Bab Larangan Memuji, Jika Terlalu Berlebihan dan Dikhawatirkan Menjadi Fitnah bagi yang Dipuji
Shahih
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، جَمِيعًا عَنِ ابْنِ مَهْدِيٍّ، - وَاللَّفْظُ لاِبْنِ الْمُثَنَّى قَالاَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ حَبِيبٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ، قَالَ قَامَ رَجُلٌ يُثْنِي عَلَى أَمِيرٍ مِنَ الأُمَرَاءِ فَجَعَلَ الْمِقْدَادُ يَحْثِي عَلَيْهِ التُّرَابَ وَقَالَ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ نَحْثِيَ فِي وُجُوهِ الْمَدَّاحِينَ التُّرَابَ .
Abu Ma'mar melaporkan bahwa seorang lelaki memuji seorang pemimpin di antara para pemimpin, lalu Miqdad mulai melemparkan debu kepadanya dan ia berkata: "Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk melemparkan debu ke wajah-wajah para pemuji yang berlebihan."