Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah penjelasan langsung dari sahabat mulia, Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma, tentang tiga surat penting dalam Al-Qur'an. Beliau menamakan Surat At-Taubah sebagai "Al-Fadhihah" (yang membongkar aib), karena surat ini banyak mengungkap keadaan orang-orang munafik. Kemudian beliau menjelaskan bahwa Surat Al-Anfal turun berkaitan dengan Perang Badar, dan Surat Al-Hasyr turun berkenaan dengan Bani Nadhir. Ini menunjukkan pemahaman sahabat yang mendalam tentang sebab dan konteks turunnya Al-Qur'an.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab Tentang Surah At-Taubah dan Al-Anfal serta Al-Hasyr, nomor 3031, dari jalur Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas.
Terkait penamaan Surat At-Taubah sebagai "Al-Fadhihah", para ulama menjelaskan bahwa surat ini memang banyak mengungkapkan aib dan keadaan batin orang-orang munafik. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Sa'id bin Jubair juga bahwa Ibnu Abbas berkata: "Surat At-Taubah itu adalah Al-Fadhihah (yang membongkar keburukan), tidaklah turun darinya satu ayat pun melainkan tentang mereka (orang-orang munafik) atau tentang apa yang mereka perbuat." (HR. Al-Bukhari secara ta'liq, dan disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya).
Adapun tentang Surat Al-Anfal, Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa surat ini turun berkenaan dengan Perang Badar, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas dan para ulama lainnya. Surat ini membahas tentang pembagian harta rampasan perang dan pelajaran dari peristiwa besar tersebut.
Tentang Surat Al-Hasyr, Ibnu Katsir menukil dari Ibnu Abbas bahwa surat ini turun tentang Bani Nadhir, yaitu kaum Yahudi yang mengkhianati perjanjian dengan Rasulullah ﷺ, sehingga mereka diusir dari Madinah.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in sangat memperhatikan sebab turunnya ayat (asbabun nuzul) karena hal ini sangat membantu dalam memahami maksud Al-Qur'an. Dalam hadits ini, Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma memberikan tiga penjelasan penting:
Pertama, tentang Surat At-Taubah. Ibnu Abbas menamakannya "Al-Fadhihah" yang artinya surat yang membongkar atau menyingkap aib. Ini karena surat ini banyak mengungkapkan tabir kemunafikan. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa surat At-Taubah adalah surat terakhir yang diturunkan secara utuh, dan di dalamnya banyak disebutkan keadaan orang-orang munafik dengan kata "wa minhum" (dan di antara mereka) yang berulang-ulang, sehingga kaum muslimin saat itu sempat mengira bahwa tidak ada seorang pun dari mereka yang selamat dari disebutkan dalam surat tersebut. Ini menunjukkan betapa tegasnya Al-Qur'an dalam membersihkan barisan umat dari kemunafikan.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Surat At-Taubah memiliki keistimewaan karena diturunkan setelah peristiwa Tabuk, yang menjadi ujian besar bagi keimanan kaum muslimin, sehingga Allah membedakan antara yang jujur imannya dan yang munafik.
Kedua, tentang Surat Al-Anfal. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa surat ini berkaitan dengan Perang Badar. Ini dikuatkan oleh banyak ulama. Imam As-Suyuthi (dalam kitabnya yang merujuk pada riwayat-riwayat awal) menyebutkan bahwa awal Surat Al-Anfal turun tentang pembagian harta rampasan Perang Badar yang sempat diperselisihkan para sahabat. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa surat ini memuat pelajaran besar tentang pertolongan Allah, ketaatan kepada Rasul, dan adab-adab peperangan.
Ketiga, tentang Surat Al-Hasyr. Ibnu Abbas menegaskan bahwa surat ini turun tentang Bani Nadhir. Ini adalah salah satu kabilah Yahudi di Madinah yang mengadakan perjanjian damai dengan Rasulullah ﷺ, namun kemudian berkhianat dan berencana membunuh beliau. Maka Allah menurunkan surat ini yang berisi pengusiran mereka dari Madinah. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa peristiwa ini terjadi setelah Perang Uhud, dan menjadi bukti bahwa Allah senantiasa membela Rasul-Nya dari tipu daya musuh.
Yang menarik dari hadits ini adalah ketelitian Ibnu Abbas dalam memahami Al-Qur'an. Beliau tidak hanya menghafal, tetapi juga memahami konteks turunnya setiap surat. Ini sebagaimana doa Rasulullah ﷺ untuk beliau: "Ya Allah, pahamkanlah ia dalam agama dan ajarkanlah ia takwil (tafsir)." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Story Telling
Dikisahkan bahwa Said bin Jubair - seorang tabi'in yang sangat alim dan murid setia Ibnu Abbas - sering kali bertanya kepada gurunya tentang berbagai hal dalam Al-Qur'an. Dalam riwayat lain, Said bin Jubair berkata: "Aku bertanya kepada Ibnu Abbas tentang Surat At-Taubah, maka beliau menjawab dengan jawaban yang membuatku takjub, karena beliau tidak hanya menyebutkan nama suratnya, tetapi juga menjelaskan isi dan tujuannya."
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma adalah sosok yang dijuluki "Turjumanul Qur'an" (penerjemah/penafsir Al-Qur'an). Beliau mendapat doa khusus dari Rasulullah ﷺ agar dipahamkan dalam agama dan diajarkan takwil. Karena itu, para tabi'in seperti Said bin Jubair, Mujahid, dan Thawus sangat antusias belajar tafsir darinya. Mujahid berkata: "Aku membacakan mushaf kepada Ibnu Abbas dari awal hingga akhir, aku berhenti di setiap ayat dan bertanya tentangnya."
Hikmah dari kisah ini adalah pentingnya bertanya kepada ahlinya, tidak malu untuk belajar, dan berusaha memahami Al-Qur'an tidak hanya sekadar membacanya, tetapi juga merenungkan maknanya.
Kesimpulan Praktis
Beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Pentingnya mempelajari asbabun nuzul (sebab turunnya ayat) karena sangat membantu memahami maksud Al-Qur'an dengan benar.
- Al-Qur'an adalah kitab yang hidup dan kontekstual - setiap suratnya turun untuk menjawab realitas umat, baik dalam peperangan, menghadapi munafik, maupun berinteraksi dengan non-muslim.
- Surat At-Taubah mengajarkan kita untuk jujur dan introspeksi - Allah membongkar kemunafikan agar kita tidak menjadi seperti mereka. Kita harus menjaga keikhlasan dalam beramal.
- Surat Al-Anfal mengajarkan bahwa kemenangan datang dari Allah - Perang Badar adalah bukti bahwa pertolongan Allah lebih berharga dari jumlah pasukan dan perlengkapan.
- Surat Al-Hasyr mengajarkan bahwa Allah pasti membela hamba-Nya yang jujur - Bani Nadhir yang berkhianat akhirnya diusir, sebagaimana Allah selalu menolong Rasul-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.