Penjelasan Hadits Muslim No. 3006 tentang Kebaikan menghapus utang dan adab shalat serta perlakuan terhadap hamba

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits panjang Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu ini berisi banyak pelajaran agung: keutamaan memberi kelonggaran dan menghapus utang orang yang kesulitan, adab memperlakukan pembantu, adab di masjid, larangan melaknat, serta mukjizat-mukjizat Nabi ﷺ berupa air memancar dari jari-jari beliau, pohon yang patuh, dan makanan dari laut. Inti hadits ini mengajarkan akhlak mulia, kasih sayang, dan keyakinan akan kekuasaan Allah melalui mukjizat Rasul-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Az-Zuhud wa Ar-Raqa'iq, Bab "Hadits Jabir ath-Thawil wa Qishshah Abi Al-Yasar" (no. 3006). Sebagian riwayat juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dengan lafaz berbeda.

Di dalam hadits ini terdapat beberapa sabda Nabi ﷺ yang menjadi dalil penting:

  1. Sabda Nabi ﷺ tentang keutamaan memberi kelonggaran utang:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ

"Barangsiapa memberi kelonggaran kepada orang yang kesulitan (dalam membayar utang) atau menghapus utangnya, maka Allah akan menaunginya di bawah naungan-Nya (pada hari Kiamat)."

  1. Sabda Nabi ﷺ tentang perlakuan terhadap pembantu:

أَطْعِمُوهُمْ مِمَّا تَأْكُلُونَ وَأَلْبِسُوهُمْ مِمَّا تَلْبَسُونَ

"Berilah mereka makan dari apa yang kalian makan, dan berilah mereka pakaian dari apa yang kalian pakai."

  1. Sabda Nabi ﷺ tentang larangan melaknat:

لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لَا تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ

"Janganlah kalian mendoakan keburukan atas diri kalian, jangan atas anak-anak kalian, dan jangan atas harta kalian. Jangan sampai doa itu bertepatan dengan saat Allah memberikan permintaan, lalu Dia mengabulkannya untuk kalian."

  1. Sabda Nabi ﷺ tentang adab membuang ludah di masjid:

فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ يُصَلِّي فَإِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قِبَلَ وَجْهِهِ فَلَا يَبْصُقَنَّ قِبَلَ وَجْهِهِ وَلَا عَنْ يَمِينِهِ وَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ تَحْتَ رِجْلِهِ الْيُسْرَى

"Sesungguhnya salah seorang dari kalian apabila berdiri shalat, maka Allah Tabaraka wa Ta'ala berada di hadapan wajahnya. Maka janganlah ia meludah ke arah hadapannya dan jangan ke arah kanannya. Hendaklah ia meludah ke arah kirinya di bawah kaki kirinya."

Dalil-dalil pendukung dari Al-Qur'an:

QS. Al-Baqarah [2]: 280

وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ وَأَن تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

"Dan jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan (menghapus utang itu), itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

QS. An-Nahl [16]: 90

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ

"Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebaikan, dan memberi kepada kerabat dekat."

QS. Al-Ahzab [33]: 56

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

Penjelasan Rinci

1. Keutamaan Memberi Kelonggaran dan Menghapus Utang

Dalam hadits ini, Abu Al-Yasar radhiyallahu 'anhu—sahabat Nabi ﷺ—menunjukkan akhlak mulia. Ketika seorang yang berutang kepadanya bersembunyi karena malu dan tidak mampu membayar, Abu Al-Yasar tidak marah atau memaksakan. Bahkan setelah mendengar pengakuan jujur si pengutang bahwa ia benar-benar tidak mampu, Abu Al-Yasar menghapus seluruh utangnya dengan tangannya sendiri.

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan besar bagi orang yang memberi kelonggaran kepada orang yang kesulitan membayar utang, apalagi menghapusnya sama sekali. Ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 280 yang memerintahkan memberi tangguh dan menganjurkan bersedekah dengan menghapus utang.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini mengandung dorongan kuat untuk berbuat baik kepada orang yang kesulitan, dan bahwa menghapus utang adalah sedekah yang lebih utama daripada sekadar menunggu.

2. Adab Memperlakukan Pembantu dan Hamba Sahaya

Abu Al-Yasar juga menuturkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Berilah mereka makan dari apa yang kalian makan, dan berilah mereka pakaian dari apa yang kalian pakai."

Imam Ibn Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menjelaskan bahwa perintah ini menunjukkan wajibnya berbuat adil kepada pembantu dan hamba sahaya. Mereka tidak boleh diberi makan yang lebih buruk dari yang dimakan tuannya, dan tidak boleh diberi pakaian yang lebih jelek dari yang dipakai tuannya. Ini adalah ajaran Islam yang sangat maju dalam memperlakukan pembantu dengan penuh kasih sayang dan keadilan.

3. Adab di Masjid dan Larangan Meludah ke Arah Kiblat

Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa Nabi ﷺ membersihkan ludah yang ada di kiblat masjid dengan ranting kurma, lalu bersabda bahwa ketika seseorang shalat, Allah berada di hadapan wajahnya. Oleh karena itu, tidak boleh meludah ke arah kiblat atau ke kanan, tetapi ke kiri di bawah kaki kiri.

Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan hadits serupa dalam Shahih-nya. Para ulama menjelaskan bahwa membersihkan masjid dari kotoran adalah bagian dari menjaga kesucian masjid. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa meludah di masjid hukumnya makruh, dan jika dilakukan, wajib membersihkannya.

4. Larangan Melaknat Makhluk

Ketika seorang sahabat mengutuk untanya karena bandel, Nabi ﷺ memerintahkannya turun dari unta tersebut dan bersabda: "Jangan temani kami dengan hewan yang terkutuk." Beliau juga melarang mendoakan keburukan atas diri sendiri, anak, dan harta, karena bisa bertepatan dengan waktu mustajabnya doa.

Imam Ibn Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fath Al-Bari menjelaskan bahwa larangan ini untuk menjaga lisan dari doa-doa buruk yang bisa membahayakan diri sendiri. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah juga menegaskan bahwa seorang Muslim hendaknya berhati-hati dalam berdoa, dan tidak mendoakan keburukan kecuali kepada orang yang zalim yang jelas kezalimannya.

5. Mukjizat Nabi ﷺ

Hadits ini memuat beberapa mukjizat Nabi ﷺ:

  • Air memancar dari jari-jari beliau hingga seluruh pasukan minum dan berwudhu dari bejana kecil yang hanya berisi setetes air.
  • Pohon yang patuh kepada perintah beliau untuk merapat dan menjadi tirai.
  • Bangkai hewan laut raksasa yang Allah keluarkan dari laut untuk memberi makan pasukan yang kelaparan.

Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah menyebutkan bahwa mukjizat-mukjizat ini adalah bukti kenabian Muhammad ﷺ dan kekuasaan Allah yang tidak terbatas. Mukjizat air dari jari-jari beliau juga diriwayatkan dalam banyak hadits shahih lainnya.

6. Kesabaran dan Kehidupan Sederhana Para Sahabat

Jabir menceritakan bahwa dalam perjalanan, setiap orang hanya mendapat satu butir kurma sehari. Mereka mengisapnya lalu menyimpannya. Mereka juga memakan dedaunan sampai mulut mereka terluka. Ini menunjukkan kesabaran luar biasa para sahabat dalam menegakkan agama Allah.

Imam Ibn Qayyim Al-Jawziyyah rahimahullah dalam Madarij As-Salikin menjelaskan bahwa kesabaran para sahabat ini adalah teladan bagi umat Islam dalam menghadapi kesulitan. Mereka rela berkorban demi menegakkan kalimat Allah.

Story Telling

Dalam hadits ini terdapat kisah yang sangat menyentuh tentang Abu Al-Yasar radhiyallahu 'anhu. Beliau adalah sahabat Nabi ﷺ yang telah lanjut usia. Ketika ditanya mengapa wajahnya terlihat ada bekas kemarahan, beliau menceritakan bahwa ada seseorang yang berutang kepadanya, tetapi orang itu bersembunyi ketika beliau datang menagih.

Setelah si pengutang keluar dan bersumpah dengan jujur bahwa ia benar-benar tidak mampu membayar, Abu Al-Yasar tidak marah. Justru beliau mengambil surat utang itu dan menghapusnya dengan tangannya sendiri, seraya berkata: "Jika engkau mendapat kelapangan, bayarlah. Jika tidak, engkau bebas."

Kemudian beliau bersaksi bahwa ia mendengar langsung dari Rasulullah ﷺ: "Barangsiapa memberi kelonggaran kepada orang yang kesulitan atau menghapus utangnya, Allah akan menaunginya di bawah naungan-Nya pada hari Kiamat."

Lihatlah bagaimana iman seorang sahabat mengalahkan keinginan duniawi. Beliau lebih memilih pahala akhirat daripada harta yang belum tentu kembali. Ini adalah pelajaran berharga tentang keutamaan memaafkan dan memberi kemudahan kepada orang lain.

Kesimpulan Praktis

  1. Beri kelonggaran dalam utang — Jika ada orang yang berutang kepada kita dan kesulitan membayar, berilah tangguh. Lebih utama lagi jika kita menghapus utangnya, karena Allah akan menaungi kita pada hari Kiamat.
  2. Perlakukan pembantu dengan baik — Beri mereka makan dan pakaian sebagaimana kita makan dan berpakaian. Ini adalah ajaran Islam yang mulia.
  3. Jaga adab di masjid — Jangan meludah atau membuang kotoran di masjid, terutama ke arah kiblat. Jagalah kebersihan dan kesucian masjid.
  4. Jangan melaknat — Hindari melaknat diri sendiri, anak, harta, atau makhluk lain. Doa buruk bisa bertepatan dengan waktu mustajab.
  5. Yakinlah pada mukjizat Nabi ﷺ — Kisah air memancar dari jari-jari beliau dan pohon yang patuh adalah bukti kenabian. Ini memperkuat iman kita kepada Allah dan Rasul-Nya.
  6. Teladani kesabaran para sahabat — Mereka rela berkorban dan bersabar dalam kesulitan demi menegakkan agama Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?