Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2927 tentang Tanda-tanda Dajjal dan keraguan identitasnya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan pertemuan Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu dengan seorang pria bernama Ibnu Shayyad (atau Ibnu Sha'id). Pria ini mengaku bahwa dirinya bukanlah Dajjal, dengan berargumen bahwa Nabi ﷺ menyebutkan Dajjal tidak punya anak, sedangkan ia punya anak; dan Dajjal tidak akan masuk Makkah dan Madinah, sedangkan ia lahir di Madinah dan sedang menuju Makkah. Namun di akhir perkataannya, Ibnu Shayyad mengaku mengetahui tempat kelahiran, keberadaan, dan posisi Dajjal saat itu—yang justru membuat Abu Sa'id ragu dan bingung tentang identitasnya. Hadits ini menunjukkan bahwa tanda-tanda yang disebutkan Nabi ﷺ tentang Dajjal adalah benar, dan bahwa Ibnu Shayyad adalah salah satu orang yang paling mirip dengan ciri-ciri Dajjal, namun hakikatnya hanya Allah yang mengetahui.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Fitan wa Asyrat as-Sa'ah, Bab Dzikr Ibn Shayyad, no. 2927, dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu.

Dalil-dalil terkait dari Al-Qur'an dan hadits:

1. QS. Al-Kahfi [18]: 94 (tentang Dajjal dan Ya'juj Ma'juj sebagai tanda kiamat):

يَسْأَلُونَكَ عَنْ ذِي الْقَرْنَيْنِ ۖ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا

"Mereka bertanya kepadamu tentang Dzulqarnain. Katakanlah: 'Aku akan bacakan kepadamu kisahnya.'" (Potongan ayat ini relevan karena kisah Dzulqarnain berkaitan dengan tanda-tanda kiamat, dan Dajjal juga bagian dari tanda besar kiamat).

2. Hadits riwayat Imam Muslim, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang Dajjal:

مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ أَمْرٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالِ

"Tidak ada antara penciptaan Adam hingga terjadinya kiamat suatu perkara yang lebih besar daripada (fitnah) Dajjal." (HR. Muslim no. 2946)

3. Hadits riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang Dajjal:

لَا يَدْخُلُ الْمَدِينَةَ وَمَكَّةَ

"Dajjal tidak akan masuk Madinah dan Makkah." (HR. al-Bukhari no. 1881, Muslim no. 2943)

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Ibnu Shayyad adalah orang yang paling mirip dengan sifat-sifat Dajjal yang disebutkan Nabi ﷺ. Beliau juga menukil bahwa para ulama berbeda pendapat tentang apakah Ibnu Shayyad adalah Dajjal atau bukan, namun yang kuat menurut jumhur ulama adalah bahwa ia bukan Dajjal besar (al-Masih ad-Dajjal) yang akan keluar di akhir zaman, karena Dajjal yang sebenarnya belum keluar dan akan muncul setelah peristiwa-peristiwa besar lainnya.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan panjang lebar tentang kisah Ibnu Shayyad dan menyebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah menguji Ibnu Shayyad dengan menyembunyikan sesuatu di hatinya, dan Ibnu Shayyad berhasil menebaknya—yang menunjukkan adanya kemampuan luar biasa padanya, namun bukan berarti ia Dajjal hakiki.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin dan Syarh al-'Aqidah al-Wasithiyyah menjelaskan bahwa kisah Ibnu Shayyad adalah salah satu tanda kenabian, karena Nabi ﷺ telah mengabarkan tentang ciri-ciri Dajjal, dan Ibnu Shayyad memiliki sebagian ciri tersebut, namun ia bukan Dajjal yang sesungguhnya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Tanda-tanda Dajjal yang disebutkan Nabi ﷺ adalah benar dan nyata.

Dalam hadits ini, Abu Sa'id al-Khudri menyebutkan dua tanda Dajjal yang diajarkan Nabi ﷺ:

  • Dajjal tidak akan memiliki anak
  • Dajjal tidak akan masuk Madinah dan Makkah

Ibnu Shayyad menggunakan dua tanda ini untuk membantah tuduhan bahwa dirinya adalah Dajjal. Ia berkata: "Aku punya anak, dan aku lahir di Madinah serta sekarang menuju Makkah." Ini menunjukkan bahwa ia memahami betul ajaran Nabi ﷺ tentang Dajjal.

2. Kebingungan Abu Sa'id al-Khudri.

Di akhir hadits, Ibnu Shayyad berkata: "Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui tempat kelahirannya, tempatnya, dan di mana dia sekarang." Perkataan ini membuat Abu Sa'id bingung, karena seolah-olah Ibnu Shayyad mengetahui hal-hal ghaib tentang Dajjal. Namun para ulama menjelaskan bahwa ini bukanlah bukti bahwa ia adalah Dajjal, melainkan bisa jadi ia hanya menebak-nebak atau memiliki pengetahuan parsial dari sumber-sumber Yahudi dan Nasrani yang banyak membicarakan Dajjal.

