Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan pertemuan Nabi ﷺ dengan seorang pemuda bernama Ibnu Shayyad yang diduga keras sebagai Dajjal. Kisah ini mengajarkan kita beberapa hal penting: pertama, kita tidak boleh memastikan hal-hal ghaib tanpa dalil yang jelas; kedua, Nabi ﷺ tidak membunuh Ibnu Shayyad karena urusan Dajjal adalah bagian dari takdir Allah yang tidak bisa dipercepat; dan ketiga, fokus utama kita sebagai mukmin adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta mempersiapkan diri menghadapi fitnah Dajjal dengan ilmu dan keimanan yang kuat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Al-Fitan wa Asyrat As-Sa'ah (Fitnah dan Tanda-Tanda Kiamat), Bab "Dzikr Ibni Shayyad" (Bab tentang Ibnu Shayyad), no. 2931. Periwayatannya melalui jalur: Harmalah bin Yahya ← Ibnu Wahb ← Yunus ← Az-Zuhri ← Salim bin Abdullah ← Abdullah bin Umar ← Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhum.
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Terkait dengan sikap Nabi ﷺ yang tidak memastikan urusan ghaib dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah, serta peringatan tentang Dajjal, Allah berfirman:
QS. Luqman [31]: 34
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu tentang hal-hal ghaib seperti hari kiamat dan tanda-tandanya (termasuk Dajjal) hanyalah milik Allah. Nabi ﷺ sendiri tidak memastikan apakah Ibnu Shayyad itu Dajjal atau bukan, karena hal itu termasuk ilmu ghaib yang tidak diwahyukan secara pasti kepada beliau.
Hadits Pendukung:
Dalam riwayat yang sama (Muslim, no. 2931), Nabi ﷺ bersabda:
"إِنِّي لأُنْذِرُكُمُوهُ مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ وَقَدْ أَنْذَرَهُ قَوْمَهُ لَقَدْ أَنْذَرَهُ نُوحٌ قَوْمَهُ وَلَكِنْ أَقُولُ لَكُمْ فِيهِ قَوْلاً لَمْ يَقُلْهُ نَبِيٌّ لِقَوْمِهِ تَعَلَّمُوا أَنَّهُ أَعْوَرُ وَأَنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ"
"Sesungguhnya aku memperingatkan kalian darinya. Tidak ada seorang nabi pun kecuali telah memperingatkan kaumnya tentang Dajjal. Sungguh, Nuh telah memperingatkan kaumnya, tetapi aku katakan kepada kalian suatu perkataan yang belum pernah dikatakan nabi mana pun kepada kaumnya: Ketahuilah, sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah matanya (a'war), dan sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala tidaklah buta sebelah mata-Nya."
Kaitan dengan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya bertanya kepada seseorang tentang hal-hal yang berkaitan dengan keadaannya untuk mengetahui hakikatnya, dan juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak membunuh Ibnu Shayyad karena beliau tidak memiliki kepastian bahwa ia adalah Dajjal.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (Syarah Shahih Bukhari) membahas panjang lebar tentang kisah Ibnu Shayyad ini, menyebutkan perbedaan pendapat ulama tentang apakah ia Dajjal atau bukan, dan menyimpulkan bahwa yang benar adalah ia bukan Dajjal besar yang akan muncul di akhir zaman, karena Dajjal yang sebenarnya belum muncul hingga hari ini.
- Imam Ibnu Katsir dalam An-Nihayah fil Fitan wal Malahim juga membahas kisah ini dan menjelaskan bahwa mayoritas ulama berpendapat Ibnu Shayyad bukanlah Dajjal yang sesungguhnya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Kisah Pertemuan Pertama
Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu pergi bersama Nabi ﷺ dan beberapa sahabat menemui Ibnu Shayyad yang sedang bermain dengan anak-anak di dekat benteng Bani Maghalah. Saat itu Ibnu Shayyad hampir baligh. Nabi ﷺ menepuk punggungnya dan bertanya, "Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?"
