Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa merapatkan dan meluruskan shaf (barisan) shalat adalah perintah Nabi ﷺ yang sangat ditekankan, karena shaf yang rapi melambangkan persatuan umat dan mencegah perpecahan hati. Nabi ﷺ juga mengatur posisi shaf berdasarkan kedudukan ilmu dan akal, agar orang-orang berilmu berada paling dekat dengan beliau. Perpecahan shaf menjadi sebab perpecahan hati, sebagaimana yang terjadi pada masa setelahnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits utama — Shahih Muslim no. 432, Kitab ash-Shalah, Bab Taswiyat ash-Shufuf wa Iqamatiha:
Dari Abu Mas'ud al-Anshari radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَمْسَحُ مَنَاكِبَنَا فِي الصَّلَاةِ وَيَقُولُ: «اسْتَوُوا وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ، لِيَلِنِي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ»
Terjemah: "Rasulullah ﷺ biasa mengusap pundak-pundak kami dalam shalat dan bersabda: 'Luruskanlah (shaf) dan janganlah kalian berselisih, karena akan berselisih pula hati kalian. Hendaklah yang berada paling dekat denganku adalah orang-orang yang berakal dan berilmu, kemudian yang setelah mereka, kemudian yang setelah mereka.'"
Abu Mas'ud berkata: "Sekarang ini kalian lebih banyak berselisih."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan — QS. Ash-Shaff [61]: 4:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
Terjemah: "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh."
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kecintaan Allah kepada barisan yang rapi dan bersatu, dan para ulama seperti Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mengaitkan ayat ini dengan keutamaan merapatkan shaf shalat.
Penjelasan Rinci
1. Perintah meluruskan shaf adalah perintah Nabi ﷺ secara langsung.
Nabi ﷺ tidak hanya memerintahkan dengan ucapan, tetapi juga mengusap pundak para sahabat dengan tangan beliau untuk memastikan shaf benar-benar rapi. Ini menunjukkan betapa seriusnya perkara ini. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini adalah dalil tegas tentang wajibnya meluruskan shaf dan merapatkannya.
2. "Jangan berselisih, karena akan berselisih hati kalian."
Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa zhahirnya perselisihan shaf (maju-mundur, tidak rapi) menjadi sebab perselisihan hati. Ini menunjukkan hubungan erat antara amal lahir dan keadaan batin. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsat al-Lahfan juga menegaskan bahwa kerapian jamaah melahirkan kelembutan hati dan persatuan.
3. "Li yalini minkum ulul ahlam wan nuha."
Yang dimaksud ulul ahlam adalah orang-orang yang berakal matang, dan an-nuha adalah orang-orang yang memiliki pemahaman dan ilmu. Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah bin Di'amah menyebutkan bahwa hikmahnya adalah agar orang berilmu bisa mengingatkan Nabi ﷺ jika ada kekeliruan, dan agar mereka menjadi teladan bagi shaf di belakangnya. Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa ini juga berlaku setelah Nabi ﷺ: orang berilmu didahulukan di shaf depan.
4. Perkataan Abu Mas'ud: "Sekarang kalian lebih banyak berselisih."
Ini adalah isyarat bahwa sepeninggal Nabi ﷺ, umat mulai meninggalkan sunnah ini, dan akibatnya terjadi perpecahan. Ibn Taymiyyah rahimahullah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa persatuan lahir (shaf) mencerminkan persatuan batin (hati), dan sebaliknya.
5. Perbedaan pendapat ulama daftar:
- Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat merapatkan shaf hukumnya wajib dalam shalat berjamaah.
- Imam Malik berpendapat sunnah muakkadah, tidak sampai wajib.
- Yang paling kuat menurut dalil adalah pendapat jumhur (asy-Syafi'i, Ahmad, dan lain-lain) bahwa merapatkan shaf adalah wajib, karena perintahnya tegas dan ada ancaman akibat (perselisihan hati).
Story Telling
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu — sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab shahih — bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلَاةِ»
"Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan shalat."
Suatu ketika, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu mengangkat seorang petugas khusus untuk memeriksa shaf, dan tidak memulai takbir sampai shaf benar-benar rapi. Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat menjaga sunnah ini. Ibn Rajab al-Hanbali menyebutkan bahwa salaf sangat bersungguh-sungguh dalam hal ini karena mereka memahami bahwa kerapian shaf adalah cermin kerapian hati.
Kesimpulan Praktis
- Rapatkan dan luruskan shaf — pundak sejajar, kaki sejajar, tidak ada celah.
- Jangan biarkan shaf berlubang — isi celah yang kosong, karena setan masuk melalui celah shaf.
- Orang berilmu dan berakal didahulukan di shaf depan, terutama di belakang imam.
- Sadari bahwa kerapian shaf mempengaruhi persatuan hati — jangan anggap remeh.
- Jangan berpecah dalam shaf, karena itu tanda dan sebab perpecahan hati umat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.