Penjelasan Hadits Muslim No. 2957 tentang Dunia lebih hina daripada bangkai domba di sisi Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang hakikat dunia yang sangat hina di sisi Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ menggambarkan dunia yang kita kejar dan banggakan itu lebih rendah nilainya di mata Allah daripada bangkai anak kambing yang cacat dan tidak berharga di mata manusia. Ini adalah pelajaran agung agar hati kita tidak terikat pada dunia, melainkan fokus pada akhirat yang kekal.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqa'iq (2957), dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu. Lafadz haditsnya adalah:

<p>عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ مَرَّ بِالسُّوقِ دَاخِلًا مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ فَمَرَّ بِجَدْىٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ: "أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ" فَقَالُوا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَىْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ. قَالَ: "أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ" قَالُوا: وَاللَّهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ. فَقَالَ: "فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ"</p>

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Hadid [57]: 20:

<p>اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ</p>

Artinya: "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan, dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu."

Penjelasan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa hinanya dunia di sisi Allah. Beliau menukil bahwa makna "dunia lebih hina dari bangkai kambing ini" adalah perumpamaan untuk menggugah hati agar tidak mencintai dunia.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul-Bari ketika membahas hadits serupa menekankan bahwa Rasulullah ﷺ ingin mengajarkan para sahabat bahwa dunia dengan segala kemegahannya tidak bernilai di sisi Allah, sehingga seorang mukmin tidak boleh menjadikan dunia sebagai tujuan utama.

Penjelasan Rinci

Hadits ini terjadi di pasar Madinah. Rasulullah ﷺ melewati pasar dan melihat seekor anak kambing mati yang cacat—telinganya sangat pendek (asakk). Beliau mengambilnya dan bertanya kepada para sahabat yang ada di sekelilingnya: "Siapa yang mau membeli ini seharga satu dirham?" Mereka menjawab dengan tegas bahwa mereka tidak menginginkannya sama sekali, bahkan jika diberikan gratis pun mereka tidak mau karena kambing itu cacat dan mati.

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: "Demi Allah, dunia ini lebih hina di sisi Allah daripada bangkai kambing ini di sisi kalian."

Pelajaran dari hadits ini:

  1. Dunia itu hina di sisi Allah. Jika manusia saja tidak sudi mengambil bangkai kambing yang cacat, maka Allah ﷻ memandang dunia—dengan segala perhiasan, kekayaan, dan kekuasaannya—lebih rendah dari itu. Ini bukan berarti dunia tidak boleh dinikmati, tetapi kita tidak boleh menjadikannya tujuan hidup.
  2. Sikap para sahabat. Para sahabat menunjukkan sikap yang benar terhadap sesuatu yang tidak bermanfaat. Mereka tidak tertarik pada hal yang tidak berguna. Ini mengajarkan kita untuk selektif dalam mencintai sesuatu—hanya yang bermanfaat untuk akhirat.
  3. Perbandingan yang menggugah. Rasulullah ﷺ menggunakan metode pengajaran yang sangat efektif dengan memberikan contoh konkret yang ada di hadapan mereka. Ini menunjukkan kebijaksanaan beliau dalam mendidik umat.

Pandangan Ulama tentang Zuhud:

  • Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Zuhud di dunia adalah pendeknya angan-angan (qashrul-amal)." Beliau tidak memaknai zuhud sebagai larangan memiliki harta, tetapi larangan menggantungkan hati pada harta.
  • Al-Hasan al-Bashri berkata: "Dunia itu seperti ular—licin dan indah dipandang, tetapi di dalamnya terdapat racun yang mematikan. Maka jauhilah keindahannya agar selamat dari racunnya."
  • Sufyan ats-Tsauri berkata: "Tidaklah seseorang dikatakan zuhud di dunia hanya karena meninggalkan harta, tetapi zuhud adalah ketika ia tidak merasa bangga dengan apa yang ada di tangannya dan tidak bersedih atas apa yang hilang darinya."

Perbedaan Pemahaman yang Perlu Diluruskan:

Sebagian orang memahami hadits ini sebagai larangan total menikmati dunia. Ini pemahaman yang keliru. Yang dimaksud adalah larangan menjadikan dunia sebagai tujuan akhir dan menggantungkan hati padanya. Para sahabat sendiri adalah orang-orang yang kaya dan memiliki harta, namun hati mereka tidak terikat pada dunia.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya oleh seseorang: "Wahai Imam, kapan seorang hamba merasakan manisnya zuhud?" Beliau menjawab: "Ketika ia meletakkan dunia di tangannya, bukan di hatinya."

Kemudian beliau menceritakan tentang Sufyan ats-Tsauri yang pernah berkata: "Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih indah daripada seorang hamba yang ketika diberi dunia, ia bersyukur; dan ketika dunia diambil darinya, ia bersabar. Itulah orang yang zuhud."

Sufyan ats-Tsauri sendiri adalah ulama yang zuhud. Beliau ditawari jabatan hakim oleh khalifah, tetapi beliau menolak dan melarikan diri. Ketika ditanya mengapa, beliau berkata: "Aku takut jika hatiku terikat pada jabatan, maka aku akan kehilangan akhiratku."

Ini menunjukkan bahwa zuhud bukan berarti miskin, tetapi hati yang tidak diperbudak oleh dunia.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan jadikan dunia sebagai tujuan utama. Harta, jabatan, dan kesenangan dunia hanyalah sarana untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.
  2. Perbanyak mengingat akhirat. Semakin kita sadar bahwa dunia ini fana dan hina, semakin kita fokus mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal.
  3. Sederhanakan hidup. Tidak perlu berlebihan dalam mengejar dunia. Cukupkan diri dengan apa yang halal dan bermanfaat.
  4. Jadikan hati tidak terikat pada dunia. Boleh memiliki harta, tetapi jangan biarkan harta memiliki hati kita.
  5. Teladani para sahabat dan ulama salaf yang zuhud—mereka memiliki dunia tetapi hati mereka tetap di akhirat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?