Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah bimbingan Nabi ﷺ yang sangat agung tentang adab ketika melewati atau mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang menjadi saksi kehancuran umat terdahulu karena kemaksiatan mereka. Intinya, kita dilarang masuk ke tempat tinggal kaum yang telah diazab Allah, seperti kaum Tsamud (penduduk Al-Hijr), kecuali dalam keadaan menangis. Menangis di sini adalah tanda rasa takut, ibrah (pelajaran), dan pengagungan terhadap azab Allah. Jika tidak bisa menangis, maka lebih baik tidak masuk, karena dikhawatirkan akan tertimpa musibah serupa sebagai hukuman karena meremehkan tanda-tanda kekuasaan Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqa'iq, Bab "Jangan Masuk ke Tempat Tinggal Orang yang Menzalimi Diri Mereka Sendiri Kecuali Dalam Keadaan Menangis" (no. 2980), dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.
Dalil Al-Qur'an yang terkait:
Allah Ta'ala berfirman tentang kaum Tsamud:
<p>وَلَقَدْ كَذَّبَ أَصْحَابُ الْحِجْرِ الْمُرْسَلِينَ وَآتَيْنَاهُمْ آيَاتِنَا فَكَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ وَكَانُوا يَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا آمِنِينَ</p>
"Dan sungguh, penduduk Al-Hijr telah mendustakan para rasul. Dan Kami telah memberikan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami, tetapi mereka berpaling darinya. Dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu, (yang didiami) dengan rasa aman." (QS. Al-Hijr [15]: 80-82)
Ayat ini menjelaskan siapa penduduk Al-Hijr (kaum Tsamud) dan bagaimana mereka mendustakan rasul serta berpaling dari tanda-tanda kekuasaan Allah, sehingga mereka pun diazab.
Hadits terkait lainnya:
Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ketika Nabi ﷺ melewati Al-Hijr (tempat tinggal kaum Tsamud) dalam perjalanan menuju Tabuk, beliau bersabda:
"Janganlah kalian masuk ke tempat tinggal orang-orang yang dizalimi (diajab) ini, kecuali kalian dalam keadaan menangis. Jika kalian tidak menangis, maka janganlah kalian masuk, agar kalian tidak tertimpa seperti yang menimpa mereka." (HR. Bukhari no. 4419, Muslim no. 2980)
Kaitan dengan ulama:
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya melewati tempat-tempat tersebut, tetapi dengan adab tertentu, yaitu menangis atau berpura-pura menangis karena takut kepada Allah. Beliau juga menukil bahwa para ulama memakruhkan masuk ke tempat-tempat tersebut tanpa ada kebutuhan, karena dikhawatirkan terkena azab.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
- Larangan Masuk dengan Sembrono: Nabi ﷺ melarang para sahabatnya masuk ke tempat tinggal kaum Tsamud. Ini adalah bentuk pencegahan (sadd adz-dzari'ah) agar seseorang tidak meremehkan atau menganggap remeh azab Allah yang telah menimpa umat terdahulu. Tempat-tempat seperti ini adalah "kuburan" atau "museum" azab yang seharusnya menjadi pengingat, bukan menjadi objek wisata biasa.
- Syarat Masuk: Dalam Keadaan Menangis: Jika ada kebutuhan untuk masuk, maka syaratnya adalah dalam keadaan menangis. Menangis di sini adalah ekspresi dari rasa takut, haru, dan ibrah (mengambil pelajaran) atas kehancuran yang terjadi. Ini menunjukkan bahwa hati seseorang harus dalam kondisi yang benar-benar tersentuh dan sadar akan kebesaran Allah serta kehinaan maksiat.
