Penjelasan Hadits Muslim No. 2962 tentang Peringatan bahaya persaingan duniawi setelah penaklukan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah peringatan Nabi ﷺ tentang ujian yang muncul setelah kemenangan dan kekayaan datang: manusia akan saling berlomba mengejar dunia, lalu saling hasad, memutus hubungan, saling membenci, dan menindas kaum lemah. Intinya, bukan kemenangan yang menjadi masalah, tetapi perubahan hati setelah kemenangan itulah yang harus diwaspadai. Nabi ﷺ mengajarkan agar kita tetap taat kepada Allah, bersyukur, dan menjaga ukhuwah, bukan tenggelam dalam persaingan duniawi.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih Muslim, Kitab az-Zuhd war-Raqa'iq, dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhuma.

Teks hadits yang disebutkan:

إِذَا فُتِحَتْ عَلَيْكُمْ فَارِسُ وَالرُّومُ أَىُّ قَوْمٍ أَنْتُمْ

"Apabila Persia dan Romawi telah dibuka untuk kalian, maka bagaimanakah keadaan kalian (nanti)?"

Dan sabda beliau ﷺ:

أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ تَتَنَافَسُونَ ثُمَّ تَتَحَاسَدُونَ ثُمَّ تَتَدَابَرُونَ ثُمَّ تَتَبَاغَضُونَ

"Atau selain itu? Kalian akan saling berlomba, kemudian saling hasad, kemudian saling memutus (hubungan), kemudian saling membenci."

Ayat yang sangat relevan dengan makna hadits ini:

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۚ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

QS. Al-Anfal [8]: 46

"Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu. Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."

Juga firman Allah:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

QS. Al-Hujurat [49]: 10

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara."

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang fitnah harta dan kekuasaan menunjukkan bahwa ujian setelah kemenangan lebih berat daripada ujian sebelum kemenangan. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini termasuk tanda-tanda kenabian, karena apa yang beliau ﷺ kabarkan benar-benar terjadi: setelah Persia dan Romawi ditaklukkan, kaum Muslimin terpecah dan saling bermusuhan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran besar:

Pertama: Kemenangan adalah nikmat, tetapi juga ujian.

Nabi ﷺ bertanya: "Bagaimana keadaan kalian ketika Persia dan Romawi dibuka?" Ini bukan larangan berjihad atau mencela kemenangan, tetapi peringatan bahwa setelah pintu dunia terbuka, hati manusia bisa berubah. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa harta dan kekuasaan adalah dua fitnah besar yang dapat merusak hati jika tidak dijaga dengan iman dan syukur.

Kedua: Rantai penyakit hati yang disebutkan Nabi ﷺ.

Beliau menyebutkan urutan yang sangat teliti:

  1. تتنافسون — saling berlomba mengejar dunia.
  2. تتحاسدون — saling hasad (iri dan dengki).
  3. تتدابرون — saling memutus hubungan (berpaling dari saudara).
  4. تتباغضون — saling membenci.
  5. تجعلون بعضهم على رقاب بعض — menjadikan sebagian menindas sebagian yang lain.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa hasad adalah pintu masuknya perpecahan. Hasad muncul ketika seseorang berlomba dalam urusan dunia, lalu memutus ukhuwah, lalu berubah menjadi kebencian, dan akhirnya permusuhan nyata. Ini adalah gambaran perjalanan penyakit sosial yang dimulai dari dalam hati.

Ketiga: Jawaban Abdullah bin Amr bin al-Ash.

Dalam riwayat ini, yang menjawab adalah Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu: "Kami akan berkata sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada kami." Maksudnya, kami akan tetap taat, bersyukur, dan menjalankan perintah Allah. Namun Nabi ﷺ menjawab: "Atau selain itu?" — artinya, kenyataannya tidak akan seperti itu. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengetahui tabiat manusia yang lemah ketika dihadapkan pada dunia.

Keempat: Penindasan terhadap kaum lemah.

Nabi ﷺ menyebutkan bahwa mereka akan "pergi kepada orang-orang miskin dari kalangan Muhajirin dan menjadikan sebagian mereka sebagai penguasa atas sebagian yang lain." Ini adalah gambaran munculnya kedzaliman struktural dan perpecahan di antara kaum Muslimin sendiri, bukan lagi melawan musuh luar. Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa sering mengingatkan bahwa keadilan adalah pondasi kekuasaan, dan kezaliman adalah sebab kehancuran umat.

Kelima: Perbedaan pendapat di antara ulama daftar.

Sebagian ulama memandang hadits ini sebagai nubuat yang sudah terjadi pada masa fitnah setelah Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu dan seterusnya. Sebagian lain memandangnya sebagai peringatan umum yang berlaku di setiap zaman ketika umat Islam mencapai kekuatan lalu lalai. Kedua pandangan tidak bertentangan; keduanya benar dan saling melengkapi. Yang paling kuat adalah bahwa hadits ini mencakup keduanya: nubuat yang telah terjadi dan peringatan yang terus berlaku.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa setelah penaklukan Persia dan Romawi, kekayaan mengalir ke Madinah dan kota-kota Islam. Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu pernah menangis ketika melihat kekayaan datang, bukan karena sedih, tetapi karena beliau takut fitnah dunia menimpa umat. Beliau berkata: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kekayaan." Ini sejalan dengan hadits Abdullah bin Amr di atas.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata: "Demi Allah, tidaklah dunia ini merusak suatu kaum kecuali setelah mereka berlomba-lomba mengejarnya, lalu saling hasad, lalu saling memutus, lalu saling membenci." (Makna ini disebutkan dalam nasihat-nasihat beliau yang dinukil oleh Ibnu Rajab dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam). Ini menunjukkan bahwa para salaf sangat memahami bahaya fitnah harta dan kekuasaan.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersyukurlah atas nikmat, tetapi jangan lalai. Kemenangan, rezeki, dan kekayaan adalah ujian, bukan tujuan.
  2. Jauhi hasad. Hasad adalah pintu menuju perpecahan. Imam an-Nawawi menasihatkan agar kita mendoakan kebaikan bagi saudara kita, karena itu obat hasad.
  3. Jaga ukhuwah. Jangan memutus hubungan dengan saudara Muslim karena urusan dunia.
  4. Jangan menindas yang lemah. Kedzaliman terhadap kaum lemah adalah sebab kehancuran.
  5. Perbanyak doa agar dijauhkan dari fitnah dunia, sebagaimana Nabi ﷺ sering berlindung dari fitnah kekayaan dan kemiskinan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?