Berbuat baik kepada tetangga

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ihsan kepada tetangga mencakup: tidak mengganggunya, membantu kebutuhannya, menjenguknya saat sakit, memberi hadiah, dan berbagi kebaikan. Bahkan disebutkan bahwa sebagian ulama memasukkan sabar atas gangguan tetangga sebagai bagian dari ihsan.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hak tetangga sangat besar dalam Islam. Tetangga dekat (dzil qurba) memiliki hak ganda: hak tetangga dan hak kerabat. Sedangkan tetangga jauh tetap memiliki hak ketetanggaan.

3. Memuliakan tamu

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa memuliakan tamu hukumnya sunnah mu'akkadah (sangat dianjurkan) menurut jumhur ulama. Namun ada pendapat yang menyatakan wajib untuk tamu yang singgah dalam keadaan darurat. Adapun batas waktu memuliakan tamu, disebutkan dalam hadits lain bahwa itu adalah tiga hari, dan lebih dari itu adalah sedekah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa memuliakan tamu mencakup: menyambutnya dengan wajah ceria, menyediakan makanan, berbicara dengan baik, dan tidak membuat tamu merasa terbebani.

4. Berkata baik atau diam

Ini adalah kaidah emas dalam menjaga lisan. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Riyadhus Shalihin menyebutkan hadits ini sebagai dasar bahwa siapa yang ingin berbicara, hendaknya memikirkan: jika ucapannya mengandung kebaikan yang jelas, silakan berbicara; jika tidak, maka diam lebih baik.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam Jami'ul Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa menjaga lisan adalah setengah dari keislaman. Beliau mengutip perkataan sebagian salaf bahwa keselamatan manusia terletak pada menjaga lisannya.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam kitabnya Adab Al-Masyi ila Ash-Shalah menyebutkan bahwa diam dari perkataan yang tidak bermanfaat adalah tanda kematangan iman dan kewarasan akal.

Perbedaan Pendapat Ulama:

Terdapat perbedaan pendapat mengenai hukum memuliakan tamu:

  • Pendapat pertama: Wajib untuk tamu yang datang, berdasarkan perintah dalam hadits ini yang bersifat mutlak.
  • Pendapat kedua (yang lebih kuat menurut jumhur): Sunnah mu'akkadah, kecuali dalam kondisi tertentu seperti tamu yang membutuhkan pertolongan darurat.

Adapun mengenai berbuat baik kepada tetangga, para ulama sepakat bahwa hukumnya wajib secara umum, dan larangan mengganggu tetangga termasuk dosa besar.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Syuraih Al-Khuza'i radhiyallahu 'anhu—sahabat yang meriwayatkan hadits ini—adalah salah seorang sahabat yang ikut dalam pembebasan kota Makkah. Suatu ketika, beliau mendengar langsung sabda Rasulullah ﷺ ini. Para ulama menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Abu Syuraih dalam konteks yang sangat penting, yaitu ketika beliau menyampaikan wasiat Rasulullah ﷺ tentang hak tetangga.

Dalam riwayat lain dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda: "Jibril terus-menerus mewasiatkan kepadaku tentang tetangga, sampai aku mengira bahwa tetangga akan mendapatkan bagian warisan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap hak tetangga, sampai-sampai wahyu pun turun menekankan hal ini berulang kali.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbaiki hubungan dengan tetangga: Mulailah dengan tidak mengganggu, lalu tingkatkan dengan memberi hadiah, membantu kesulitan mereka, dan menjenguk saat sakit.
  2. Muliakan tamu: Sediakan makanan, sambut dengan ramah, dan jangan membuat tamu merasa terbebani atau tidak nyaman.
  3. Jaga lisan: Sebelum berbicara, tanyakan pada diri sendiri: "Apakah ini kebaikan?" Jika ragu, lebih baik diam. Diam yang bijak lebih baik daripada bicara yang menyesatkan.
  4. Hubungkan semua amalan dengan iman: Jadikan ketiga amalan ini sebagai bukti keimanan kita, bukan sekadar kebiasaan sosial.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?