Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira sekaligus peringatan keras dari Nabi ﷺ. Beliau meminta tiga hal kepada Allah untuk umatnya: agar tidak dibinasakan oleh kekeringan/kelaparan, tidak dibinasakan oleh tenggelam/banjir besar, dan tidak menjadikan permusuhan serta peperangan di antara mereka. Allah mengabulkan dua permintaan pertama, namun menolak yang ketiga. Ini menunjukkan bahwa ujian terbesar bagi umat Islam justru datang dari dalam diri mereka sendiri, yaitu perpecahan, permusuhan, dan saling menumpahkan darah. Ini adalah peringatan agar kita senantiasa menjaga persatuan dan menjauhi segala bentuk permusuhan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Fitan wa Asyrat As-Sa'ah (Fitnah dan Tanda-tanda Kiamat), Bab "Binasanya Umat Ini Sebagian Oleh Sebagian", nomor 2890. Perawinya adalah Amir bin Sa'd dari ayahnya, yaitu Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu.
Dalil Al-Qur'an yang Relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
"Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-A'raf [7]: 96)
Ayat ini menunjukkan bahwa keamanan dan keberkahan datang dari keimanan dan ketakwaan, sedangkan bencana dan perselisihan adalah akibat dari kemaksiatan dan kedustaan.
Kaitan dengan Ulama:
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "bajsuhum" (بأسهم) adalah peperangan dan permusuhan di antara mereka. Beliau menukil bahwa para ulama memahami hadits ini sebagai kabar tentang terjadinya peperangan di kalangan umat Islam, yang memang telah terjadi dan akan terus terjadi hingga hari kiamat.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Keutamaan Doa Nabi ﷺ untuk Umatnya
Nabi ﷺ sangat menyayangi umatnya. Dalam hadits ini, beliau memohonkan tiga perkara besar kepada Allah. Ini menunjukkan kedudukan mulia Nabi ﷺ dan kepedulian beliau yang luar biasa terhadap umatnya. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa doa Nabi ﷺ ini adalah bukti nyata kasih sayang beliau, sebagaimana firman Allah:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
"Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalanganmu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin." (QS. At-Taubah [9]: 128)
2. Makna "As-Sanah" (السنة) - Kekeringan dan Kelaparan
Yang dimaksud dengan "as-sanah" di sini adalah kekeringan yang menyebabkan kelaparan dan paceklik. Allah mengabulkan doa Nabi ﷺ ini, sehingga umat ini tidak akan pernah dibinasakan secara total oleh bencana kelaparan yang berkepanjangan. Meskipun sebagian umat bisa terkena musibah kelaparan, namun tidak sampai memusnahkan seluruh umat.
3. Makna "Al-Gharaq" (الغرق) - Tenggelam/Banjir Besar
Allah juga mengabulkan permintaan Nabi ﷺ agar umatnya tidak dibinasakan oleh tenggelam secara menyeluruh. Ini adalah rahmat besar, karena umat-umat terdahulu seperti kaum Nuh 'alaihis salam pernah dibinasakan dengan banjir besar yang menenggelamkan semuanya.
4. Permintaan yang Ditolak: "Bajsuhum" (بأسهم) - Permusuhan dan Peperangan
Ini adalah bagian yang paling penting. Nabi ﷺ meminta agar umatnya tidak saling memerangi, namun Allah menolak permintaan ini. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah ketetapan Allah yang penuh hikmah, yaitu agar terjadi pembeda antara yang jujur dan yang dusta, serta sebagai ujian kesabaran bagi orang-orang beriman.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa peperangan di antara umat Islam adalah fitnah yang telah dikabarkan oleh Nabi ﷺ. Maka kewajiban seorang muslim adalah menjauhi fitnah tersebut semampunya, tidak ikut serta dalam pertumpahan darah sesama muslim, dan berusaha mendamaikan di antara mereka yang berselisih.
5. Hikmah Ditolaknya Permintaan Ketiga
Mengapa Allah menolak permintaan ini? Karena dalam peperangan dan perselisihan itu terdapat hikmah yang agung, di antaranya:
- Membedakan yang jujur dan dusta: Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran [3]: 179 bahwa Allah tidak akan membiarkan orang-orang beriman bercampur dengan orang-orang munafik tanpa membedakan mereka.
- Mengangkat derajat para syuhada: Dengan adanya peperangan, muncullah orang-orang yang berjuang dan mati syahid di jalan Allah.
- Ujian kesabaran: Perselisihan adalah ujian bagi keimanan seseorang, apakah ia tetap sabar dan menjauhi pertumpahan darah, atau justru ikut terjerumus.
6. Pelajaran dari Masjid Bani Mu'awiyah
Nabi ﷺ masuk ke masjid Bani Mu'awiyah dan shalat dua rakaat di sana. Ini menunjukkan bahwa shalat adalah senjata utama seorang mukmin dalam menghadapi segala persoalan. Sebelum menyampaikan kabar tentang fitnah ini, beliau terlebih dahulu shalat dan berdoa dengan panjang kepada Allah. Ini adalah pelajaran berharga: ketika menghadapi masalah besar, kembalilah kepada Allah dengan shalat dan doa.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu, ayah dari perawi hadits ini, adalah salah satu sahabat yang sangat dicintai Nabi ﷺ. Beliau adalah orang ketujuh yang masuk Islam dan termasuk dalam sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.
Suatu hari, Nabi ﷺ bersabda tentang Sa'd: "Ini adalah pamanku, maka hendaklah setiap orang dari kalian memperlihatkan pamannya kepadaku." (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani). Ini menunjukkan kedekatan Sa'd dengan Nabi ﷺ.
Karena kedekatannya inilah, Sa'd meriwayatkan hadits-hadits penting seperti hadits di atas. Beliau menyaksikan langsung bagaimana Nabi ﷺ keluar dari daerah tinggi (Al-'Aliyah) menuju masjid Bani Mu'awiyah, shalat di sana, berdoa panjang, lalu menyampaikan kabar penting ini kepada para sahabat.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa para sahabat sangat antusias menyampaikan ilmu dan kabar penting dari Nabi ﷺ kepada generasi setelahnya. Mereka tidak menyembunyikan ilmu, meskipun kabar tersebut berisi peringatan keras tentang fitnah yang akan terjadi di kalangan umat Islam.
Kesimpulan Praktis
- Bersyukurlah karena Allah telah mengabulkan dua permintaan Nabi ﷺ untuk umat ini, yaitu terhindar dari kebinasaan total akibat kelaparan dan tenggelam.
- Sadarilah bahwa ujian terbesar umat ini adalah perpecahan dan permusuhan sesama muslim. Maka jauhi segala bentuk perpecahan, ghibah, hasad, dan permusuhan.
- Jaga persatuan dan ukhuwah Islamiyah. Jika terjadi perselisihan, upayakan ishlah (perdamaian) sebagaimana diperintahkan Allah dalam QS. Al-Hujurat [49]: 9-10.
- Jadikan shalat dan doa sebagai senjata utama dalam menghadapi segala masalah, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ dalam hadits ini.
- Jangan ikut serta dalam pertumpahan darah sesama muslim. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menekankan bahwa seorang mukmin harus berusaha menjauhi fitnah dan tidak menjadi bagian dari kerusakan tersebut.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.