- Hikmah Larangan Jika Tidak Menangis: Jika seseorang tidak bisa menangis, maka dilarang masuk. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya Al-Fawa'id menjelaskan bahwa orang yang tidak menangis saat melihat tanda-tanda azab Allah menunjukkan hatinya keras dan tidak merenungkan kekuasaan Allah. Dikhawatirkan, karena sikap meremehkan ini, ia akan tertimpa azab yang serupa sebagai bentuk hukuman atas kelalaiannya.
- Pelajaran dari Kisah Kaum Tsamud: Kaum Tsamud adalah umat Nabi Shalih 'alaihis salam. Mereka diberi mukjizat berupa unta betina yang keluar dari batu, namun mereka mendustakannya dan membunuh unta tersebut. Akibatnya, mereka ditimpa suara keras yang mengguntur dan azab yang membinasakan. Kisah ini disebutkan dalam Al-Qur'an dan menjadi pelajaran bagi umat setelahnya.
- Adab Terhadap Tempat Bersejarah: Hadits ini mengajarkan adab yang sangat tinggi. Ketika kita melihat peninggalan sejarah, terutama yang berkaitan dengan azab Allah, kita tidak boleh hanya sekadar melihat atau berfoto-foto, tetapi harus mengambil pelajaran, merenungi kehancuran, dan memperbanyak istighfar serta doa agar dijauhkan dari azab yang serupa.
Story Telling
Suatu ketika, dalam perjalanan menuju Tabuk, pasukan Muslimin melewati lembah Al-Hijr, bekas tempat tinggal kaum Tsamud. Para sahabat mengambil air dari sumur-sumur di sana dan menggunakannya untuk membuat adonan roti.
Melihat hal itu, Rasulullah ﷺ segera memerintahkan mereka untuk membuang air yang telah diambil dan memberikan adonan tersebut kepada unta. Beliau bersabda, "Janganlah kalian minum airnya dan janganlah kalian berwudhu darinya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Kemudian, ketika beliau sampai di tempat tersebut, beliau bersabda dengan menutup wajahnya (karena takut dan kagum), "Janganlah kalian masuk ke tempat tinggal orang-orang yang dizalimi ini, kecuali kalian dalam keadaan menangis. Jika kalian tidak menangis, maka janganlah kalian masuk, agar kalian tidak tertimpa seperti yang menimpa mereka."
Peristiwa ini menunjukkan betapa agungnya adab Nabi ﷺ dan para sahabat. Mereka tidak menjadikan tempat tersebut sebagai tempat singgah yang nyaman, tetapi sebagai tempat untuk merenung dan mengambil pelajaran. Bahkan, air dan makanan yang bersentuhan dengan tempat tersebut dihindari karena dikhawatirkan terkena pengaruh azab.
Hikmah: Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak meremehkan tanda-tanda kekuasaan Allah. Tempat-tempat bersejarah yang berkaitan dengan azab adalah pengingat yang sangat kuat. Kita harus menjadikannya sebagai sarana untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan, bukan sekadar objek wisata.
Kesimpulan Praktis
Berikut poin-poin yang bisa kita amalkan:
- Ambil Pelajaran: Ketika melihat atau mendengar tentang kehancuran umat terdahulu, jadikanlah itu sebagai perenungan dan pengingat akan kebesaran Allah serta akibat dari maksiat.
- Jaga Adab: Jika suatu saat kita berada di tempat bersejarah yang berkaitan dengan azab, jagalah adab. Jangan bersikap sombong, meremehkan, atau menjadikannya tempat bersenang-senang.
- Perbanyak Istighfar dan Doa: Saat berada di tempat tersebut, perbanyaklah beristighfar, merendahkan diri, dan berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari azab-Nya.
- Hindari Sikap Meremehkan: Jangan pernah meremehkan dosa atau menganggap remeh azab Allah. Sikap ini adalah awal dari kehancuran.
- Jadikan Al-Qur'an dan Hadits sebagai Pedoman: Pelajari kisah-kisah dalam Al-Qur'an dan hadits untuk mengambil hikmah, bukan hanya sebagai bacaan tanpa makna.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.