Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan pertemuan pertama Nabi ﷺ dengan seorang anak bernama Ibnu Shayyad yang kelak dikenal sebagai calon Dajjal. Sikap Ibnu Shayyad yang kurang ajar—menjawab Nabi ﷺ dengan nada menantang—membuat Umar bin Khattab ingin membunuhnya, namun Nabi ﷺ melarang karena jika anak itu memang Dajjal, tidak ada seorang pun yang mampu membunuhnya. Hadits ini mengajarkan kita tentang ketetapan takdir Allah, adab berbicara dengan Nabi ﷺ, dan kewaspadaan terhadap fitnah Dajjal.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Fitan wa Asyrat as-Sa'ah, Bab Dzikr Ibni Shayyad, no. 2924, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Kahfi [18]: 94
<p>قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰ أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا</p>
"Mereka berkata, 'Wahai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu berbuat kerusakan di bumi. Maka bolehkah kami memberimu upah agar engkau membuatkan penghalang antara kami dan mereka?'"
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah telah mengabarkan tentang fitnah besar di akhir zaman, termasuk keluarnya Ya'juj dan Ma'juj yang berkaitan dengan tanda-tanda kiamat, sebagaimana Dajjal juga merupakan salah satu tanda besar kiamat.
Hadits terkait:
Dalam riwayat lain dari Shahih Muslim, dari sahabat Abu Sa'id al-Khudri, Nabi ﷺ bersabda tentang Dajjal:
<p>إِنَّهُ شَابٌّ قَطَطٌ عَيْنُهُ طَافِيَةٌ كَأَنِّي أُشَبِّهُهُ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ</p>
"Sesungguhnya ia (Dajjal) adalah seorang pemuda berambut keriting, matanya menonjol, seakan-akan aku menyerupakannya dengan Abdul 'Uzza bin Qathan." (HR. Muslim no. 2933)
Kaitan dengan ulama:
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kebenaran kenabian Muhammad ﷺ, karena beliau mengetahui bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal atau bukan melalui wahyu. Beliau juga menjelaskan bahwa larangan membunuh Ibnu Shayyad adalah karena jika ia memang Dajjal, maka ia tidak akan mati kecuali pada waktunya yang telah Allah tetapkan, dan tidak ada seorang pun yang mampu membunuhnya sebelum waktu itu tiba.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
Pertama, tentang Ibnu Shayyad. Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang apakah Ibnu Shayyad adalah Dajjal atau bukan. Sebagian ulama seperti Imam al-Khattabi cenderung mengatakan bahwa ia adalah Dajjal, berdasarkan riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah bertanya kepadanya tentang sesuatu yang ia sembunyikan, dan ia menjawab dengan benar. Namun sebagian ulama lain berpendapat bahwa ia bukan Dajjal, karena Dajjal yang sebenarnya akan muncul di akhir zaman dan belum lahir pada masa Nabi ﷺ.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (w. 728 H) dalam Majmu' al-Fatawa cenderung mengatakan bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal kecil (Dajjal yang pertama), sementara Dajjal besar akan muncul di akhir zaman. Namun beliau menegaskan bahwa yang penting adalah kita tetap beriman kepada berita Nabi ﷺ tentang Dajjal dan berlindung kepada Allah dari fitnahnya.
Kedua, tentang ucapan Nabi ﷺ: "Tarbat yadaka" (semoga hidungmu terkena debu). Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah ungkapan Arab yang digunakan untuk mencela seseorang, namun bukan berarti doa keburukan yang sungguh-sungguh. Ini adalah gaya bahasa yang umum di kalangan Arab untuk menyatakan ketidaksenangan terhadap perilaku seseorang. Nabi ﷺ mengucapkannya karena Ibnu Shayyad duduk bersama anak-anak kecil, padahal ia sudah baligh atau mendekati baligh, dan juga karena jawabannya yang kurang ajar.