Ibnu Shayyad menjawab dengan cerdik, "Aku bersaksi bahwa engkau adalah rasul bagi kaum ummi (buta huruf)." Perhatikan, ia tidak mengatakan "Rasulullah" secara mutlak, tetapi membatasi dengan "rasul bagi kaum ummi". Ini menunjukkan adanya keraguan atau tipu daya dalam dirinya.
Kemudian Ibnu Shayyad bertanya balik kepada Nabi ﷺ, "Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?" Nabi ﷺ menolak dan menjawab, "Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya." Ini adalah jawaban yang sangat bijaksana — Nabi tidak mengiyakan dan tidak juga menegaskan dengan keras, tetapi mengalihkan kepada keimanan yang benar.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa jawaban Nabi ﷺ ini adalah bentuk kehati-hatian dan tidak terburu-buru memvonis. Nabi ﷺ tidak ingin memberikan kepastian tentang status Ibnu Shayyad karena hal itu termasuk ilmu ghaib.
2. Ujian dengan "Ad-Dukh" (Asap)
Nabi ﷺ kemudian bertanya, "Apa yang engkau lihat?" Ibnu Shayyad menjawab, "Datang kepadaku sesuatu yang benar dan sesuatu yang dusta." Nabi ﷺ bersabda, "Engkau telah dikacaukan (urusanmu)."
Lalu Nabi ﷺ berkata, "Sesungguhnya aku menyembunyikan sesuatu untukmu (khaba'tu laka khabi'an)." Yang disembunyikan Nabi ﷺ adalah surat Ar-Rum [30]: 1-2 yang berbunyi:
الم * غُلِبَتِ الرُّومُ
"Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi."
Ibnu Shayyad menjawab, "Ad-Dukh (asap)." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Tersingkirlah (ikhsa'), engkau tidak akan melampaui kedudukanmu."
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa jawaban Ibnu Shayyad yang tidak tepat ini menunjukkan bahwa ia bukanlah Dajjal yang sebenarnya, karena Dajjal yang sesungguhnya akan mengetahui hal-hal yang diuji kepadanya dengan tepat. Ketidaktepatan ini menjadi bukti bahwa ia hanyalah seorang dukun atau orang yang terkena pengaruh setan, bukan Dajjal besar.
3. Sikap Nabi ﷺ terhadap Usulan Umar
Umar radhiyallahu 'anhu meminta izin untuk membunuh Ibnu Shayyad, tetapi Nabi ﷺ melarangnya dengan sabda:
"إِنْ يَكُنْهُ فَلَنْ تُسَلَّطَ عَلَيْهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْهُ فَلاَ خَيْرَ لَكَ فِي قَتْلِهِ"
"Jika dia benar-benar Dajjal, maka engkau tidak akan mampu menguasainya; dan jika bukan, maka tidak ada kebaikan bagimu dalam membunuhnya."
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa larangan ini mengandung hikmah besar: jika Ibnu Shayyad memang Dajjal, maka membunuhnya tidak akan berguna karena Dajjal adalah makhluk yang telah ditakdirkan Allah untuk hidup hingga waktu yang ditentukan. Jika ia bukan Dajjal, maka membunuhnya adalah tindakan zalim yang tidak membawa kebaikan.
4. Pertemuan Kedua di Kebun Kurma
Nabi ﷺ dan Ubay bin Ka'b pergi ke kebun kurma tempat Ibnu Shayyad berada. Nabi ﷺ berusaha menguping pembicaraan Ibnu Shayyad sebelum ia melihat beliau. Namun ibu Ibnu Shayyad melihat Nabi ﷺ dan berteriak, "Wahai Shaf! Itu Muhammad!" Ibnu Shayyad pun terbangun. Nabi ﷺ bersabda, "Seandainya dia membiarkannya (tidak memanggilnya), tentu perkara itu akan menjadi jelas."
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa ini menunjukkan keinginan Nabi ﷺ untuk mengetahui hakikat Ibnu Shayyad, tetapi Allah tidak menghendaki hal itu menjadi jelas, karena hikmah-Nya menghendaki agar umat ini tetap dalam keadaan waspada dan tidak lengah terhadap fitnah Dajjal.
