Penjelasan Hadits Muslim No. 2935 tentang Ciri Dajjal dan air api yang menyertainya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa saat Dajjal muncul, ia membawa dua hal yang tampak oleh mata manusia sebagai "air" dan "api", padahal hakikatnya terbalik: yang tampak air adalah api yang membakar, dan yang tampak api adalah air dingin yang tawar dan baik. Nabi ﷺ memberi petunjuk tegas: siapa yang menjumpainya, hendaklah memilih masuk ke yang tampak sebagai api, karena itulah air yang sebenarnya. Ini pelajaran tentang bahaya tipuan dan pentingnya iman serta ilmu dalam menghadapi fitnah besar.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Fitan wa Asyrath as-Sa'ah, Bab Dzikr ad-Dajjal wa Shifatihi wa Ma Ma'ahu. Perawi sahabat: Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu, dan Uqbah bin 'Amr Abu Mas'ud al-Anshari radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits (potongan inti):

إِنَّ الدَّجَّالَ يَخْرُجُ وَإِنَّ مَعَهُ مَاءً وَنَارًا فَأَمَّا الَّذِي يَرَاهُ النَّاسُ مَاءً فَنَارٌ تُحْرِقُ وَأَمَّا الَّذِي يَرَاهُ النَّاسُ نَارًا فَمَاءٌ بَارِدٌ عَذْبٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَلْيَقَعْ فِي الَّذِي يَرَاهُ نَارًا فَإِنَّهُ مَاءٌ عَذْبٌ طَيِّبٌ

Terjemahan: "Sesungguhnya Dajjal akan keluar dan bersamanya ada air dan api. Adapun yang dilihat manusia sebagai air, maka itu adalah api yang membakar. Dan adapun yang dilihat manusia sebagai api, maka itu adalah air dingin yang tawar. Maka siapa di antara kalian yang menjumpai hal itu, hendaklah ia menjatuhkan diri ke dalam apa yang dilihatnya sebagai api, karena sesungguhnya itu adalah air tawar yang baik."

Ayat yang relevan tentang fitnah dan tipuan:

وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

QS. Al-Baqarah [2]: 213 — "Dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus."

Juga firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا

QS. Al-Anfal [8]: 29 — "Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan (kemampuan membedakan yang benar dan yang batil)."

Penjelasan Rinci

Hadits ini termasuk nubuat besar Nabi ﷺ tentang fitnah akhir zaman. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan salah satu bentuk ujian terbesar Dajjal: ia mampu menampilkan sesuatu yang tampak nyata di mata manusia, namun hakikatnya berbeda. Ini bukan sihir biasa, tetapi ujian iman yang sangat berat, sehingga Nabi ﷺ memberi arahan praktis agar seorang mukmin tidak tertipu.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (ketika membahas hadits-hadits Dajjal) menegaskan bahwa perintah Nabi ﷺ untuk "terjun ke yang tampak sebagai api" adalah perintah ta'abbudi (ibadah) yang harus diikuti dengan keyakinan, bukan berdasarkan logika semata. Artinya, seorang mukmin diperintahkan untuk tunduk pada berita Nabi ﷺ meskipun mata dan akalnya melihat sebaliknya. Ini menunjukkan bahwa keselamatan dari fitnah Dajjal bergantung pada keimanan dan ketaatan, bukan pada penglihatan lahir.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsat al-Lahfan dan kitab-kitabnya tentang fitnah menjelaskan bahwa Dajjal adalah ujian yang memisahkan antara orang yang beriman dengan yang lemah imannya. Orang yang hatinya dipenuhi cahaya iman akan mampu membedakan hakikat di balik tampilan, sedangkan orang yang hanya mengandalkan penglihatan lahir akan binasa.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menekankan bahwa Allah memberikan furqan (kemampuan membedakan) kepada orang yang bertakwa. Dalam konteks hadits ini, orang yang bertakwa akan diberi kemampuan untuk memahami bahwa perintah Nabi ﷺ adalah kebenaran, meskipun tampaknya bertentangan dengan apa yang dilihat mata.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menegaskan keabsahan hadits ini dan menjelaskan bahwa ini adalah salah satu mukjizat Nabi ﷺ dalam memberitakan hal gaib yang kemudian menjadi pelajaran bagi umat.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan prinsip penting: dalam menghadapi fitnah, seorang mukmin harus berpegang pada wahyu, bukan pada penglihatan atau akal semata. Karena Dajjal mampu memanipulasi persepsi, maka satu-satunya pegangan adalah perintah Nabi ﷺ.

Perlu dicatat: sebagian ulama menjelaskan bahwa "air" dan "api" di sini bisa bermakna hakiki (bukan hanya ilusi), di mana Allah menjadikan api Dajjal sebagai air yang menyegarkan bagi orang beriman, dan airnya sebagai api yang membakar. Ibnu Katsir dalam an-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim menyebutkan riwayat-riwayat yang mendukung bahwa ini adalah ujian nyata yang Allah tetapkan untuk menguji hamba-Nya.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu — sahabat yang dikenal sebagai "pemegang rahasia" Nabi ﷺ karena banyak mengetahui perkara fitnah — ditanya oleh Uqbah bin 'Amr Abu Mas'ud al-Anshari tentang apa yang beliau dengar dari Rasulullah ﷺ mengenai Dajjal. Hudzaifah lalu menyampaikan hadits ini dengan penuh amanah. Uqbah kemudian berkata bahwa ia juga mendengar hal yang sama dari Nabi ﷺ, sebagai pembenaran (tashdiq) terhadap Hudzaifah.

Hikmahnya: para sahabat saling menguatkan dalam menyampaikan berita Nabi ﷺ, dan mereka sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Ini menunjukkan betapa besar perhatian mereka terhadap perkara gaib yang akan datang, agar umat setelah mereka siap menghadapinya dengan iman dan ilmu.

Kesimpulan Praktis

  1. Berpegang pada wahyu, bukan penglihatan semata. Dalam menghadapi fitnah besar, perintah Nabi ﷺ harus diutamakan di atas logika dan persepsi lahir.
  2. Perbanyak iman dan takwa. Dengan takwa, Allah memberi furqan (kemampuan membedakan yang benar dan batil).
  3. Pelajari tanda-tanda akhir zaman. Mengetahui ciri-ciri Dajjal membantu kita waspada dan tidak mudah tertipu.
  4. Jangan merasa aman dari fitnah. Nabi ﷺ mengajarkan doa berlindung dari fitnah Dajjal, terutama dalam shalat setelah tasyahud akhir.
  5. Saling mengingatkan dalam kebaikan. Seperti para sahabat yang saling membenarkan dan menguatkan dalam menyampaikan hadits.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?