Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan sebab turunnya QS. An-Nisa [4]: 94, yaitu ketika sebagian kaum Muslimin membunuh seorang penggembala yang telah mengucapkan salam, karena mengira dia bukan Muslim, lalu mereka mengambil kambingnya. Ayat ini menegaskan larangan tergesa-gesa menuduh seseorang bukan mukmin padahal ia telah menampakkan tanda keislaman. Pelajarannya: kehormatan darah dan harta seorang Muslim sangat besar, dan kita wajib berhati-hati serta tidak menghukumi berdasarkan prasangka.
Rujukan Ulama & Dalil
Firman Allah yang menjadi inti hadits ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَىٰ إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِندَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ ۚ كَذَٰلِكَ كُنتُم مِّن قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
Terjemahan ringkas: "Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berperang di jalan Allah, maka telitilah dengan jelas, dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu: 'Kamu bukan mukmin', karena kamu mencari keuntungan dunia. Padahal di sisi Allah ada banyak rampasan. Dahulu kamu juga demikian, lalu Allah memberi karunia kepadamu, maka telitilah. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. An-Nisa [4]: 94)
Hadits terkait (Shahih Muslim no. 3025, Kitab Tafsir), dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, sebagaimana disebutkan dalam pertanyaan. Imam Muslim meriwayatkannya melalui jalur Sufyan (ats-Tsauri) dari Amr (bin Dinar) dari Atha' (bin Abi Rabah) dari Ibnu Abbas. Perhatikan bahwa jalur ini menghimpun nama-nama ulama dalam daftar: Sufyan ats-Tsauri, Atha' bin Abi Rabah, dan Ibnu Abbas.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits. Ibnu Abbas menceritakan bahwa sekelompok Muslim bertemu seorang lelaki yang sedang menggembala kambingnya. Lelaki itu mengucapkan "Assalamu 'alaikum" sebagai tanda perdamaian dan keislaman. Namun mereka justru menangkap, membunuhnya, dan mengambil kambingnya dengan niat mendapatkan harta. Maka turunlah ayat 94 Surah An-Nisa yang melarang sikap tergesa-gesa seperti itu.
Poin tafsir yang penting. Kata "فَتَبَيَّنُوا" (fatabayyanu) berarti "telitilah dengan jelas" — bukan sekadar menduga. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini mencela orang yang membunuh orang yang telah menampakkan keislaman hanya karena mengharapkan harta dunia. Ibnu Abbas sendiri — sebagaimana disebutkan di akhir hadits — membaca lafaz "السَّلَامَ" (as-salam), yaitu orang yang mengucapkan salam, bukan "السَّلَمَ" (as-salam dalam makna penyerahan diri). Kedua bacaan ini sama-sama menunjukkan bahwa orang itu telah menampakkan tanda keislaman atau perdamaian.
Bagaimana para ulama memahami hadits ini.
- Atha' bin Abi Rabah (guru dari Amr bin Dinar dalam sanad ini) termasuk tabi'in yang meriwayatkan penjelasan Ibnu Abbas tentang sebab turunnya ayat. Beliau dikenal sebagai mufti Makkah, dan periwayatannya di sini menunjukkan pentingnya memahami ayat dengan latar peristiwanya.
- Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan hadits ini, dan beliau dikenal sangat berhati-hati dalam meriwayatkan serta menolak tafsir yang tidak berdasar.
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kewajiban berhati-hati (tatsabbut) dalam menghukumi seseorang, khususnya dalam perkara darah dan harta. Beliau juga menyebutkan bahwa ayat ini menjadi dalil bahwa ucapan salam merupakan tanda keislaman yang harus dihormati.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari ketika membahas hadits-hadits serupa menegaskan bahwa tidak boleh seseorang membunuh atau mengambil harta orang yang telah menampakkan syiar Islam hanya karena prasangka atau tamak.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitab-kitabnya sering menekankan kaidah "tatsabbut" (verifikasi) sebelum berhukum, dan bahwa niat buruk mencari harta dunia tidak boleh menjadi alasan melanggar kehormatan Muslim.
- Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini sebagai larangan menuduh bukan mukmin kepada orang yang menampakkan keislaman, dan bahwa Allah mencela motif "mencari keuntungan dunia" dalam tindakan tersebut.
Perbedaan pendapat. Sebagian ulama berbeda pendapat apakah ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa tertentu (seperti kisah dalam hadits ini) atau bersifat umum. Namun mayoritas ulama dari daftar di atas — seperti Ibnu Katsir, an-Nawawi, dan as-Sa'di — menerima riwayat Ibnu Abbas ini sebagai sebab turunnya ayat, dan mengambil pelajaran umum darinya. Yang paling kuat adalah pendapat yang menerima riwayat ini sekaligus menjadikan ayat sebagai kaidah umum: wajib verifikasi sebelum menghukumi dan haram melanggar darah serta harta Muslim.
Story Telling
Dikisahkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma — sepupu Nabi ﷺ dan salah satu ulama tafsir terbesar di kalangan sahabat — bahwa seorang penggembala sederhana sedang bersama kambingnya. Ketika ia melihat sekelompok Muslim, ia mengucapkan "Assalamu 'alaikum" sebagai tanda bahwa ia termasuk golongan yang damai dan berserah kepada Allah. Namun kelompok itu tidak memeriksa dengan teliti; mereka menangkapnya, membunuhnya, dan membawa kambing-kambingnya. Hati mereka tergoda oleh harta dunia. Maka Allah menurunkan ayat yang menegur mereka dengan lembut namun tegas: "Janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu: 'Kamu bukan mukmin'." Ibnu Abbas kemudian membaca lafaz itu dengan "as-salam" untuk menegaskan bahwa yang dimaksud adalah orang yang mengucapkan salam. Hikmahnya: betapa besar bahaya tergesa-gesa dalam menghukumi dan tamak terhadap harta, sampai-sampai Allah menurunkan ayat khusus untuk menegur perbuatan itu.
Kesimpulan Praktis
- Verifikasi sebelum menghukumi. Jangan menuduh seseorang bukan Muslim atau bukan mukmin hanya karena prasangka, penampilan, atau keadaan tertentu.
- Hormati syiar Islam. Ucapan salam adalah tanda keislaman yang harus dihormati; jangan diremehkan.
- Jaga darah dan harta Muslim. Keduanya haram dilanggar kecuali dengan hak yang syar'i.
- Jauhi tamak harta dunia. Motif duniawi tidak boleh menjadi alasan melanggar kehormatan orang lain.
- Belajar tafsir dengan sebab turunnya. Memahami ayat dengan latar peristiwanya membantu kita mengamalkannya dengan benar, sebagaimana dicontohkan Ibnu Abbas, Atha', dan Sufyan ats-Tsauri.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.