Ketiga, tentang jawaban Ibnu Shayyad yang menantang. Ketika Nabi ﷺ bertanya, "Apakah engkau bersaksi bahwa aku utusan Allah?", Ibnu Shayyad menjawab, "Tidak, tetapi engkau bersaksi bahwa aku utusan Allah." Ini adalah bentuk kesombongan dan penentangan yang sangat jelas. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa jawaban ini menunjukkan bahwa Ibnu Shayyad telah dikuasai oleh kesombongan dan pengaruh setan, sehingga ia berani menantang Nabi ﷺ dengan cara yang tidak sopan.
Keempat, tentang keinginan Umar untuk membunuhnya. Syaikh al-Utsaimin menjelaskan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu memiliki kepekaan yang tinggi terhadap kemungkaran dan ingin segera memberantasnya. Namun Nabi ﷺ melarangnya dengan alasan yang sangat dalam: jika Ibnu Shayyad memang Dajjal, maka tidak ada seorang pun yang mampu membunuhnya karena Allah telah menetapkan bahwa Dajjal akan hidup hingga waktu yang ditentukan. Ini menunjukkan bahwa takdir Allah tidak bisa diubah oleh usaha manusia.
Kelima, tentang hikmah larangan membunuh. Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa ada beberapa hikmah mengapa Nabi ﷺ melarang membunuh Ibnu Shayyad: (1) untuk menunjukkan bahwa urusan Dajjal adalah urusan Allah semata, (2) agar tidak terjadi fitnah yang lebih besar jika orang-orang mengira bahwa Dajjal telah dibunuh padahal sebenarnya belum, (3) sebagai ujian bagi umat untuk membedakan antara yang benar dan yang salah.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
"Rasulullah ﷺ bertemu dengan Ibnu Shayyad dan bersamanya Abu Bakar dan Umar. Saat itu Ibnu Shayyad sedang bermain dengan anak-anak. Nabi ﷺ bersabda kepadanya: 'Apakah engkau bersaksi bahwa aku utusan Allah?' Ibnu Shayyad menjawab: 'Ya, aku bersaksi bahwa engkau utusan Allah yang buta huruf.' Kemudian Ibnu Shayyad bertanya balik: 'Apakah engkau bersaksi bahwa aku utusan Allah?' Maka Nabi ﷺ marah dan bersabda: 'Aku berlindung kepada Allah dari kejahatanmu.' Kemudian Umar berkata: 'Wahai Rasulullah, izinkan aku membunuhnya.' Nabi ﷺ bersabda: 'Jika ia adalah Dajjal, maka engkau tidak akan mampu membunuhnya. Dan jika ia bukan Dajjal, maka tidak ada kebaikan bagimu untuk membunuhnya.'" (HR. Muslim no. 2925)
Kisah ini menunjukkan betapa besar kesabaran Nabi ﷺ dalam menghadapi orang yang menentangnya. Beliau tidak serta-merta memerintahkan pembunuhan, tetapi memilih untuk bersabar dan menyerahkan urusan kepada Allah. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita untuk tidak tergesa-gesa dalam mengambil tindakan, terutama ketika berhadapan dengan orang yang berbeda keyakinan.
Kesimpulan Praktis
- Berhati-hatilah dengan fitnah Dajjal — kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari fitnahnya dalam setiap shalat, sebagaimana diajarkan Nabi ﷺ dalam tasyahud akhir.
- Jangan tergesa-gesa menghakimi orang lain — Nabi ﷺ tidak langsung membunuh Ibnu Shayyad meskipun ia telah menunjukkan sikap yang kurang ajar. Ada hikmah yang lebih besar dalam kesabaran.
- Takdir Allah pasti terjadi — jika Allah telah menetapkan sesuatu, tidak ada yang bisa menghalanginya. Dajjal akan muncul pada waktunya, dan tidak ada seorang pun yang bisa mempercepat atau menundanya.
- Adab berbicara dengan Nabi ﷺ — hadits ini menunjukkan betapa buruknya sikap Ibnu Shayyad yang berbicara kasar kepada Nabi ﷺ. Kita harus menjaga adab terhadap para ulama dan orang yang lebih tua.
- Ilmu tentang tanda-tanda kiamat adalah bagian dari iman — mempelajari hadits-hadits tentang fitnah dan tanda kiamat akan meningkatkan kewaspadaan kita dan memperkuat keimanan kita kepada berita-berita gaib yang disampaikan Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.