5. Khutbah Peringatan tentang Dajjal
Setelah itu, Nabi ﷺ berdiri di hadapan manusia dan berkhutbah, memuji Allah, kemudian memperingatkan tentang Dajjal. Beliau menegaskan bahwa seluruh nabi telah memperingatkan umatnya tentang Dajjal, tetapi beliau memberikan informasi yang belum pernah diberikan nabi sebelumnya, yaitu bahwa Dajjal itu buta sebelah matanya (a'war), sedangkan Allah tidak buta sebelah mata-Nya.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa penyebutan sifat "a'war" (buta sebelah) ini adalah untuk membedakan Dajjal dari Allah, karena sebagian orang mungkin tertipu dengan pengakuan Dajjal sebagai Tuhan. Dengan mengetahui bahwa Dajjal itu buta sebelah, seorang mukmin tidak akan tertipu, karena Allah Maha Sempurna dan tidak memiliki kekurangan sedikit pun.
6. Tanda "Kafir" di Antara Kedua Mata Dajjal
Dalam riwayat ini juga disebutkan bahwa di antara kedua mata Dajjal tertulis kata "Kafir" yang dapat dibaca oleh setiap mukmin. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa tulisan ini adalah tulisan yang nyata dan dapat dibaca, tetapi hanya orang-orang beriman yang dapat membacanya dengan jelas, sedangkan orang kafir tidak dapat membacanya atau tidak mau mempercayainya.
7. Tidak Ada yang Melihat Allah di Dunia
Nabi ﷺ menutup dengan sabda: "Ketahuilah, tidak seorang pun dari kalian akan melihat Tuhannya hingga ia meninggal dunia." Ini menegaskan bahwa melihat Allah hanya terjadi di akhirat bagi orang-orang beriman, bukan di dunia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa ini adalah bantahan terhadap mereka yang mengaku melihat Allah di dunia, seperti klaim sebagian sufi yang menyimpang.
Story Telling
Dari kisah ini, kita bisa mengambil pelajaran dari sikap Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu. Beliau adalah seorang yang tegas dan berani, dan ketika melihat sesuatu yang mencurigakan seperti Ibnu Shayyad, beliau langsung ingin bertindak tegas dengan membunuhnya. Namun Nabi ﷺ mengajarkan kepadanya — dan kepada kita semua — bahwa tidak semua perkara bisa diselesaikan dengan tindakan fisik semata. Ada perkara-perkara ghaib yang harus diserahkan kepada Allah, dan ada hikmah di balik ketidakjelasan tersebut.
Imam Az-Zuhri, salah seorang tabi'in besar yang meriwayatkan hadits ini, dikenal sebagai ulama yang sangat teliti dalam menjaga hadits. Beliau berkata, "Ilmu itu tidak akan hilang kecuali dengan lupa dan tidak mengamalkannya." Kisah ini sampai kepada kita melalui periwayatan yang teliti dari para ulama seperti Az-Zuhri, Salim bin Abdullah, dan Abdullah bin Umar, sehingga kita bisa mengambil pelajaran darinya dengan yakin.
Kesimpulan Praktis
- Jangan memastikan hal-hal ghaib — Kita tidak boleh memastikan bahwa seseorang adalah Dajjal atau memiliki ilmu ghaib, karena ilmu ghaib hanyalah milik Allah. Nabi ﷺ sendiri tidak memastikan status Ibnu Shayyad.
- Waspada terhadap fitnah Dajjal — Kita harus mempelajari tanda-tanda Dajjal yang disebutkan dalam hadits-hadits shahih, terutama bahwa ia buta sebelah mata dan tertulis "Kafir" di antara kedua matanya, agar tidak tertipu.
- Perbanyak ilmu dan keimanan — Cara terbaik menghadapi fitnah Dajjal adalah dengan menghafal ayat-ayat awal Surat Al-Kahfi dan memperkuat keimanan kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lain.
- Jangan terburu-buru menghakimi — Sikap Nabi ﷺ yang tidak membunuh Ibnu Shayyad mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru dalam menghakimi orang lain, terutama dalam perkara yang tidak jelas.
- Fokus pada yang pasti — Yang pasti bagi kita adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta mengikuti petunjuk Al-Qur'an dan Sunnah. Urusan Dajjal dan waktu kemunculannya adalah urusan Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.