3. Perbedaan pendapat ulama tentang Ibnu Shayyad.

  • Imam an-Nawawi menukil bahwa sebagian ulama berpendapat Ibnu Shayyad adalah Dajjal, namun pendapat ini lemah.
  • Jumhur ulama (mayoritas) berpendapat bahwa Ibnu Shayyad bukanlah Dajjal besar, karena Dajjal yang sebenarnya belum keluar dan akan muncul setelah peristiwa-peristiwa besar seperti keluarnya Ya'juj dan Ma'juj, terbitnya matahari dari barat, dan lain-lain.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa Nabi ﷺ sendiri pernah ragu tentang Ibnu Shayyad, namun kemudian Nabi ﷺ bersabda: "Jika ia adalah Dajjal, maka ia tidak akan bisa mengalahkanku." (HR. Muslim). Ini menunjukkan bahwa meskipun ada kemiripan, Allah menjaga Nabi-Nya dari fitnah tersebut.

4. Hikmah dari hadits ini.

  • Pentingnya ilmu: Ibnu Shayyad mengetahui ciri-ciri Dajjal karena ia mendengar dari kaum Muslimin. Ini menunjukkan bahwa ilmu itu penting untuk membentengi diri dari fitnah.
  • Kewaspadaan terhadap fitnah: Hadits ini mengajarkan kita untuk waspada terhadap orang-orang yang memiliki kemiripan dengan ciri-ciri Dajjal, namun tidak serta-merta menghakimi seseorang.
  • Keimanan kepada yang ghaib: Kita wajib beriman bahwa Dajjal akan keluar di akhir zaman, meskipun kita tidak tahu persis kapan dan di mana. Ini adalah bagian dari iman kepada hari akhir.

5. Penjelasan Syaikh al-Utsaimin tentang Dajjal.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-'Aqidah al-Wasithiyyah menjelaskan bahwa Dajjal adalah seorang laki-laki dari keturunan Adam, akan muncul di akhir zaman, memiliki mata yang buta sebelah, dan di dahinya tertulis "Kafir" yang bisa dibaca oleh setiap Muslim. Ia akan mengaku sebagai Tuhan, dan Allah akan menguji hamba-hamba-Nya dengannya. Namun orang-orang beriman akan selamat dari fitnahnya, dan ia akan dibunuh oleh Nabi 'Isa 'alaihis salam di pintu kota Lud, Palestina.

Story Telling

Diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Saat kami sedang bersama Nabi ﷺ di suatu majelis, tiba-tiba Ibnu Shayyad datang. Nabi ﷺ bertanya kepadanya: 'Apa yang kamu lihat?' Ia menjawab: 'Aku melihat singgasana di atas air.' Nabi ﷺ bersabda: 'Kamu melihat singgasana iblis di atas laut.' Kemudian Nabi ﷺ bertanya lagi: 'Apa yang kamu lihat?' Ia menjawab: 'Aku melihat dua orang yang jujur dan dua orang yang dusta.' Nabi ﷺ bersabda: 'Kamu telah tercampur aduk.'" (HR. Muslim no. 2925)

Kemudian Nabi ﷺ bersabda kepada Ibnu Shayyad: "Aku menyembunyikan sesuatu untukmu (dalam hatiku)." Ibnu Shayyad berkata: "Ad-Dukh (asap)." Nabi ﷺ bersabda: "Pergilah, kamu tidak akan pernah bisa melebihi kemampuanmu." (HR. Muslim no. 2925)

Dalam riwayat lain, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu meminta izin kepada Nabi ﷺ untuk membunuh Ibnu Shayyad, namun Nabi ﷺ bersabda: "Jika ia benar-benar Dajjal, maka kamu tidak akan mampu membunuhnya. Dan jika ia bukan Dajjal, maka tidak ada kebaikan bagimu untuk membunuhnya." (HR. Muslim no. 2925)

Hikmah dari kisah ini:

Nabi ﷺ menguji Ibnu Shayyad dan menunjukkan bahwa ia memiliki kemampuan yang luar biasa, namun Nabi ﷺ tetap tidak memastikan apakah ia Dajjal atau bukan. Ini mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru dalam menghakimi seseorang, dan bahwa urusan yang ghaib hanya Allah yang mengetahuinya. Yang terpenting adalah kita membentengi diri dengan iman dan ilmu, serta berlindung kepada Allah dari fitnah Dajjal.

Kesimpulan Praktis

  1. Beriman kepada Dajjal sebagai salah satu tanda besar kiamat adalah bagian dari keimanan kepada hari akhir.
  2. Menghafal doa berlindung dari fitnah Dajjal yang diajarkan Nabi ﷺ, yaitu:
  • Dalam tasyahhud akhir: "Allahumma inni a'udzu bika min 'adzabi jahannam, wa min 'adzabil qabri, wa min fitnatil mahya wal mamat, wa min syarri fitnatil masihid dajjal."
  • Membaca sepuluh ayat pertama surat Al-Kahfi, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim dari Abu Darda' radhiyallahu 'anhu.
  1. Tidak mudah menghakimi seseorang sebagai Dajjal atau memiliki sifat-sifat buruk tanpa bukti yang jelas.
  2. Menjaga keimanan dan ilmu agar tidak mudah tertipu oleh fitnah dan kesesatan.
  3. Meneladani sikap Nabi ﷺ yang tenang dan tidak terburu-buru dalam menghadapi orang yang memiliki kemiripan dengan Dajjal.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.